JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Miris, Begitu Tahu Putrinya Ikut Jadi Korban Pencabulan Oknum Pelatih, Orangtua Salah Satu Siswi PSHT Sragen Sempat Nangis Gulung-Gulung

Dwi Puji Astuti. Foto/Wardoyo

IMG 20201211 WA0019
Dwi Puji Astuti. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus dugaan pencabulan 5 siswi perguruan silat persaudaraan setia hati terate (PSHT) asal Gondang Sragen oleh oknum pelatihnya berinisial T (58) menyisakan cerita miris.

Salah satu orangtua korban, langsung syok dan sempat menangis sejadi-jadinya ketika tahu putrinya ternyata menjsdi salah satu korban aksi bejat pelatih asal Desa Tegalrejo, Gondang itu.

Kisah pilu orangtua korban itu diungkap oleh Dwi Puji Astuti, salah satu kerabat dari korban berinisial DL (15). Ia mengatakan dari lima korban, mayoritas orangtuanya memang sangat terpukul atas insiden yang menimpa putri mereka.

“Bahkan kemarin ada salah satu orangtua korban yang sampai nangis gulung-gulung begitu tahu anaknya juga ikut jadi korban digitukan oleh pelaku. Dia nggak nyangka, anaknya diikutkan beladiri agar bisa membela diri, ternyata malah digitukan oleh oknum pelatih yang harusnya melindungi dan mendidik,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (11/12/2020).

Dwi juga mengungkap para orangtua korban juga menyayangkan tindakan pengurus yang sama sekali tak melibatkan atau mengajak rembugan orangtua atas insiden itu.

Termasuk saat para korban dikumpulkan dan diminta membuat surat pernyataan di hadapan pengurus, bahwa menganggap masalah sudah selesai dan tidak akan menuntut setelah kasus itu meledak ke publik.

“Rasane kados terpukul Mas (rasanya seperti terpukul Mas). Namanya anak perempuan digitukan (dicabuli), siapa yang terima. Saya minta dihukum seadil-adilnya dan seberat-beratnya. Hukum harus ditegakkan,” papar K (60), ayah salah satu korban berinisial DL (15) kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , seusai melapor ke Polres, Jumat (4/12/2020) lalu.

Baca Juga :  Kabar Duka Sragen, Sekretaris Dinas Pendidikan Firdaus SU Meninggal Dunia. Sempat Mengeluh Batuk-Batuk, Saat Dilarikan ke RSUD Tak Terselamatkan!

K yang masih bertetangga dengan terduga pelaku, sama sekali tak menyangka jika putrinya bakal mendapat perlakuan tak senonoh dari pelaku.

Pria yang berprofesi sebagai petani itu sangat berharap polisi bisa mengusut tuntas kasus itu. Kemudian pelaku bisa ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Senada, Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Solo, Dhony Fajar Fauzi mendorong agar kepolisian memberikan hukuman maksimal kepada T.

Sebab dari keterangan para korban, aksi cabul pelatih senior asal Desa Tegalrejo, Gondang, itu diduga sudah dilakukan bertahun-tahun kepada siswinya.

“Faktanya sejauh ini ada lima korban yang sudah memberikan keterangan ke penyidik. Bahwa perbuatan pelaku itu memang dilakukan sudah lama, berjalan lebih dari 1 tahun. Yang tiga korban sudah agak lama mengalami itu. Tadi saksi juga sangat kooperatif memberikan keterangan. Dia teman latihan dan sempat melihat korban memang dipanggil oleh pelaku saat malam kejadian,” papar Dhony kepada JOGLOSEMARNEWS.COM usai mendampingi korban dan saksi memberikan keterangan di Polres Sragen, Jumat (11/12/2020).

Lebih lanjut, Dhony menyebut pelaku layak diberikan hukuman maksimal. Sebab dalam kasus ini, ada hubungan antara guru dan murid sehingga secara UU, hukumannya bisa ditambah sepertiga lebih berat.

Baca Juga :  Berikut Daftar 63 Warga Sragen yang Positif Terpapar Covid-29 dan Meninggal Dunia Hari Ini. Jumlah Kasus Meroket Jadi 3.625 Positif, 5 Kecamatan Masih Terus Meledak!

Pertimbangannya, bahwa sebagai guru atau pelatih, pelaku harusnya melindungi dan mendidik dengan baik. Bukan malah sebaliknya menjerumuskan dan memperlakukan korban dengan tidak senonoh.

“Harus dihukum maksimal. Apalagi korban masih di bawah umur dan dampak dari kejadian itu, korban mengalami trauma psikis. Dari keterangan orangtuanya, kalau pas sendiri di rumah, korban sering merenung, marah-marah dan nangis sendiri,” urai Dhony.

Lebih dari itu, hukuman berat diharapkan bisa menjadi pembelajaran dan efek jera. Sebab menurutnya pencak silat adalah warisan leluhur bangsa yang tak boleh hilang hanya karena ulah seperti yang dilakukan pelaku.

“Jangan sampai orangtua-orangtua trauma dan akhirnya antipati wis nggak usah ikut toh jadinya malah seperti itu (jadi korban). Siapa lagi yang melestarikan silat kalau bukan generasi penerus,” tandasnya.

Dari keterangan korban sebelumnya, perbuatan bejat pelaku awalnya dilakukan kepada tiga siswi yang kini sudah menjadi warga, berinisial IN (16), IT (16) dan FB (16) saat mereka masih dilatih T.

Kemudian perilaku cabul itu berlanjut pada dua siswi terakhir yakni DL (15) dan EL (14). Dua siswi terakhir inilah yang membongkar semua aksi pelaku karena sudah tak tahan dicabuli tiga kali dalam semalam saat latihan pada akhir November lalu. Wardoyo