JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Ribuan Orang Lepas Jenazah Ustadz Muinudinillah Basri ke Pemakaman di Desa Blimbing. Inilah Sosok Ustadz Muin

ustadz muin
Ustadz Muinuddinillah Basri meninggal dunia dr RSUD dr.Moewardi Solo karena covid-19, Selasa (8/12/2020). Istimewa

 

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ribuan orang turut melayat almarhum ustadz Muinudinillah Basri, Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Rabu (9/12/2020) pagi. Mereka juga rela mengantarkan jenazah almarhum hingga ke pemakaman.

Para pelayat tumpah ruah di Masjid Iska, Mayang, Gatak, Sukoharjo, Jateng, tempat jenazah disholatkan sebelum dimakamkan di pemakaman muslim Arrahmah yang terletak di Desa Blimbing, Kecamatan Gatak, Sukoharjo.

Mereka yang mengenal almarhum, berdatangan ke Masjid Iska sejak pagi. Sesuai jadwal, jenazah akan dimakamkam pukul 08.30. Namun sesuai dengan protokol pemakaman jenazah yang terkena Covid-19 maka harus dipercepat sehingga sebelum jam 08.00 jenazah sudah diberangkatkan menuju pemakaman dengan ambulance serta petugas dari RSUD dr. Moewardi.

Saat mengantar jenazah almarhum, ribuan orang ada yang berjalan kaki dan juga mengendarai sepeda motor. Arak-arakan menuju pemakaman belangsung padat dan mencapai hingga dua kilometer.

Pergaulan yang luas Muinudinillah selama masih hidup , membuat almarhum banyak dikenal di kalangan masyarakat. Selain sebagai Ketua DSKS yang banyak jemaahnya, Ustadz Muin –begitu ia akrab disapa-  juga aktif di sejumlah ormas yang lain.

Ia juga seorang dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan mengelola sejumlah pondok pesantren. Tak hanya itu, Ustadz Muin juga malang melintang berdakwah mengisi berbagai majlis taklim di berbagai tempat. Hal itulah yang membuat sosok ini banyak dikenal dan pengikut.

Ustadz Muin meninggal dunia di RSUD dr. Moewardi Surakarta, Selasa (8/12/2020) malam. Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Abbas Klaten tersebut sempat dirawat di rumah sakit selama tiga pekan terakhir. Ustad Muin meninggal dunia setelah terpapar Covid-19.

Baca Juga :  Siap-siap, Pemkot Solo Bakal Perpanjang PPKM, Tapi Sebelumnya Akan Lakukan Ini

Humas DSKS, Endro Sudarsono membenarkan kabar meninggalnya Ketua DSKS tersebut karena Covid-19. Menurutnya, Ustadz Muin semula dirawat di RS PKU Muhammadiyah, kemudian dirujuk ke RSUD dr Moewardi Solo karena kondisinya memburuk. “Beliau meninggal dunia di RSUD dr Moewardi Solo sekitar pukul 19.15 WIB,” ujarnya, Rabu (9/12/2020).

Hendro menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Ustadz Muin meninggal dunia akibat terpapar virus Corona. “Saya mendapatkan kabar tersebut dari Ponpes asuhan beliau. Setalah itu, seluruh santri dipulangkan dari Ponpes Ibnu Abbas,” imbuh Endro.

Selama dirawat di RSUD dr Moewardi, kata Hendro, Ustaz Muin masih aktif memberikan dakwah melalui media sosial. “Terakhir kali, dia melakukan siaran langsung lewat Facebook untuk memberi wejangan kepada jemaah,” tukas Endro.

Muinudinillah Basri lahir pada 15 Juni 1966. Ayahnya adalah seorang dai yang bernama Mohammad Basri. Tambahan nama Basri dibelakang Muinudinillah diambil dari nama ayahnya. Jiwa seorang dai yang ada di diri Ustad Muin merupakan warisan dari ayahnya. Ketika Muin duduk di bangku kelas satu madrasah tsanawiyah atau setingkat SMP, ayahnya meninggal dunia.

Mohammad Basri adalah keturunan KH. Imam Rozi, pendiri pesantren Singo Manjat, Tempursari, Klaten. Kiai Imam Rozi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Ageng Kenongo. Saat usia 24 tahun, Imam Rozi bergabung dengan Pangeran Diponegoro berperang menentang penjajah Belanda, bersama Kiai Mojo dan para pejuang lainnya.

Bahkan, Imam Rozi akhirnya menikah dengan RA Sumirah, saudara sepersusuan Pangeran Diponegoro. Kemudian, oleh Pangeran Diponegoro, ia diangkat sebagai manggala yudha atau panglima perang dan sebagai penghubung antara Pangeran Diponegoro dan Paku Buwono VI Surakarta. Imam Rozi memiliki 4 orang istri dan Muinudinillah terhubung sebagai salah satu keturunannya.

Baca Juga :  50 Warga Soloraya Korban Gempa Mamuju Sulbar Dipulangkan

Muin memiliki delapan saudara. Ia menghabiskan masa sekolahnya, dari SD sampai SLTA di Solo. Lulus sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri Solo, Muin ingin sekali melanjutkan kuliah. Namun terbentur biaya. Ia mendapat informasi bahwa di Jakarta ada universitas yang gratis dan memberikan beasiswa, yaitu LIPIA. Akhirnya, ia mendaftar dan diterima.

Lulus dari LIPIA tahun 1996, ia sempat mengajar di ma’had Al-Hikmah di Jakarta. Tak lama mengajar, ada informasi dari pihak kampus bahwa alumni LIPIA yang mendapat rangking 1 sampai 5 mendapat kesempatan melanjutkan studi S2 ke King Ibnu Saud, Arab Saudi. Sayangnya, sewaktu hendak berangkat, meletus perang Irak-Kuwait sehingga ditunda berangkat.

Setahun kemudian, ia bersama keempat kawannya berangkat dengan beasiswa penuh dari pemerintah Saudi. Muin merampungkan kuliah S2 tahun 2002. Setelah itu ayah tujuh putra ini melanjutkan S3 tanpa tes di universitas yang sama.

Muin juga mendirikan forum komunikasi antar ulama atau dai yang diberi nama Fujamas. Dalam forum ini berbagai golongan, partai, ormas Islam, bisa berkumpul bersama-sama memikirkan dakwah Islam. Forum ini untuk mewujudkan peran strategis masjid sebagai basis dakwah, pembinaan, dan konsolidasi umat. Lewat forum ini diharapkan upaya-upaya perusakan iman dan akidah bisa diantisipasi. (Syahirul)