JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah

Tak Ada Jembatan, Warga di Gresik Hanyutkan Keranda Jenazah Menyeberangi Sungai untuk ke Makam

Tangkapan layar video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga membawa keranda jenazah menyeberangi sungai dengan cara dihanyutkan di Gresik. Foto: Instagram

GRESIK, JOGLOSEMARNEWS.COM Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah warga menggotong keranda jenazah menyeberangi sungai dengan cara dihanyutkan.

Diketahui bahwa peristiwa itu terjadi di Dusun Gorekan Lor, Desa Cermenlerek, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Warga dusun terpaksa membawa keranda berisi jenazah salah seorang warga dengan cara dihanyutkan demi menuju tempat pemakaman karena tidak ada jembatan untuk menyeberangi sungai.

Tampak dalam video sejumlah warga bergotong royong menyeberangkan jenazah yang sudah ditempatkan dalam keranda dengan menggunakan rakit dari ban bekas.

Advertisement

Melansir dari Liputan6.com, jenazah yang dibawa warga adalah jenazah Nenek Kasti, warga RT 6/RW 12, yang meninggal di usia 70 tahun pada Rabu (2/12/2020) lalu. Warga membawa jenazah Nenek Kasti menyeberangi anak Kali Lamong untuk menuju lokasi pemakaman.

Keponakan mendiang, Suwono, membenarkan video yang sempat viral tersebut. Dikatakannya, hal itu terpaksa dilakukan lantaran sudah sejak lama tidak ada jembatan yang bisa digunakan untuk menyeberangi anak sungai.

“Ya terpaksa harus dihanyutkan untuk menyeberang ke anak Kali Lamong, karena tidak ada jembatan. Kondisi ini sudah terjadi bertahun-tahun,” ujarnya dikutip Liputan6.com dari Times Indonesia.

Menurut Suwono, di Dusun Gorekan Lor ada dua lahan pemakaman, satu berada di dekat dusun, sementara satu lahan lainnya ada di seberang sungai. Namun di musim penghujan, lahan makam di dekat dusun tidak bisa dimanfaatkan untuk memakamkan warga yang meninggal karena jika digali akan selalu keluar air dari tanah hingga menggenangi lubang makam.

Baca Juga :  Tiduri Anak Tersangka dengan Janji Bebaskan Ayahnya, Kapolsek Parigi Mountong Terancam Dipecat

Sehingga mau tidak mau, saat ada warga yang meninggal di musim penghujan, maka akan dimakamkan di lahan makam di seberang sungai dan cara membawanya adalah dengan cara dihanyutkan.

“Makanya, kalau warga Gorekan Lor meninggal pada musim hujan dan anak Kali Lamong meluap ya pemakaman harus nyeberang anak Kali Lamong dengan cara dihanyutkan dengan ban bekas. Kondisi ini sudah terjadi bertahun-tahun,” ujar Suwono.

Lahan Makam Baru

Warga setempat, lanjutnya, sudah pernah meminta kepada pemerintah daerah setempat untuk membangunkan jembatan di dusun mereka. Namun permintaan mereka tidak kunjung terpenuhi.

Atas fenomena tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Pemkab Gresik, Gunawan Setijadi menuturkan, peristiwa serupa pernah terjadi pada awal tahun 2019. Pemkab Gresik telah memberikan solusi untuk membeli lahan makam baru seluas 3.000 meter persegi.

“Kalau membangun jembatan sangat tidak optimal, baik dari segi biaya maupun peruntukannya. Jembatan tersebut hanya sebagai akses jalan untuk jalur pemakaman saja. Jadi sangat tidak efektif dibanding biaya pembangunannya,” tutur Gunawan.

Baca Juga :  Usai Bicara Bisnis di Gazebo, 2 Pria Gowa Ini Tewas Disambar Petir, Seorang Terpental

Pembelian lahan tersebut sudah dianggarkan dan akan direalisasikan pada tahun anggaran 2020. Namun karena pandemi Covid-19, rencana pembelian lahan untuk makam tersebut tertunda.

“Kami akan berkoordinasi dengan beberapa OPD untuk segera merealisasikan pembelian tanah makam tersebut. Tampaknya tanah tersebut sudah disiapkan,” ujar Gunawan.

Tidak Menjamin

Kendati pemerintah setempat telah memberikan solusi membeli lahan makam baru, namun warga Dusun Gorekan Lor tetap tidak bisa menjamin tidak akan ada lagi jenazah warga yang diseberangkan dengan cara dihanyutkan di anak Kali Lamong.

Pasalnya, terkadang ada warga yang tetap menghendaki keluarga mereka dimakamkan di lahan makam di seberang sungai karena ingin dimakamkan di dekat mendiang keluarga yang lain.

“Bila masyarakat Gorekan Lor tetap menginginkan agar jenazah keluarganya bisa kumpul di makam keluarga, kami tidak bisa melarang. Mereka tetap tidak bersedia untuk memakamkan keluarganya di tempat lain, meskipun pihak terkait warga desa tetangganya sudah mengizinkan. Kami sudah sering memberikan sosialisasi tentang hal ini,” ujar Camat Kedamean, Arifin. Liputan 6