JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Sastra

Menggali Ide Cerpen Itu Mudah, Ini Tipsnya!

Pixabay

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ide menulis cerpen sebenarnya mudah dicari. Jika diminta membuat cerpen secara spontan, sering kali kita menjadi bingung. Mau buat cerpen apa? Itu baru tahap mencari ide. Kalau ide sudah ketemu, masalah lainnya muncul, bagaimana mengawali menulis cerpen?

Tapi tak perlu bingung. Ide cerpen tidak hanya ditunggu, tapi harus diburu. Ide cerpen tidak akan datang dengan sendirinya di kepala kita, tapi harus dicari dan digali.

Sebagaimana diketahui, menulis dan membaca merupakan sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Orang yang suka membaca dan bahan bacaannya bervariasi, maka karya yang dihasilkannya akan lebih berbobot. Tidak kering dan dangkal. Nah, ini beberapa tips menggali ide cerpen:

 

Banyak Membaca

Hampir sama dengan membuat berita bagi jurnalis, banyak membaca juga bisa mendatangkan ide menulis cerpen. Cerpen memang merupakan tulisan fiksi atau fiktif. Bukan kenyataan. Tapi, ide cerpen dapat digali dari fakta yang terjadi di sekitar kita.

Nah, kalau kita banyak membaca apa saja, koran, majalah, atau buku, saya yakin ide cerpen itu beterbangan di sekitar kepala kita. Tinggal bagaimana kita menangkap ide tersebut, mengikatnya, kemudian mengembangkannya menjadi sebuah cerita.

Membaca karya orang lain pun bisa memunculkan ide cerpen baru, untuk menjadi cerpen yang lebih bagus. Beberapa kali hal ini saya alami.

Cerpen berjudul Belenggu yang ada dalam antologi Romansa (2005), saya bikin setelah saya membaca cerpen di sebuah koran Jakarta.

 

Menonton Televisi atau Bioskop

Menonton televisi atau biskop pun bisa memunculkan ide cerpen. Di televisi, apapun jenis acaranya, tetap saja bisa memunculkan ide sebuah cerpen. Baik itu berita (news), acara hiburan dan lain-lain, dapat memunculkan ide cerpen. Menonton   sinetron picisan pun sebenarnya dapat memunculkan ide cerpen.

Menonton film di bioskop bisa memunculkan sebuah ide cerpen. Bisa terjadi, dalam rangkaian film tersebut ada satu fragmen yang menyentuh hati, hingga memunculkan ide cerita baru.

 

Mengobrol Bisa Muncul Ide Cerpen

Anjuran untuk mengobrol ini boleh jadi terlalu lebay. Karena, pada dasarnya orang biasanya senang mengobrol dengan orang lain. Dengan saudara, sahabat, teman-teman maupun dengan orang-orang yang  baru dikenalnya.

Dalam aktivitas ngobrol, bisa jadi kita memang tidak bertujuan untuk mencari ide cerpen. Tapi, pada titik tertentu, selalu akan muncul celah atau loncatan pikiran yang menarik untuk dijadikan cerpen.

Ini pernah pula terjadi pada saya. Suatu ketika kami para wartawan sedang mengobrol di kantor Humas Pemprov DIY. Saat itu akhir bulan Februari. Sampai suatu ketika, obrolan menyinggung soal Kartini. Soal emansipasi.

Nah, saat itulah muncul ide untuk menulis cerpen tentang emansipasi. Cerpen itu tetap saya beri judul Emansipasi, dan akhirnya berhasil dimuat di koran Solopos. Cerpen itu terhimpun dalam antologi Romansa (2005).

 

Mengalami Peristiwa

Ide cerpen juga bisa muncul karena penulis benar-benar mengalami sebuah peristiwa yang menyentuh hati. Bila ide cerpen muncul dari pengalaman sendiri, biasanya akan lebih menyentuh hati.

Membuat cerpen dari pengalaman sendiri ini memang paling mudah dilakukan. Mengapa, karena si tokoh utamanya adalah kita sendiri. Kita yang mengalami kejadian atau peristiwa. Tidak ada jarak antara si penulis cerita dengan si tokoh utama dalam cerita. Kedekatan seperti ini yang memudahkan orang menulis cerpen.

Membuat cerpen dengan tokoh dirinya sendiri, tak ubahnya sedang menulis diary atau buku harian. Karena itu, tidak heran banyak penulis cerpen pemula berangkat dari peristiwa yang dialaminya sendiri.

Begitupun yang saya alami. Cerpen pertama saya yang dimuat di tabloid Mutiara, Jakarta berjudul Sebuah Harga Diri. Cerpen ini saya buat berdasarkan kisah pribadi. Demikian pula cerpen Wesel (tabloid Mutiara) dan cerpen Seorang Sahabat yang dimuat di tabloid Cempaka, Semarang, semuanya berangkat dari kisah yang saya alami.

 

Dari Peristiwa Orang Lain

Nah, kalau kita sudah terbiasa menulis cerpen, pelan-pelan kita bisa melepaskan diri dari pengalaman pribadi. Kita bisa mengambil ide cerita dari kejadian yang dialami orang lain.

Apakah boleh menuliskan cerita dari kejadian orang lain? Etiskah? Jawabannya boleh. Tak perlu takut. Mengapa, karena ini adalah menulis fiksi atau fiktif. Meski berangkat dari dunia nyata, namun produk yang kita hasilkan adalah fiksi.

Tapi tentu ada caranya agar karya kita tidak diprotes oleh yang bersangkutan. Pertama, nama orang kita ganti dengan nama lain, dan kedua, kisahnya perlu kita olah, kita ramu dengan imajinasi yang kita miliki.

Ibaratnya, peristiwa yang dialami orang lain itu sebagai bahan baku. Nah, bahan baku agar menjadi ramuan yang siap hidang perlu diolah dan diramu dengan bumbu-bumbu yang lain agar menjadi sedap.

Saya pernah menulis kisah tetangga saya dalam cerpen berjudul Rumah, yang dimuat di koran Bernas, Yogyakarta. Nama tokohnya saya ganti, konflik ceritanya saya tajamkan dan kembangkan. Itu adalah kejadian tetangga saya, dan yang bersangkutan tidak tahu sampai sekarang. Mengapa, karena alur ceritanya dan berikut identitasnya sudah berbeda. Fakta dalam hal ini hanya menjadi pemantik lahirnya sebuah fiksi.

Cerpenis kawakan Seno Gumira Ajidarma banyak menulis cerita fiksi berdasar kisah nyata di Timor Timur (kini Timor Leste). Cerpen-cerpen itu dihimpun dalam antologi cerpen Saksi Mata. Apakah dia kena bredel pemerintah? Tidak, karena wujudnya fiksi. Bukan lagi fakta.

Beberapa saat kemudian, Seno menerbitkan buku berjudul Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Bicara. Ini menunjukkan bahwa karya cerpen merupakan salah satu sarana yang efektif dan aman untuk melakukan kritik pada penguasa Orde Baru ketika itu. Mengapa, karena bungkusnya adalah fiksi.

 

Mereka-reka Cerita

Ini adalah pengalaman yang saya lakukan saat menjadi wartawan di harian Bernas. Setiap malam hari, setelah selesai menulis berita di kantor, Jalan Jenderal Sudirman (kini sebelah barat Gramedia Yogyakarta), saya memejamkan mata.

Dalam diam, saya membayangkan apapun yang berseliweran di kepala sampai kemudian nyantol sesuatu yang ngeh, dan menarik untuk dibuat cerita.

Jika ide cerita muncul spontan, itu lebih mudah. Maka ini adalah cara yang saya lakukan ketika saya tidak mempunyai ide cerita yang nongol secara sengaja.

Dengan cara ini, memang saya beberapa kali berhasil menelorkan cerpen berjudul Peti Mati, dan lucunya, sebulan kemudian cerita itu dimuat di majalah sastra Horison, Jakarta.

Dalam kondisi diam, terlintas di kepala saya penjual batu nisan di kampung saya, Gunungkidul. Nyut… tiba-tiba saya merasa ngeh dengan penjual nisan. Dari situ saya berhasil merangkai sebuah konflik cerita tentang penjual batu nisan, hingga kemudian lahirlah cerpen Peti Mati tersebut.

Cara yang sama juga berhasil melahirkan cerpen berjudul Impian Ibu yang dimuat di majalah Kartini.

 

Strategi Tiga Kata

Cara yang lain yang pernah saya lakukan adalah dengan menggunakan strategi Tiga Kata Ajaib. Wouw.. dan cara ini terbukti cukup cespleng.

Dalam bukunya Creative Writing, cerpenis kawakan, AS Laksana mengajurkan tips ini ketika kita sedang dalam keadaan darurat, alias tak punya bayangan ide apapun.

Caranya adalah dengan menentukan tiga kata secara acak. Dari kata itulah kita memulai sebuah kalimat terus menerus sampai menyambung ke kata kedua dan ketiga. Dari situlah ide cerita itu akan muncul secara ajaib.

Dan uniknya, pada titik tertentu kita akan tahu ternyata gerakan spontan itu bisa melahirkan sebuah ide cerita. Ini pernah saya alami saat menulis cerita anak berjudul Puteri Mawar dan dimuat di koran Suara Merdeka.

Pada saat yang lain, saya dilapori penanggung jawab rubrik mingguan, bahwa stok cerita anak kosong. Spontan saya minta: berikan saya tiga kata sembarang.

Lalu, dari tiga kata itu saya merangkai kalimat demi kalimat hingga menyambung. Dan jadilah sebuah cerita yang dimuat di koran Joglosemar Minggu.

 

Mengurung Diri

Mengurung diri? Benar dan ini tidak main-main. Maksud dari  mengurung diri adalah mengasingkan diri untuk beberapa saat dari keramaian. Menarik dari dari keramaian untuk melakukan perenungan atau istilah gampangnya, mengumbar imajinasi.

Contoh yang paling gampang adalah toilet. Ini juga bukan gurauan. Toilet bisa menjadi sumber inspirasi bagi seorang penulis. Mengapa? Dalam kondisi terkurung di tempat yang sempit, seseorang tak dapat melakukan aktivitas apapun.

Dalam kondisi seperti itu, imajinasi dan pikiran justru bisa liar ke sana kemari. Di situlah sering muncul ide-ide cerita atau tulisan.  Boleh percaya boleh tidak, konon, pengaran sekaliber AA Navis pun gemar nongkrong di toilet untuk mendapatkan ide cerita.

Untuk era sekarang, Novelis Han Gagas juga mengaku pernah “mengurung diri”, memutuskan hubungan dengan pihak luar dalam periode waktu tertentu. Pada saat itu, dia konsen untuk melakukan permenungan dan penggalian data mengenai segala hal tentang orang-orang gila.

Ternyata, hasilnya luar biasa! Dia berhasil menelorkan beberapa novel yang berlatar belakang orang-orang gila. Bahkan, berita terkini, novelnya berjudul Balada Sepasang Kekasih Gila berhasil lolos dalam ajang bergengsi, yakni seleksi kompetisi Falcon Script Hunt 2020.

 

Penjara Menjadi Sumber Ide

Masih ada kaitannya dengan kondisi terkurung, selain toilet adalah penjara. Ya, penjara. Jika di toilet seseorang hanya menarik dari dari keramaian beberapa menit atau beberapa jam, di penjara hitungannya tahun.

Bagi orang yang telah memiliki insting menulis, penjara merupakan sumber yang tiada habisnya untuk berkarya. Ini bukan berarti saya berharap kita melakukan aksi kriminal agar masuk penjara demi bisa menulis. Bukan. Masih banyak cara bisa ditempuh tanpa harus masuk penjara.

Saya hanya ingin bercerita, dalam kondisi terkurung, terpisah dari keramaian dan tak ada yang dapat kita kerjakan, orang yang pada dasarnya memiliki insting menulis semakin mudah menyalurkan hasratnya menulis.

Salah satu contohnya adalah penulis legendaris Pramudya Ananata Toer. Selama dalam pengasingan di Pulau Buru, dia berhasil menelorkan buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Dan masih banyak karya lainnya.

Arswendo Atmowiloto juga demikian. Saat berada di dalam penjara karena terjebak kasus penistaan agama, dia justru berhasil menyelesaikan  novel. Bahkan, beberapa tokoh lain yang bukan penulis, begitu berada di dalam penjara, muncul keinginan untuk menulis.

Salah satunya adalah mantan Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Selama di dalam penjara, dia menulis buku non fiksi berupa kebijakannya selama memimpin DKI.

Dari sekian point yang ada, satu kesimpulan bisa ditarik, yaitu ide cerpen bisa muncul kapan saja dan di mana saja. tergantung bagaimana kita peka untuk menggali atau menangkapnya, lalu menajamkannya.

Nah, tunggu apa lagi? Ayo segera dicoba! (*)

Hamdani1 aHamdani MW

Jurnalis dan Penulis

Bisa dikontak di [email protected]

WA: 082328048189