JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Awas, Merapi Makin Kritis, Erupsi Eksplosif Bisa Terjadi Setiap Saat!

Penampakan Gunung Merapi Desa Candibinangun, Pakem dan Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (28/11/2020) / tribunnews

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM -Setelah ditetapkan status siaga sekitar bulan lalu, akhirnya  Gunung Merapi dinyatakan memasuki fase erupsi yang ada kemungkinan besar diikuti erupsi eksplosif.

Karena itu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) meminta pemerintah kabupaten yang mengelilingi Gunung Merapi, meliputi Sleman, Boyolali, Magelang dan Klaten untuk lebih bersiaga.

“Kami minta pemerintah empat kabupaten mempersiapkan segala sesuatu untuk mitigasi bencana karena sekarang erupsi eksplosif bisa terjadi setiap saat,” ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, Selasa (5/1/2021).

Selain itu, BPPTKG juga meminta seluruh aktivitas penambangan material di wilayah Kawasan Rawan Bencana III juga dihentikan dan tidak ada kegiatan wisata maupun pendakian. Status Gunung Merapi sendiri tetap Siaga atau level III.

Baca Juga :  Gunung Merapi Siaga Erupsi, Ini Kondisinya

Sebelumnya guguran lava pijar Gunung Merapi teramati pada Senin petang 4 Januari 2021 diikuti dengan temuan gundukan di permukaan kawah gunung itu.

Teramati melalui citra satelit, gundukan itu diduga kuat material baru Gunung Merapi, meskipun sempat ikut longsor bersama material lama saat lava pijar muncul. “Secara teknis, Gunung Merapi saat ini sudah memasuki fase erupsi 2021,” kata Hanik.

Hanik mengatakan guguran lava pijar pada Senin petang tak berhasil dipastikan berapa kali terjadi karena tutupan kabut. Sedangkan soal gundukan baru yang muncul, BPPTKG menduganya kubah lava 2021 alias material magma baru yang tertutupi material lama.

Baca Juga :  Rabu Dini Hari, Gempa Magnitudo 5,0 Getarkan Gunung Kidul. Netizen Laporan di Medsos, BMKG Sebut Tidak Berpotensi Tsunami

Hanik menambahkan, proses erupsi Gunung Merapi saat ini masih tahap awal, yang mengindikasikan ekstruksi magma yang akan terjadi masih tinggi. Acuannya adalah data seismik dan deformasi gunung itu.

“Fenomena erupsi Merapi kali ini memang agak berbeda dengan erupsi 2006, karena saat itu ketika sudah muncul kubah lava, deformasi sudah berhenti, gempa dangkal (VB) juga menurun, namun gempa MP (multi phase) nya saat itu meningkat,” ujar Hanik menguraikan.

Hanik mengatakan magma Merapi saat ini sudah terakumulasi di bawah permukaaan yang kemudian memicu rekahan. Sedangkan material baru yang muncul ada di bibir ujung kawah 1997 bagian barat daya sehingga saat muncul langsung runtuh ke bawah.

www.tempo.co