JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kasus Mahasiswi Masaran Sragen Diduga Bandari Penipuan Arisan Online Miliaran Rupiah, Polres Langsung Periksa Sejumlah Saksi. Sebut Sudah ada 6 Anggota Lapor, Ternyata Korbannya dari Sragen, Solo hingga Klaten!

Kasubag Humas Polres Sragen, Iptu Suwarso. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Polres Sragen memastikan sudah menerima laporan kasus dugaan penipuan berkedok arisan online “By Wida” yang digawangi seorang mahasiswi asal Masaran, Sragen, berinisial MI (19).

Sebanyak 6 korban sudah melaporkan kasus penipuan arisan bodong itu ke Polres dengan kerugian yang dialami mereka dilaporkan mencapai Rp 67 juta.

Hal itu diungkapkan Kapolres Sragen AKBP Yuswanto Ardi melalui Kasubag Humas Polres, Iptu Suwarso, Kamis (7/1/2021). Ditemui di ruang kerjanya, Suwarso mengatakan sudah menerima laporan kasus dugaan peniouan arisan online yang disebut-sebut merugikan ratusan anggota hingga miliaran itu.

Laporan masuk ke Polres sekitar bulan November 2020 lalu. Menurutnya, laporan juga langsung ditindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan oleh Tim Satreskrim Polres.

“Benar, memang sudah masuk laporannya. Saat ini masih ditangani Satreskrim. Ada enam korban yang melapor dengan kerugian Rp 67 juta,” paparnya.

Iptu Suwarso menjelaskan tim juga sudah meminta keterangan terhadap enam korban. Termasuk data-data perihal arisan online yang disebut digawangi oleh mahasiswi asal Pringanom, Masaran tersebut.

“Untuk perkembangannya nanti menunggu proses lebih lanjut dari Tim Reskrim yang menangani,” terang Kasubag Humas.

Ia menambahkan dari 6 korban yang melapor, berasal dari beberapa wilayah. Ada yang dari Sragen, Klaten, Solo dan sekitarnya.

“Yang jelas korban yang melapor ini campuran dari beberapa daerah. Ini masih dilakukan pemeriksaan saksi-saksi,” tukasnya.

Sebelumnya diberitakan mahasiswi berinisial MI (23) itu dilaporkan ke Polres Sragen karena diduga menjadi otak penipuan berkedok arisan online.

Tak tanggugg-tanggung, korban dari aksi penipuan arisan sistem menurun itu disebut lebih dari 500 orang. Mereka tersebar di berbagai wilayah di Sragen dan Solo Raya.

Nominal uang setoran anggota yang diduga dilarikan atau digelapkan MI juga tak sembarangan. Sebab angkanya mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

Kasus itu terbongkar setelah beberapa korban melaporkan kasus itu ke Polres Sragen. Data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM , laporan dugaan penipuan arisan online itu dilaporkan ke Polres Sragen pada awal November 2020 lalu.

Namun kasus itu baru meledak dan mencuat ke publik setelah para korban mengirim karangan bunga berisi kalimat sadis sindiran ke mempelai yang tak lain adalah kakak dari mahasiswi terduga pelaku penipuan pada 23 Desember 2020 lalu.

Baca Juga :  10 Pengepul Anjing di Sragen Terlacak Berdomisili di Gemolong dan Plosokerep. 2 Pengepul Sudah Tobat, Anjingnya Didatangkan dari Jabar dan Jatim, Dijual Rp 200-300.000
IMG 20210107 024505
Karangan bunga yang viral di pesta pernikahan warga Masaran Sragen. Ternyata dikirim dari member grup arisan online yang merasa tertipu jadi korban adik mempelai. Foto/Istimewa

Salah satu member arisan yang juga korban, Irene Junitasari (21) mengatakan arisan online yang dikelola MI bernama arisan By Wida. Arisan online itu dirintis sejak awal 2020 dan beranggotakan lebih dari 500 orang dari berbagai daerah di Solo Raya.

“Anggotanya banyak sekali dari berbagai wilayah di Solo Raya. Ada 3 grup WA, satu grup saja anggotanya 150 member lebih,” papar Irene kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (7/1/2021).

Miliaran Rupiah, Ratusan Korban 

Ia menguraikan arisan itu digelar sistem menurun. Menurutnya setorannya bervariasi. Mulai dari Rp 500.000, Rp 1 juta, Rp 2 juta, Rp 5 juta, Rp 20 juta hingga Rp 50 juta.

Tak hanya arisan, MI juga menawarkan investasi online dengan bagi hasil menggiurkan. Sebagian member arisan juga ikut investasi dengan nominal puluhan juta.

Irene sendiri menyebut tertarik ikut anggota arisan dari saudaranya asal Tanon, Sragen. Ia dan saudaranya sudah setor hampir Rp 17 juta lebih. Namun sejak ikut awal hingga kemudian macet di tengah jalan, belum sepeser pun uang kembali.

“Arisannya baru dirintis tahun 2020 ini. M yang nggalang sendiri. Dia buka grup dan menawarkan dengan nama Arisan By Wida. Arisannya menurun, ada juga yang investasi. Macam-macam nominalnya sampai setoran Rp 50 juta ada. Arisan menurun itu yang paling bawah paling untung, yang atas yang rugi,” terang Irene.

Lebih lanjut, perempuan muda yang berprofesi wirausaha asal Ngrampal itu menuturkan M diketahui masih kuliah. Rata-rata tergiur ikut arisan dan investasi karena iming-iming keuntungan yang menjanjikan.

Awalnya tidak ada yang mencurigakan. Satu dua bulan berjalan arisan berputar apa wajarnya.

Namun situasi berubah ketika medio 2020, tiba-tiba arisan mulai seret. Putaran tak kunjung dijalankan padahal setoran anggota jalan terus. Hingga akhirnya gelagat ketidakberesan itu akhirnya terbongkar ketika si bandar arisan mendadak mengunci grup.

“Saat mulai macet, member mulai was-was dan menanyakan kejelasannya. Anehnya dia malah tiba-tiba grup WA member dikunci dan member dikeluarkan satu persatu. Padahal banyak yang belum dapat (arisan),” terang Irene.

Melihat gelagat tak beres, anggota pun mulai was-was karena setoran belum dibayar. Beberapa perwakilan member kemudian mencoba menghubungi M menanyakan kejelasan dan uang arisan.

Baca Juga :  Innalillahi, Kapolsek Plupuh Sragen Kompol Marsidi Ternyata Meninggal Karena Positif Terpapar Covid-19. Sempat Alami Batuk Disusul Sesak Nafas Hebat

Namun pertanyaan itu selalu dibalas dengan jawaban bahwa uang sudah nggak ada. Bahkan M berkelit bahwa dirinya juga rugi karena uangnya ikut ketilep.

“Kalau ditanya selalu njawab uangnya nggak ada, katanya uangnya diblandangke ke sini ke sini dan dia ngakunya juga rugi. Nggak nalar saja, kok bisa rugi karena uang itu setoran. Kalau dia rugi seharusnya kan nggak pakai uang member. Lha katanya rugi tapi malah mbangun ruko dan beli mobil. Sudah tahu uang member harusnya didiamkan, bukan malah dibuang keluar. Alasannya selalu itu. Padahal kami yakin itu yang dipakai uang member, wong dia kerja juga belum dan masih kuliah,” tukasnya kesal.

Perwakilan anggota sudah lima kali mendatangi M dan mencoba meminta pertanggungjawaban. Namun tiap kali ditemui, M selalu menghilang. Bahkan ketika dihubungi dan ditanya via WA, sudah tak mau membalas.

Karena sudah capek dan kesal tak ada itikad baik, akhirnya anggota sepakat untuk menempuh jalur hukum dengan melapor ke Polres Sragen pada 9 November lalu.

“Kami yang melapor ke Polres Sragen ada 7 orang perwakilan korban. Kami menggandeng pengacara Pak Henry Sukoco. Karena kami sudah capek, sebenarnya kami nggak mau proses hukum. Tapi dari awal sama sekali nggak ada itikad baik dari dia (M) untuk mau tanggungjawab. Sebenarnya kami hanya minta hak yang kami yang belum kembali. Itu saja,” tandasnya.

Selain dilaporkan ke Polres Sragen, M juga dilaporkan oleh korban-korban dari Solo ke Polres Solo. Menurut Irene, laporan di Solo dilakukan oleh lebih banyak korban, juga dengan menggandeng pengacara.

Pihaknya berharap jalur hukum bisa memberi keadilan dan uang para korban bisa kembali. Sebab total uang yang diduga ditilep M mencapai angka miliaran rupiah.

“Kemarin orangtuannya sendiri yang bilang ke warga tetangganya sana (Masaran). Bilangnya paling nggak ada Rp 350 juta nggak papa tak tutupnya. Ternyata ndelalah rasan-rasan ke tetangganya bakne punjul sak miliar totale. Itu juga kami diberitahu warga tetangganya sana. Kita nggak buat-buat. Karena memang anggotanya 500 orang lebih, makanya kami di Sragen lapor sendiri. Yang di Solo juga lapor dan satu grup di Solo itu yang lapor 7 orang. Nglaporkan M juga,” tandas Irene. Wardoyo