JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Pasrah Bongkokan, Mantan Kades Trobayan Sragen dan Suami Akhirnya Terima Divonis 2 Tahun. Jaksa pun Lega Langsung Jebloskan Suparmi dan Suyadi ke Penjara LP Sragen

Mantan Kades Trobayan, Suparmi (belakang) dan suaminya, Suyadi (depan) saat hendak menuju mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Sragen, Rabu (26/8/2020). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM -Mantan Kades Trobayan, Kecamatan Kalijambe, Suparmi (50) dan suaminya, Suyadi (52) akhirnya menerima vonis hakim yang memutus masing-masing 2 tahun penjara dalam perkara korupsi bermodus pungutan liar (pungli) pada seleksi perangkat desa (Perdes) tahun 2018.

Sempat pikir-pikir seminggu, suami istri yang meraup Rp 515 juta dari empat calon perangkat dengan modus minta sogokan saat seleksi Perdes itu, akhirnya memilih tak menempuh upaya hukum lain.

“Karena selama 7 hari mereka tidak mengajukan upaya hukum lain, secara otomatis mereka dianggap menerima putusan,” papar Kajari Sragen, Sinyo Benny Redy Ratag melalui Kasi Pidsus, Agung Riyadi, Jumat (15/1/2021).

Agung menguraikan selain divonis 2 tahun kurungan badan, kedua suami istri itu juga dibebani denda sebesar Rp 100 juta.

Karena sudah menerima vonis, jaksa langsung melakukan eksekusi putusan tersebut beberapa hari lalu. Eksekusi badan dilakukan relatif tanpa kendala.

Pasalnya selama menjalani proses persidangan, Suparmi dan Suyadi sudah ditahan di LP Kelas II A Sragen. Sedangkan putusan juga dieksekusi di LP yang sama.

“Eksekusi hukuman badannya juga di LP Sragen. Tapi untuk denda belum dibayar karena itu masih berlaku sampai hukuman pokok selesai. Kalau sampai hukuman pokok selesai mereka tidak membayar, tinggal menambah dengan hukuman subsidernya,” jelas Agung.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut di Sambungmacan Sragen, Bus EKA Ugal-Ugalan Gasak Pemotor Hingga Tewas Mengenaskan. Korban Tewas Bernama Marsono

Dengan sikap mereka yang menerima putusan, maka jaksa secara otomatis juga tidak perlu melakukan upaya hukum imbangan. Sehingga penanganan kasus Trobayan sudah tuntas.

Sebelumnya, vonis untuk Suparmi dan Suyadi dibacakan dalam sidang lanjutan di PN Tipikor Semarang pada akhir Desember 2020 lalu.

Sidang digelar secara daring atau online dipimpin Ketua Majelis Hakim PN Tipikor Semarang, Casmaya. Majelis hakim menyidangkan di PN Tipikor, kedua terdakwa di Lapas Sragen dan jaksa di Kejari Sragen.

Dalam putusannya, ketua majelis hakim menyatakan kedua terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melanggar pasal 11 UURI No 20/2001 tentang perubahan UU RI 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Menjatuhkan pidana penjara masing-masing dua tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 2 bulan kurungan,” papar Agung, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM seusai sidang.

Agung menguraikan sidang digelar relatif singkat sekitar satu jam. Dibuka pukul 12.00 WIB, sidang berakhir sekitar pukul 13.00 WIB dengan agenda pembacaan putusan.

Putusan itu setengah tahun lebih rendah dari tuntutan jaksa. Sebelumnya jaksa menuntut pasutri itu masing-masing 2,5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider enam bulan.

Baca Juga :  Satu Wali Murid Tewas Tersambar Petir, Keluarga Besar SMK Pelita Bangsa Sumberlawang Berduka. Kasek: Beliau Orang Baik, Berjuang Menghidupi Keluarga!

Agung menguraikan pertimbangan yang memberatkan yakni kedua terdakwa tidak mengakui yang Rp 190 juta itu. Uang Rp 190 juta itu diterima dari salah satu calon yang kemudian terpilih jadi Sekdes.

Dari empat calon yang digorok Rp 515 juta, hanya milik Sekdes sebesar Rp 190 juta yang tidak dikembalikan oleh terdakwa.

Seperti diberitakan, mantan Kades dan suaminya itu ditahan pada akhir Agustus 2020 lalu dalam perkara dugaan korupsi bermodus pungutan liar saat Suparmi menjabat Kades dan berlangsung penerimaan seleksi perangkat desa pada 2018 lalu di Desa Trobayan.

Modusnya kedua tersangka membentuk tim gerilya untuk mendatangi para calon perangkat desa. Tim meminta sejumlah uang sebagai syarat mereka masuk dalam penerimaan perangkat desa tersebut.

Ada empat orang calon perdes yang dimintai uang oleh Kades melalui tim yang sengaja dibentuk untuk menggorok para korban.

“Jumlah uang yang diminta bervariasi, ada yang dimintai Rp 200 juta, Rp 165 juta dan Rp 100 juta. Total yang diterima kedua tersangka Rp 515 juta. Setelah pengumuman, ternyata ada tiga orang yang tidak lolos seleksi,” urai Agung. Wardoyo