JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Awan Panas Merapi Rusakkan Tutupan Lahan Hutan Primer

Penampakan guguran awan panas Gunung Merapi, Rabu (27/1/2021). Foto: Instagram/bpptkg

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM -Erupsi Gunung Merapi yang terjadi sejak 4 Januari lalu, ternyata telah menyebabkan kerusakan pada tutupan lahan hutan primer kawasan taman nasional di sana.

Hal itu terungkap dari catatan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) baru-baru ini.

Tutupan lahan hutan primer itu sendiri merupakan hutan alam campuran sementara kerusakan terjadi utamanya di kawasan Kali Boyong dan sekitarnya.

“Kerusakan tutupan lahan hutan primer karena awan panas pasca erupsi efusif yang mengarah ke barat daya Gunung Merapi mulai dari Kali Boyong, Kali Krasak dan sekitarnya,” kata Kepala Balai TNGM, Pujiati Rabu ( 17/2/2021).

Balai TNGM sendiri masih belum menginventarisasi luasan dan detail jenis tumbuhan yang rusak terdampak awan panas Merapi itu karena lokasi kerusakan diperkirakan masih berada di radius 4 kilometer dari puncak Merapi atau dalam radius bahaya, yakni kurang dari 5 kilometer.

Baca Juga :  Pemuda Ini Hasilkan Omset Puluhan Juta Lewat Penangkaran Ayam Hias dan Burung. Sepasang Merak Hijau Jawa Dibanderol Fantastis Capai Rp 25juta

“Inventarisasi baru kami lakukan jika benar sudah selesai masa erupsi dan BPPTKG telah menurunkan statusnya dari level Siaga atau ketika sudah ke status normal,” katanya.

Pujiati mengatakan tak menutup kemungkinan juga dikerahkan drone untuk mengetahui detail situasi yang terdampak itu jika kondisi sudah benar-benar landai.

“Untuk saat ini kami tak mau ambil risiko,” ujarnya.

Pujiati menambahkan soal satwa yang terdampak erupsi Merapi 2021 ini, saat ini khususnya Elang Jawa, penghuni langka di kawasan itu, diprediksi tak terganggu atau terusik.

Burung itu diprediksi tetap mudah beradaptasi dengan aktivitas Merapi sehingga tidak akan sampai bermigrasi ke wilayah lain.

Baca Juga :  Kasus Korupsi Stadion Mandala Krida, KPK Geledah Lagi 2 Lokasi  Ini

“Elang Jawa jenis yang mudah beradaptasi dengan kondisi Merapi dan daya jelajahnya cukup jauh,” kata dia.

Hasil pantauan pada 2020, hewan ini masih terpantau terbang di kawasan TNGM wilayah Sleman, Magelang dan Klaten. Masing-masing wilayah itu terpantau satu pasang.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida mengatakan aktivas vulkanik Merapi saat ini terus berlangsung sehingga status masih Siaga dan ancaman bahaya tetap dalam radius lima kilometer.

Sejak pantauan Rabu 17 Februari 2021 pukul 18.00 WIB hingga Kamis 18 Februari pukul 12.00 WIB, Gunung Merapi masih memuntahkan guguran lava pijar sedikitnya 12 kali dengan jarak luncur maksimal 800 meter ke arah barat daya.

www.tempo.co