JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Muhadjir Effendy: Vaksin Nusantara Adalah Sebuah Prestasi, Tapi Masih Perlu Diuji Sebelum Direkomendasi

Foto: Beni Indra

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Menteri Kordinator PMK, Muhajir Efendi menyatakan belum bisa mendorong vaksin Nusantara sebagai vaksin Covid-19 yang masuk kategori alternatif untuk dibeli negara.

Pasalnya, tahapan uji klinis vaksin tersebut belum selesai.

Meski begitu, Muhajir memberikan apresiasi terhadap mantan Menkes Terawan Agus Putranto yang jenius bisa membuat vaksin sendiri di tengah 137 negara di dunia sedang bingung mencari vaksin yang terbaik dan termurah.

“Ya, kami sambut baik dan apresiasi pada anak bangsa, mantan Menkes Putrawa Agus Putranto yang bisa membuat vaksin Covid-19,” ujarnya di sela acara peresmian Aula MI Muhammadiyah, Karanganyar, Jumat (19/2/2021).

Baca Juga :  Partai Golkar Karanganyar Targetkan 17 Kursi di Pileg 2024, Ilyas Akbar: Realistis

Menurut Muhajir, apapun alasannya, ketika warga Indonesia mampu menemukan vaksin Covid-19, hal itu merupakan sebuah prestasi luar biasa.

Pasalnya, ujar Muhadjir, banyak negara maju belum mampu membuat vaksin Covid-19 dan hanya negara tertentu yang bisa menciptakan.

“Bagus itu. Apapun alasannya,  vaksin Nusantara adalah sebuah penemuan ilmiah yang harus diapresiasi,” ungkapnya.

Namun demikian lanjut Muhajir, karena vaksin tersebut sedang proses uji klinis tahap dua dan masih uji klinis tahap ketiga, maka negara belum bisa mereferensi vaksin Nusantara sebagai rujukan vaksin nasional seperti vaksin Sinovac dan pfizer yang menjadi pilihan pemerintah.

Negara masih memantau sejauh mana kualitas vaksin Nusantara jika nanti lolos semua tahapan uji klinis.

Baca Juga :  Disapa Gubernur Ganjar saat Divaksin Covid-19, Para Pedagang Pasar di Pati Semringah dan Mengajak Selfie

Pasalnya, lanjut Muhajir, vaksin Nusantara merupakan kategori vaksin invidu yang secara teknis penggunaannya berbeda dengan vaksin konvensional seperti Sinovac, pfizer dan modena.

Penggunaan vaksin Nusantara tidak langsung disutikkan, tetapi darahnya diambil terlebih dulu untuk  dichek dengan vaksin tersebut dan jika hasilnya bagus alias aman berdasar chek darah tersebut, maka vaksin baru disuntikkan kepada manusia.

“Soal waktu nanti negara akan merekomendasi vaksin tersebut ya saya tidak bisa memastika. Lihat saja nanti bagaimana sambil menunggu uji klinis selesai,” imbuhnya. Beni Indra