JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Perbedaan Vaksin Nusantara dengan Vaksin Covid-19 Sinovac dan Lainnya

Ilustrasi vaksin Covid-19. Pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Baru-baru ini mencuat pemberitaan terkait vaksin Nusantara. Lalu apa sebenarnya perbedaan vaksin Nusantara dengan vaksin Covid-19 lainnya?

Guru Besar dari Universitas Airlangga Chairul Anwar Nidom menjelaskan perbedaan vaksin-vaksin tersebut.

Vaksin yang disebut AntiCovid-19 itu dikembangkan oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama timnya dari Semarang, Jawa Tengah, dan juga Amerika Serikat.

“Bedanya terletak pada motor aktivitasnya,” ujar dia saat dihubungi Senin sore, 22 Februari 2021.

Menurut Nidom yang juga Ketua tim Laboratorium Professor Nidom Foundation (PNF), vaksin konvensional secara umum disuntikkan ke seseorang dengan antigen (virus inaktif atau subunit protein). Kemudian, tubuh dibiarkan melakukan proses pembentukan antibodi.

Ini seperti yang dilakukan pada vaksin Sinovac yang telah didistribusikan di tanah air maupun yang lainnya di negara lain. “Jadi tidak aneh saat ini bisa dijumpai setelah vaksinasi ada yang belum terbentuk antibodinya. Ada antibodi, tapi tidak protektif. Ada antibodi yang protektif tapi orang itu masih terinfeksi virus,” kata Nidom.

Baca Juga :  10 Tanda Kurang Mengkonsumsi Sayuran, Salah Satunya Berat Badan Bertambah Dengan Cepat

Vaksin Nusantara berbeda. Vaksin ini berbasis sel dendritik yang disebut Nidom sebagai pabrik antibodi. Sel tersebut yang sudah dirangsang/digertak di luar, lalu disuntikan ke seseorang. Diharapkan, sel dendritik ini akan memproduksi antibodi yang siap menetralisir virus yang menginfeksi.

Vaksin Nusantara, diterangkannya, merupakan inisiatif dari teknologi vaksin terhadap kanker. Bedanya, jika dalam terapi kanker sel itu dirangsang dengan protein kanker, dalam teknologi Vaksin Nusantara diganti pakai protein virus Covid-19.

“Saat sel dendritik tua, maka sel itu akan menularkan kemampuannya menetralisir virus kepada sel dendritik yang lebih muda,” kata dia sambil menambahkan, “Sehingga tidak keliru kalau dikatakan antibodi Vaksin Nusantara seumur hidup.”

Namun, profesor di Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu menjelaskan, persoalan yang dibincangkan saat ini lebih terletak pada istilah vaksinasi yang diharapkan bisa membentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Hal ini karena Vaksin Nusantara, karena metodenya itu, bersifat individual.

Nidom berasumsi tim Vaksin Nusantara sudah tahu cara membuatnya untuk kelompok dan mencari tahu sumber sel dendritik yang bersifat homologus, dan bisa digunakan untuk semua orang. Sel itu disebutnya berbeda dari individu bersifat autologus.

Baca Juga :  Jangan Takut Vaksinasi saat Puasa, Pakar Imunisasi Sebut Puasa Tak Kurangi Manfaat Vaksinasi. Pembentukan Antibodi Justru Meningkat

“Saat ini informasinya seolah-olah belum terbuka, mungkin masih disimpan. Di sisi lain kita tahu vaksin adalah bisnis besar,” ujar Nidom.

Vaksin Nusantara diklaim telah menjalani uji klinis fase 1 dan hasilnya sudah berada di tangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dievaluasi. Lantaran berasal dari sel yang diambil dari tubuh penerima, Anggota Tim Peneliti Vaksin Nusantara, Yetty Movieta Nency, mengklaim, vaksin dari sel dendritik ini kecil kemungkinan menimbulkan infeksi.

Itu, menurut Yetty, ditunjukkan lewat hasil uji awal (tahap 1) yang diakunya tak ditemukan efek berlebihan. Dia menyebutkan efek sampingnya minimal, berjalan singkat, dan tak perlu pengobatan.

“Vaksin Nusantara tergolong aman, lantaran tak ada tambahan adjuvan maupun komponen binatang. Hal tersebut sekaligus meyakinkan masyarakat terhadap status halal vaksin Covid-19,” kata dia menambahkan.

www.tempo.co