JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Perhatian, 22 Pemilik Warung Anjing, Sate Jamu dan Rica Guguk di Sragen Dimohon Segera Tutup, Tobat dan Alih Profesi!

Tatag Prabawanto. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM -Pemkab Sragen mengakui ada 22 warung kuliner berbahan daging anjing yang beroperasi di Sragen. Meski demikian, Pemkab menyebut tidak kuasa menutup usaha mereka namun akan melakukan pendekatan persuasif terlebih dahulu.

Hal itu disampaikan Sekda Sragen, Tatag Prabawanto, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (3/2/2021). Ia mengatakan dari hasil pendataan, memang ada 22 pelaku usaha kuliner daging anjing di Sragen.

Dari jumlah itu, 7 di antaranya mobile dan 15 lainnya berjualan di warung secara menetap. Menurutnya Pemkab juga tak bisa serta merta menutup lantaran mayoritas dinilai tidak menyembelih anjing dan dagingnya dipasok dari luar Sragen.

“Nanti kita akan melakukan pendekatan yang persekuasif saja. Harapan kami, mereka bisa segera menutup usahanya dan beralih profesi tidak menjual daging guguk lagi,” papar Tatag.

Tatag menguraikan dari laporan yang diterimanya, di Sragen memang ada 22 warung kuliner penjual daging anjing di berbagai wilayah di Sragen.

Dari jumlah itu, ada tujuh orang di antaranya yang beroperasional secara mobile atau keliling alias tidak membuka warung tetap. Sedangkan sisanya memang berjualan menetap dengan membuka warung.

Baca Juga :  Buntut Kasus Buruh Hancur Tergencet Mesin, Manajer Pabrik Bricon Diperiksa Satwasker Pemprov Jateng

“Memang ada 22 penjual atau warung daging anjing di Sragen. Yang 7 itu mereka sifatnya mobile jadi tidak ada warung menetapnya,” terangnya.

Meski demikian, Sekda menyampaikan bahwa para penjual dan warung guguk yang ada itu tidak melakukan penyembelihan anjing. Mereka juga mengklaim hanya dipasok daging anjing yang penyembelihannya bukan dari Sragen.

Ia juga menampik data dari aktivis bahwa ada praktik pengepulan dan penyembelihan daging anjing di Gemolong.

“Yang di Gemolong itu tidak melakukan penyembelihan anjing di Gemolong. Jadi mereka hanya loper atau broker saja. Pedagangnya dari luar kota Sragen terus pengepul di Gemolong itu jadi broker yang menjualkan ke pemesan-pemesan. Jadi nggak ada penampungan anjing atau perdagangan anjing dari Sragen,” katanya.

Tatap menyebut para pengepul atau broker itu hanya menjadi perantara saja. Kemudian anjing-anjing dari luar kota juga disebut tidak didrop di Sragen tapi dari pemasok langsung diantar ke pembelinya di luar kota Sragen.

Baca Juga :  Miris, Kasatlantas Polres Madiun Kota Ngamuk-Ngamuk Sampai Buka Baju. Hanya Gegara Pantat Istrinya Tak Sengaja Tersentuh

Karenanya soal desakan pembuatan Perda larangan penjualan daging anjing, Sekda menyebut hal itu dipandang belum perlu.

Terlebih menurutnya sudah ada undang-undang atau peraturan yang melarang perdagangan daging anjing yang berkedudukan lebih tinggi dan sifatnya kontinental.

“Lalu perdagangan lintas provinsi itu juga sudah menjadi ranah provinsi. Pengiriman ternak yang mana harus di karantina semua itu pengawasannya dan kontrol ada di provinsi. Jadi menurut kami tidak perlu ada Perda larangan lagi karena di situ undang- undangnya udah ada,” tandasnya.

Terpisah, hal itu dibantah oleh Koordinator DMFI Solo, Mustika Cendra. Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , ia mengatakan dari hasil investigasi timnya ke lapangan beberapa hari terakhir, menemukan sejumlah warung penjual kuliner daging anjing di beberapa wilayah.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com