JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Merinding, Peti Mati Dijadikan Meja Tamu Dilakukan Haji Suradi Prutul Bersama Istri Tercinta di Tandon Desa Pare Selogiri Wonogiri, Ternyata Banyak Tamu Tak Menyadarinya

Suradi menunjukkan peti mati yang digunakan sebagai meja tamu di rumahnya. JSNews. Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Apa jadinya ketika kita bersilaturahmi, lantas diterima pemilik rumah di ruang yang menggunakan peti mati sebagai mejanya? Takut atau merinding? Ini benar ada di Kecamatan Selogiri, Wonogiri.

Kisah yang cukup bikin merinding terjadi pada sosok Haji Suradi. Bagaimana tidak, dia ternyata sudah menyiapkan peti mati untuk dia sendiri dan istri tercintanya.

Dua buah peti mati seharga puluhan juta rupiah itu saat ini sebelum digunakan, difungsikan sebagai meja tamu di rumahnya. Langkah ini sebatas untuk memfungsikan peti mati sebelum digunakan untuk menaruh jenazah, daripada disimpan di gudang. Untuk menyamarkan, bagian tutup peti mati diletakkan terbalik dan ditutupi kain taplak meja. Dia juga telah menyiapkan liang lahat untuk keperluan pemakaman bersama sang istri.

“Selama ini tidak ada tamu berkunjung yang ketakutan. Karena disamarkan sebagai meja dan ditutupi taplak. Awalnya dua peti mati itu saya tempatkan di ruang tamu sebagai meja, tapi sekarang karena pertimbangan tempat, tinggal peti mati saya yang digunakan untuk meja, peti mati untuk istri saya tempatkan di bawah tangga,” beber pemilik nama lengkap Hj Suradi, Spd. MPd ini di rumahnya yang megah, Rabu (3/3/2021).

Usut punya usut dua peti mati itu sebenarnya merupakan kado ulang tahunnya ketika berumur 58 tahun pada 16 Maret. Dia saat ini berusia 63 dan sang istri Hj. Sularni 62 tahun.

Baca Juga :  Catat Lur, ini Sasaran Operasi Lalulintas yang Digelar Sejak 12 Sampai 25 April 2021, Tapi Tidak Ada Tilang Polisi Lebih Memilih Melakukan Hal ini

Mantan Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Wonogiri juga sudah mempersiapkan tanah pemakaman atau kuburan, liang lahat dan batu nisan yang sudah dilengkapi dengan nama terangnya. Haji Suradi atau kerap disapa Pak Suradi Prutul ini berdomisili di Dusun Tandon RT 2 RW 2 Desa Pare, Kecamatan Selogiri .

“Kan nanti semua makhluk hidup di dunia akhirnya akan kembali ke hadiratNya. Jadi semua ini memang sudah saya niati. Selain itu peti mati maupun liang lahat saya siapkan agar kelak ketika saya meninggal, keluarga tidak kerepotan menyiapkan peti mati maupun liang lahatnya,” beber pria kelahiran Cepogo, Boyolali itu.

Peti mati atau sering disebut terbelo itu sengaja ia pesan sepuluh hari sebelum ulang tahun ke 58 lalu. Menurut dia, untuk membeli peti mati ia merogoh koceknya Rp 25 juta,setiap satu peti mati seharga Rp 12,5 juta. Terbuat dari bahan kayu jati pilihan,yang kemudian dicat coklat tua dan dilapisi dengan lapisan anti gores.

Soal lain, pria yang sudah memiliki dua anak dan dua cucu ini juga sudah menyiapkan pemakaman nantinya. Di tempat pemakaman umum di desa tinggalnya juga sudah direnovasi, dengan biaya hampir Rp 100 juta. Anggaran tersebut dipergunakan untuk mengecor jalan menuju area pemakaman serta memasangi lampu penerangan di sekitar kuburan. Ada empat liang lahat dan empat batu nisan sudah disiapkan di pintu pemakaman. Dua liang lahat dipersiapkan untuk ayah ibunya,sedang dua liang lahat lagi diperuntukkan dia dan istrinya.

Baca Juga :  Waduh JLS di Glonggong Giriwoyo Wonogiri Tertimpa Longsor Lagi, Kendaraan di Jalur Lintas Selatan itu Terpaksa Putar Arah Kendati Tidak Sampai Menutup Semua Badan Jalan

Menurut dia, tak setiap tamu menyadari jika meja yang ada di hadapannya itu adalah peti mati. Bahkan, sempat Bupati Wonogiri Joko Sutopo dibuatnya kaget ketika mengetahui meja itu adalah peti mati.

“Peti mati ukir itu sengaja saya taruh di ruang tamu.Tapi, posisinya dibalik, kemudian saya beri taplak biar tidak kelihatan. Kalau diraba bagian bawahnya tamu baru nyadar kalau itu peti mati,” beber pria yang akrab disapa Prutul ini.

Soal penyebutan Prutul atau terlepas ini lantaran jari telunjuk tangan kiri putus waktu masih kecil. Kini telunjuk kiri menyisakan satu setengah ruas jari saja.

Suradi kali pertama diangkat PNS pada 1979. Awalnya merupakan guru, kemudian meningkat ke kepala sekolah, pengawas hingga kepala UPT Dinas Pendidikan tingkat kecamatan. Berlanjut menjadi kepala seksi di Dinas Pendidikan, kasi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kepala Kantor Arpusda, dan terakhir sebelum pensiun merupakan Staf Ahli Bupati Wonogiri. Aria