JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Polri Ungkap di Masyarakat Masih Ada yang Anggap Aksi Teror di Gereja Makassar dan Mabes Polri hanya Rekayasa

Tangkapan layar rekaman CCTV Mabes Polri menunjukkan sosok pelaku penyerangan pada Rabu (31/3/2021) sore, Foto: Instagram

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Kepolisian Republik Indonesia menyebut masih ada sebagian masyarakat yang menilai aksi teroris di Gereja Katedral Makassar dan juga Mabes Polri sebagai rekayasa. Hal tersebut turut menyulitkan upaya Polri dalam penanggulangan terorisme.

Disampaikan Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono, saat ini masih banyak opini sesat yang berkembang dalam masyarakat terkait berbagai isu mengenai terorisme tersebut.

“Ada beberapa hal yang tentunya perlu kita cermati dalam penanggulangan terorisme ini. Yang pertama adalah gerakan radikal yang ada sebagian masih tidak percaya. Atau sebagian sengaja tidak percaya. Ini masih terjadi di masyarakat,” kata Rusdi dalam diskusi daring, Minggu (4/4/2021).

Rusdi mencontohkan sekelompok orang yang tak percaya dan menuding insiden bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan penyerangan terduga teroris di Mabes Polri adalah rekayasa.

“Bahkan ada yang berpendapat bahwa kasus Makassar, terus kemudian juga penembakan di Mabes Polri itu rekayasa, kata mereka,” ujar dia.

Ia menuturkan opini ketidakpercayaan ini membuat masyarakat menjadi bingung dalam menilai informasi. Hal ini yang juga tengah dihadapi oleh Polri dalam penindakan terorisme.

“Masih ada kelompok-kelompok seperti itu yang tidak percaya dan sengaja memang membuat masyarakat jadi bingung. Ini realitas yang perlu kita hadapi bersama,” tukas dia.

Baca Juga :  Gempa Bumi Rusakkan Sedikitnya 300 Rumah di Jawa Timur

Radikalisme di Internet

Lebih lanjut Rusdi menyampaikan penularan paham radikalisme mulai banyak disebar melalui platform di media sosial.

“Jadi sebenarnya yang perlu kita cermati bersama bahwa sekarang penularan daripada paham-paham itu. Itu banyak menggunakan internet ataupun media sosial yang sekarang banyak digunakan oleh masyarakat,” kata Brigjen Rusdi.

Ia pun menjelaskan bahwa pengguna internet Indonesia telah mencapai 73.3 persen dari populasi atau setara lebih dari 202 juta orang.

“Begitu banyaknya ini tentunya membutuhkan masyarakat yang harus bisa memilih dan memilah konten-konten mana itu yang benar, konten-konten mana yang menyesatkan,” ungkap dia.

Atas dasar itu, Rusdi menyampaikan peran masyarakat untuk memilih sebuah informasi menjadi penting. Hal itu agar masyarakat tidak mudahkan disesatkan informasi ataupun ajaran yang tidak benar.

“Jika tentunya masyarakat hanya pintar memilih dia tidak akan tersesat. Tapi lain halnya jika masyarakat tidak mampu memilah sehingga dia pun akan disesatkan dengan konten-konten yg dibaca, didengar, dan dilihat di media sosial,” jelas dia.

Rusdi kemudian mencontohkan kasus penyerangan terduga teroris Zakiah Aini dengan senjata airgun di Mabes Polri. Dia menduga pelaku menerima ajaran yang salah dari internet.

“Ketika kita bicara bahwa ZA melakukan sendiri adalah dimungkinkan apa yang didapat oleh ZA yang dipahami dari ZA itu bersumber dari internet. Itu bersumber dari media sosial yang sekarang berkembamg luar biasa di tengah tengah masyarakat,” ujar dia.

Baca Juga :  Hasil Sidang Isbat, 1 Ramadan 1442 Hijriah Jatuh pada Selasa 13 April 2021

“Karena 21 jam sebelum kejadian, tersangka ZA ini memposting di instagramnya bendera ISIS dan juga tentang perjuangan dalam berjihad,” sambungnya.

Oleh sebab itu, kata dia, masalah ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan institusi Polri untuk dapat menyajikan informasi yang resmi dan terpercaya.

“Polri telah berusaha bagaimana memberikan informasi yang resmi yang terpercaya ini dengan yang namanya kegiatan polisi virtual,” tukas dia.

Incar Generasi Muda

Rusdi juga menyampaikan kelompok atau jaringan teroris yang berada di Indonesia mulai menyasar generasi muda untuk bergabung sebagai anggota.

“Ini jelas sekali ini perlu kita antisipasi kelompok-kelompok teror sekarang telah menyusur daripada anak-anak muda di negeri ini,” kata Brigjen Rusdi.

Dijelaskan Rusdi, di antara kasus yang terbaru adalah insiden bom bunuh diri di Katedral Makassar dan penyerangan terduga teroris ZA di Mabes Polri, di mana pelaku aksi terorisme itu masih cukup muda.

Atas dasar itu, kata Rusdi, diperlukan persatuan dari kelompok moderat untuk dapat melawan narasi ataupun ajaran yang dapat mengarah terhadap tindak pidana teroris. Polri juga mengajak masyarakat bersama-sama melawan dan menghentikan penyebaran paham terorisme di Indonesia.

www.tribunnews.com