JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

PSHT Sragen Berduka, Satu Pendekar Terbaiknya Gugur dalam Musibah Tenggelamnya KRI Nanggala-402. Berasal dari Karangmalang, Warga Langsung Gelar Tahlilan 7 Hari Berturut-Turut

Warga PSHT saat hadir dalam tahlilan dan doa bersama di kediaman orangtua Sertu Bambang Priyanto, Minggu (25/4/2021) malam. Foto/Wardoyo


SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Musibah tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan utara Bali, ternyata turut membawa duka bagi keluarga besar persaudaraan setia hati terate (PSHT) Sragen.

Pasalnya, satu dari 53 awak kru yang bertugas di dalam kapal itu ternyata adalah warga Sragen bernama Sertu Bambang Priyanto (40).

Prajurit kelahiran Dukuh Ngadirejo RT 30/13, Desa Kroyo, Karangmalang, Sragen itu juga diketahui terdaftar sebagai warga PSHT Sragen.

Sebagai wujud empati dan ungkapan belasungkawa, jajaran warga PSHT setempat berinisiatif menggelar tahlilan dan doa bersama di kediaman orangtua Sertu Bambang.

Tahlilan dan doa bersama digelar setelah adanya kepastian dari Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Minggu (25/4/2021) yang menyatakan kapal tenggelam dan seluruh awak dinyatakan gugur.

Tahlilan diselenggarakan di rumah orang tua Sertu Bambang Priyanto di Kampung Ngadirejo, Kroyo, Karangmalang, Sragen pada Minggu (25/5/2021) malam.

Puluhan warga PSHT di lingkungan setempat secara spontanitas berkumpul untuk mendoakan almarhum Sertu Bambang.

Ditemui di kediaman rumah duka, paman korban, Sutrisno menyampaikan tahlilan akan dilaksanakan selama tujuh hari ke depan.

Menurutnya doa bersama itu dilakukan setelah ada kabar keponakannya gugur dalam musibah tenggelamnya KRI Nanggala-402.

“Kami langsung adakan tahlilan setelah dapat kabar keponakan saya meninggal dalam musibah tenggelamnya kapal itu,” paparnya kepada wartawan Minggu (25/4/2021) malam.

Sutrisno menguraikan ya itu dihadiri oleh keluarga dekat dan anggota pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Pasalnya Sertu Bambang sebelumnya juga tercatat sebagai salah satu warga PSHT wilayah setempat.

Baca Juga :  Unggah Postingan Ajakan Aksi Tuntut Keadilan Gegara PPKM Darurat, 3 Warga Banyumas Langsung Ditangkap Polisi. Seruannya di Postingan FB Ngeri!

Hal itu membuat rasa solidaritas masih terpatri sehingga perasaan duka itu turut menaungi warga PSHT.

“Mas Bambang dulu pernah jadi anggota PSHT,” ucapnya.

Soal tragedi itu, Sutrisno menyampaikan kali pertama memang kaget kala mendengar semua awak KRI Nanggala-402 dan tidak ada yang selamat.

Apalagi setelah mengetahui satu di antara kru adalah keponakannya sendiri.
Dia berharap agar jasad Sertu Bambang Priyanto bisa segera ditemukan dan diangkat ke permukaan.

Seperti diketahui, di antara 53 kru kapal tersebut diketahui berasal dari Sragen. Data yang dihimpun JOGLOSEMARNEWS.COM , kru itu diketahui bernama Bambang Priyanto (40) asal Dukuh Ngadirejo RT 30/13, Desa Kroyo, Karangmalang, Sragen.

Dari keterangan keluarga, pria berpangkat Sertu itu turut masuk daftar kru di KRI Nanggala. Kakak kandung Bambang, Sri Rahayu (45) menuturkan adiknya itu memang menjadi salah satu anak kebanggaan keluarga.

Bambang adalah anak bungsu dari enam bersaudara pasangan Partorejo- (alm) Sujiyem.

Keberhasilan Bambang menjadi anggota marinir TNI Angkatan Laut memang menjadi sebuah kebanggaan mengingat keluarga hanya dibesarkan dari orangtua yang berprofesi sebagai petani dan pedagang.

“Bapak kami tani, ibu kami dagang. Saya anak nomor lima, Bambang itu adik saya yang paling kecil,” papar Sri ditemui di kediamannya, Jumat (23/4/2021).

Dari enam saudara, Bambang adalah anak ketiga yang bekerja di dunia kemiliteran. Dua anak lainnya berprofesi sebagai polisi di Jakarta dan satu lagi sebagai dokter di TNI.

Sri menuturkan selama ini mengenal sosok Bambang sebagai pribadi yang disiplin. Satu hal yang paling ia sukai dan ingat adalah kecintaan Bambang dengan kebersihan dan ramah terhadap lingkungan.

Baca Juga :  Kejutan di Balik Booming Ivermectin sebagai Obat Ampuh Penyembuh Covid-19. ICW Endus Ada Indikasi Keruk Keuntungan di Masa Pandemi, Ini Jejaring yang Diduga Terlibat!

“Setiap kunjung ke rumah orangtua, dia kalau disuruh ngepel le, dia langsung siap Mbak. Lihat satu sampah saja langsung dijumputi. Lalu ketemu tetangga siapapun selalu menyapa, jadi meski sudah jadi tentara dia nggak sombong. Dia juga anak kesayangan almarhum ibu,” tutur Sri.

Sri juga menuturkan, perjuangan Bambang menjadi TNI AL juga tidak mudah. Setelah menamatkan STM Penerbangan, ia sempat dua kali gagal saat mendaftar jadi TNI -AL.

Baru di pendaftaran ketiga sebagai calon Tamtama, impiannya masuk TNI akhirnya bisa terwujud.

“Setelah diterima di TNI, dia langsung pindah ke Surabaya dan pindah ke sana. Setelah lulus, kata suami saya dia tugasnya di pasukan katak gitu,” tukasnya. Selamat jalan Sertu Bambang Priyanto! (Wardoyo)