JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

135 Perempuan di Bawah Umur di Sragen Dinikahkan Dini, Angkanya Meroket 300 %. Kecamatan Masaran, Sambirejo dan Mondokan Paling Banyak..

Ilustrasi pernikahan dini
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebanyak 135 perempuan di bawah umur di Kabupaten Sragen tercatat menjalani pernikahan dini dalam dua tahun terakhir.

Kecamatan Masaran, Sambirejo dan Mondokan menjadi penyumbang angka tertinggi jumlah perempuan yang terpaksa dinikahkan meski belum cukup umur.

Fakta itu terungkap dari data jumlah pernikahan yang terekam di Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sragen periode 2019-2020.

Dari data tahunan angka pernikahan itu, tercatat selama 2019, ada 27 perempuan yang menikah di bawah umur atau 16 tahun. Jumlah itu meningkat tiga kali lipat menjadi 108 perempuan di tahun 2020.

Sementara untuk jumlah laki-laki yang menikah di bawah umur pada 2019 tercatat sebanyak 62 orang. Sedangkan di 2020, jumlah laki-laki yang menikah di bawah umur tercatat sebanyak 59 orang.

Lantas dari total jumlah kasus pernikahan dini selama dua tahun terakhir menunjukkan angka kenaikan hampir 3 kali lipat.

Di 2019 total kasus pernikahan dini sebanyak 89 sedang di 2020 sebanyak 167 kasus.

Sementara dari data per kecamatan, di 2019 jumlah kasus terbanyak nikah dini ada di Sambirejo dengan 16 kasus yakni 10 perempuan dan 6 laki-laki.

Baca Juga :  1.180 Calhaj Sragen Kembali Batal Berangkat Tahun Ini, Antrian Daftar Tunggu Haji Mundur Lagi Sampai 24 Tahun

Disusul Kecamatan Masaran dengan 14 dengan 12 orang laki-laki dan 2 perempuan. Lantas di peringkat ketiga ada Kecamatan Karangmalang dengan 7 kasus yakni 5 laki-laki dan dua perempuan.

Sementara di tahun 2020, ada total 167 pernikahan dini dengan 59 laki-laki dan 108 perempuan mempelainya masih belum cukup umur.

Kecamatan Masaran masih mendominasi di posisi teratas dengan 26 kasus terdiri dari 19 perempuan dan 7 laki-laki. Kemudian Kecamatan Kedawung ada 19 kasus dengan 13 perempuan dan 6 laki-laki.

Lantas Kecamatan Sidoharjo dengan 15 kasus yakni 9 perempuan dan 6 laki-laki. Disusul Mondokan dengan 14 kasus semuanya perempuan. Di bawahnya ada Kecamatan Sumberlawang dengan 12 kasus dengan 9 perempuan dan 3 laki-laki di bawah umur yang menikah dini.

Kasi Binmas Kemenag Sragen, Erfandi mengatakan secara angka, jumlah pernikahan dini memang naik. Hal itu lebih dikarenakan adanya aturan baru soal batasan minimal usia menikah.

Jika di 2019, batasan usia minimal menikah laki-laki di 19 tahun dan perempuan 16 tahun, untuk 2020 aturan usia berubah yakni laki-laki dan perempuan minimal 19 tahun.

Baca Juga :  Tegas, Kapolri Instruksikan Seluruh Polda dan Polres Tangkap Semua Preman yang Meresahkan. Diminta Rilis Setiap Penangkapan Preman!

“Aturan kan tidak mudah. Dulu perempuan usia minimalnya ditentukan 16 tahun, sekarang 19 tahun sehingga jumlahnya tambah banyak. Faktor peningkatan itu lebih karena adaptasi aturan batas umur itu,” paparnya kepada wartawan belum lama ini.

Namun Erfandi membenarkan kasus pernikahan dini paling banyak ada di Kecamatan Masaran. Sedangkan di wilayah pinggiran seperti Sragen Utara justru relatif tidak begitu menonjol.

Ia juga menyampaikan kenaikan angka kasus nikah dini itu memang terjadi sejak adanya perubahan aturan umur.

Jika sebelum 2020, perempuan usia 16 tahun ke atas bisa dinikahkan tanpa dispensasi, sekarang sejak 2020 di bawah 19 tahun harus mendapat dispensasi terlebih dahulu.

“Dispensasi nikah dini itu yang menerbitkan Pengadilan Agama. Kamu hanya menerima data putusan saja. Soal pertimbangan memberikan izin atau dispensasi itu kewenangan majelis hakim PA,” terangnya. Wardoyo

[sharethis-reaction-buttons]