JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

16 Petani Sragen Tewas Beruntun, Ini Ternyata Alasan Kuat yang Membuat Petani Masih Nekat Gunakan Setrum Jebakan Tikus Meski Taruhannya Nyawa!

Rentetan kejadian petani tewas kesetrum jebakan tikus berlistrik di beberapa wilayah di Sragen. Foto kolase/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski sudah banyak menelan korban jiwa, pemasangan perangkat setrum jebakan tikus di Sragen masih saja belum reda.

Meski sudah ada 16 petani tewas akibat jebakan tikus, rupanya tak serta merta membuat petani jera dan meninggalkan perangkat jebakan beraliran listrik itu.

Kasus terbaru, petani asal Dukuh Ngampunan, Kebonromo, Ngrampal, Iwan Supardi (61) yang meninggal Rabu (13/5/2021) pagi di sawahnya, menjadi bukti bahwa imbauan, larangan hingga risiko nyawa tak menyurutkan petani menggunakan setrum jebakan tikus.

Lantas mengapa petani bisa senekat itu dan rela bertaruh risiko nyawa demi melawan hama tikus.

Dari penuturan sejumlah petani dan tokoh, pemasangan jebakan tikus dengan setrum sebenarnya pilihan terakhir yang harus diambil untuk menyelamatkan tanaman dari serangan hewan pengerat itu.

Hampir semua petani yang memasang mengaku terpaksa lantaran berbagai upaya membasmi dengan omprong dan gerilya tiap malam, faktanya tetap tak mampu meredakan serangan tikus.

Hal itu karena mereka menilai serangan hama tikus dalam dua musim terakhir terbilang sangat parah, jumlah populasi tikus yang makin banyak dan sulit sekali dibasmi.

Baca Juga :  Harga Beras Sragen Mencekik, 2 Politisi Cantik Ini Rela Terjun Gelar Pasar Murah. Berasnya Premium Harga Cuma Segini

“Hama tikusnya memang parah karena sawah almarhum itu dekat dengan kalen (sungai kecil). Sudah pakai omprong, tiap malam juga disuluhi (dicari) tapi nggak reda juga. Bahkan tanaman yang bagian pinggir sudah habis dimakan tikus,” timpal Sekdes Kecik, Sriyono.

Desa Kecik juga turut andil dalam kasus setrum jebakan tikus yang memakan korban. Salah satu perangkat desa, Cipto Purnomo (54) juga meregang nyawa usai kesetrum jebakan tikus yang dipasang di sawah bengkoknya, 10 April silam.

Sejumlah petani juga menuturkan hama tikus dalam dua tahun terakhir sudah di luar batas kewajaran.

Kades Jambanan Sugino Welly menunjukkan ladang jagung yang rusak diawut serangan tikus. Foto/Wardoyo

Berbagai upaya dan pengendalian dari gropyokan, memasang umpan, memagari sawah pakai plastik hingga emposan, tak mampu meredam serangan.

“Nggak tahu, dua tahun ini tikus seperti nggak sewajarnya. Jumlahnya sangat banyak. Kalau malam hari itu di jalan pematang ratusan bahkan ribuan yang menyerang. Petani sampai stres bagaimana mengatasinya. Akhirnya solusi terakhir ya pakai setrum itu. Sekali setrum semalam itu bisa dapat 100 ekor. Kalau hanya diumpan, diomprong dapatnya nggak seberapa. Kalau dibiarkan, semalam padi bisa habis juga. Ya memang serba salah Mas,” ujar Darmo, salah satu petani di Kecik, Tanon.

Baca Juga :  Ratusan Perangkat Desa di Sragen Geruduk DPRD. Kompak Tuntut Revisi Perbup

Senada, kasus hama tikus yang merajalela juga diakui oleh petani di berbagai wilayah. Seperti di Desa Jambanan, Kecamatan Sidoharjo.

Perjuangan petani di desa ini untuk meredam hama tikus dengan jebakan setrum juga harus dibayar mahal. Dua orang petani setempat harus meregang nyawa setahun silam akibat kesetrum jebakan di sawah mereka.

“Serangan tikus sekarang memang seperti nggak sebaene (biasanya). Petani juga nggak kurang-kurang mengatasi, tapi juga nggak mereda. Kebetulan sebagian warga kami memakai jebakan yang menggunakan aliran listrik. Hasilnya memang efektif banyak tikus yang kena, tapi juga sangat bahaya. Makanya sering saya sosialisasi untuk lebih berhati-hati dan selalu mengecek,” tutur Kades Jambanan, Sidoharjo, Sugino Welly kepada JOGLOSEMARNEWS.COM beberapa waktu lalu.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com