JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Elektabilitas Anies Meroket di Survei Terbaru, Pengusaha Jakarta Klaim Imbas Sragen Effect dan Stabilkan Harga Sembako. Pengamat Sebut Kebijakan Anies Positif dan Out of The Box!

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (kanan) didampingi Wakil Ketua Umum Perpadi Jakarta, Billy Haryanto (kiri) saat mengecek produksi beras di pabrik beras Masaran, Sragen, Sabtu (24/4/2021). Foto/Wardoyo

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Setelah ramai menjadi perbincangan lewat aksi blusukan menyerap beras ke beberapa daerah, elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai salah satu kandidat calon Presiden meroket, Selasa (4/5/2021).

Hasil survei Litbang Kompas yang dilansir Selasa (4/5/2021) terbaru menunjukkan Anies berada di posisi ketiga di bawah Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto.

Nama Anies juga mengungguli Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dengan selisih 3 persen. Anies di angka 10 persen sedang Ganjar di angka 7 persen.

Menurut salah satu pengusaha nasional asal Sragen, Billy Haryanto, meroketnya elektabilitas Anies Baswedan di survei terbaru itu bukan sesuatu yang berlebihan.

Sebab ia menilai kebijakan Anies yang mempu menjaga stabilitas harga sembako dan stabil menekan angka kasus Covid-19 di DKI, adalah poin-poin kelebihan yang diyakini berdampak positif bagi Anies dalam persepsi masyarakat.

“Kami melihat demikian. Bahwa elektabilitas Pak Anies makin naik karena dua faktor itu. Dia bisa menjaga stabilitas harga sembako di DKI dan menekan laju kasus Covid-19,” papar Billy kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (4/5/2021).

Lebih lanjut, pengusaha kenamaan asal Sragen yang juga Wakil Ketum Paguyuban Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) DKI itu menilai selain dua poin di atas, aksi blusukan Anies ke beberapa daerah di Jateng dan Jatim untuk menyerap beras ke DKI, juga berperan besar terhadap peningkatan elektabilitas.

Termasuk kunjungan ke pabrik beras di Masaran Sragen dan rencana pembelian beras untuk Jakarta, diklaim juga berimbas positif meredam keresahan petani yang sempat bergejolak akibat wacana impor.

Baca Juga :  Kecelakaan Tragis di Fly Over Ngrampal Sragen, Pemotor Perempuan Digasak 2 Mobil Secara Beruntun. Satu Mobil Penabrak Malah Kabur dari Tanggungjawab

“Kunjungan ke Sragen kemarin itu ternyata punya effect luar biasa. Kebijakan itu positif untuk menumbuhkan kepercayaan petani. Kemudian bagi pelaku usaha beras, juga bagus karena dengan memaksimalkan penyerapan beras di daerah, maka tidak perlu lagi impor beras dan harga bisa lebih stabil,” terang pengusaha yang akrab disapa Billy Beras itu.

Populis dan Out Of The Box

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Pujiyono menilai meningkatnya elektabilitas Anies itu tak bisa dipungkiri salah satunya memang karena isu yang diambil Anies terbilang populis dan out of the box.

Menurutnya, kegiatan Anies berkunjung ke daerah menyerap beras untuk kebutuhan warga DKI, seolah menjadi antitesis dari kebijakan pemerintah pusat yang mendorong untuk melakukan impor beras.

Langkah kerjasama ke beberapa daerah di Jateng dan Jatim, juga dipandang positif dan selaras dengan apa diinginkan petani dan masyarakat.

“Saat pemerintah pusat melalui menteri perdagangan mendorong untuk melakukan impor. Dan impor itu adalah kebijakan yang melukai ketidakadilan di tingkat petani dan masyarakat. Nah Anies menutup itu dengan antitesis yang luar biasa dengan memanfaatkan jejaring pemerintah daerah dengan mengisi kuota kebutuhan pangan di ibukota dengan bekerjasama dengan Sragen dan seterusnya,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM .

IMG 20210504 141449
Pujiyono. Foto/Wardoyo

Menurutnya, karena isu yang diangkat populis, sehingga wajar jika kemudian elektabilitasnya meningkat.

Puji juga menilai langkah blusukan dan penyerapan beras ke daerah itu juga positif bagi poros Anies dalam bursa tangga Presiden 2024.

Baca Juga :  Geger Pemuda di Teguhan Sragen Kota Ngamuk Lalu Nekat Bakar Rumah Orangtuanya Sendiri. Diduga Depresi Berat, Kondisi Ekonomi Orangtua Padahal Tidak Mampu

“Anies ini kebijakannya sebenarnya baik, bahkan menurut saya out of the box. Itu bagus, apa yang tidak dipikirkan oleh daerah lain atau bahkan pusat sekalipun, itu yang kemudian dilakukan oleh Anies,” urainya.

Soal kebijakan yang kemudian dikaitkan dikaitkan dengan isu Pilpres 2024, hal itu juga sesuatu yang wajar. Hanya, ia meyakini semua nama-nama yang muncul saat ini, tentu tidak muncul begitu saja.

“Apalagi sekarang sudah ramai mengenai konsultan politik dan seterusnya. Jangankan Anies, siapapun bisa melakukan itu. Pak Anies, Pak Ganjar, Bu Risma dan semua yang sekarang saat ini menjabat kemudian dikaitkan dengan persiapan 2024 di mana Pak Jokowi sesuai konstitusi tidak bisa mencalonkan lagi, ya wajar-wajar saja,” terangnya.

Meski demikian, Puji menyampaikan kans Anies untuk melaju ke Pilpres 2024 sangatlah tergantung dari kendaraan politik yang mengusungnya.

Yakni 20% partai kursi partai. Namun ia melihat antara elektabilitas dan tiket kendaraan itu seperti dua sisi yang berkaitan.

“Pertama partai itu pemegang kunci tapi ketika partai tokoh internalnya buntu pasti partai akan melirik tokoh-tokoh non partai yang bisa mendongkrak elektabilitas nya termasuk elektabilitas partai. Nah Anies ini sosok non partai, dia tidak pemegang kunci seperti ketua partai yang lain seperti Prabowo, Muhaimin dll. Maju tidaknya tidak bisa ditentukan oleh Anies sendiri, tetapi juga bagaimana para ketua partai mengarahkan partainya di menjelang 2024 seperti apa. Masih dinamis menurut saya,” tandasnya. Wardoyo