JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Di Yogya Ada Tarif Parkir dan Harga Pecel “Nuthuk”, di Bantul Duduk di Gubuk Pantai Parangtritis Dipaksa Bayar Rp 20.000

Suasana pantai Parangtritis / tribunnews
PPDB
PPDB
PPDB

BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasusnya hampir sama dengan Yogyakarta yakni tarif parkir dan harga pecel “nuthuk”, begitu juga di objek wisata pantai Parangtritis, Bantul.

Di sana, seorang wisatawan mengeluhkan saat duduk di sebuah gubung di kawasan pantai tersebut, dipaksa membayar Rp 20.000.

Padahal nyata-nyata di tempat itu tidak ada tulisan untuk tarif duduk di gubuk tersebut.

Mengenai kejadian tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul meminta pelaku wisata bisa menjaga Sapta Pesona agar wisatawan merasa aman dan nyaman saat berwisata ke Kabupaten Bantul.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Annihayah mengatakan saat ini Dinas Pariwisata dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) tengah gencar menata kawasan pariwisata, khususnya Pantai Parangtritis.

Pihaknya pun tidak segan memberikan sanksi pada pelaku wisata yang melanggar aturan.

“Saat ini kami sedang gencar menata, misalnya pedagang yang berjualan di tempat yang tidak seharusnya. Kemarin langsung kami tindak, termasuk mengangkut barang dagangannya,”katanya, Senin (31/05/2021).

Menurut dia perilaku pelaku wisata yang tidak terpuji dapat mencoreng citra pariwisata Kabupaten Bantul.

Seperti halnya yang dilakukan oleh oknum yang meminta uang Rp20.000 pada wisatawan yang duduk di sebuah gubuk di Pantai Parangtritis.

Peristiwa tersebut menjadi perbincangan di media sosial. Sebab tidak ada tulisan yang mengharuskan wisatawan membayar Rp20.000 per orang ketika duduk di tempat tersebut.

“Hal seperti itu tidak dibenarkan ya, karena bisa mencoreng citra pariwisata Kabupaten Bantul. Kemarin sudah surat edaran dari Kepala Dinas Pariwisata, boleh berusaha, tetapi harus mematuhi rambu-rambu. Misalnya dengan memasang daftar harga atau tarif layanan, termasuk menjaga Sapta Pesona,”terangnya.

Ia melanjutkan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul terbuka dengan usulan dan kritik dari wisatawan.

Sebab dapat membangun pariwisata Bantul menjadi lebih baik. Namun kritik dan saran tersebut sebaiknya disampaikan langsung pada Dinas Pariwisata.

“Bisa melalui website kami. Sehingga kami juga bisa segera menindaklanjuti laporan maupun aduan dari wisatawan,”lanjutnya.

Pihaknya juga akan terus melalukan sosialisasi dan edukasi pada pelaku wisata di wilayah Bantul, agar tetap menjaga Sapta Pesona.

“Kami selalu sampaikan imbauan melalui paguyuban-paguyuban. Tetapi memang masih ada oknum yang berbuat menyimpang. Kami akan terus lakukan sosialisasi dan edukasi melalui paguyuban-paguyuban,”tutupnya.

www.tribunnews.com