JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Lur, Wonogiri Sudah Masuk Zona Oranye, Obyek Wisata Masih Boleh Beroperasi Loh

Seorang warga menikmati panorama memukau Pantai Sembukan Paranggupito Wonogiri. JSNews. Aris Arianto
PPDB
PPDB
PPDB

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kabupaten Wonogiri saat ini sudah masuk ke dalam zona oranye alias resiko sedang penularan COVID-19. Hal ini berimbas kepada sejumlah kebijakan di tingkat daerah.

Salah satu kebijakan tersebut adalah soal boleh tidaknya obyek wisata beroperasi. Sesuai aturan pusat, daerah dengan resiko tinggi penularan COVID-19 harus sangat membatasi potensi terjadinya kerumunan. Termasuk di dalamnya penutupan obyek wisata.

Bupati Wonogiri Joko Sutopo alias Jekek menuturkan, kasus Corona di Wonogiri terkendali. Ini terbukti dengan masuknya kembali Wonogiri ke zona oranye setelah selama sepekan ditetapkan Satgas Pusat sebagai daerah zona merah. Selain itu peningkatan kasus juga tidak terjadi lonjakan.

Dengan fakta itu, menurut Bupati, obyek wisata masih bisa beroperasi. Hanya saja protokol kesehatan (prokes) harus menjadi pedoman bagi semua pihak.

“Semua pihak harus berpartisipasi dalam penerapan protokol kesehatan. Monitoring akan kita lakukan juga,” kata Bupati di gedung DPRD Wonogiri, Rabu (2/6/2021).

Selain monitoring, langkah lainnya juga bakal ditempuh. Yakni mengevaluasi semua kebijakan daerah termasuk soal obyek wisata. Jika ditemukan peningkatan kasus yang mengkhawatirkan bisa saja obyek wisata kembali ditutup sebagaimana terjadi pada musim Lebaran 2021.

Diwartakan, setelah sepekan zona merah, kini Wonogiri masuk dalam zona oranye. Data itu diketahui lewat peta risiko di website resmi Satgas Penanganan Covid-19 nasional.

Sempat disebutnya Wonogiri sebagai zona merah sempat membuat kaget Bupati Wonogiri Joko Sutopo pada pekan lalu. Sebab, berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 Wonogiri, Kota Sukses masuk dalam zona oranye.

Bupati mengatakan, data yang ada di pusat tidak perlu diperdebatkan. Meski begitu, pihaknya berharap sebelum data dari pusat ditampilkan, ada pertanggungjawaban validasi data yang dilakukan.

Menurut dia, apabila tidak ada pertanggungjawaban validasi data yang dilakukan maka hal itu bisa menimbulkan kepanikan baru. Misalnya seperti kejadian di Wonogiri pekan lalu, saat itu diketahui ada perbedaan selisih 123 kasus terkonfirmasi Corona yang kemudian menjadikan Wonogiri masuk zona merah satu-satunya di Jawa Tengah dan bersama Cirebon di Pulau Jawa.

“Itu kan tidak logis, yang jadi pertanyaan kami data dari Kemenkes itu panduannya apa. Semisal ada angka yang tidak wajar bisa klarifikasi kepada Satgas,” kata dia.

Meski saat ini di data Satgas Penanganan COVID-19 pusat zona Wonogiri tidak merah lagi, Bupati meyakini sejak pekan lalu zona risiko Corona di Wonogiri adalah oranye. Hal itu berdasarkan data laporan harian covid-19 (LHC) Wonogiri.

Apalagi, kata dia, di eks Karesidenan Surakarta penambahan kasus Corona di Wonogiri terendah. Pihaknya pun sudah melakukan pengecekan data setelah Wonogiri diumumkan zona merah dan ditemukan selisih ratusan kasus antara data Satgas daerah dan pusat.

“Pasca Lebaran, berdasarkan data kasus kita sangat terkendali,” tandas dia.

Berdasarkan data yang dihimpun dari website resmi Pemkab Wonogiri, hingga Selasa (1/6) pukul 21.00 WIB secara kumulatif tercatat ada 4.541 kasus korona di Wonogiri. Dari jumlah tersebut 187 diantaranya adalah kasus aktif dengan rincian 80 orang menjalani rawat inap di rumah sakit dan 107 lainnya menjalani isolasi mandiri. Sementara itu, 4.101 orang telah sembuh dan 253 orang lain meninggal dunia dengan status terkonfirmasi positif. Aris