JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Nekat Jemput dan Mandikan Sendiri Jenazah Covid-19, 8 Warga Gemolong Sragen Dinyatakan Positif Terpapar. Semua Akhirnya Dikukut ke Technopark

Ilustrasi pemakaman protokol covid-19. Foto/PMI Sragen
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus kematian warga Desa Brangkal, Kecamatan Gemolong, Sragen positif covid-19 berbuntut panjang.

Usai jenazahnya nekat dijemput dan dimandikan sendiri oleh keluarga, sebanyak 8 orang dinyatakan positif tertular.

Mereka positif setelah hasil swab PCR keluar kemarin. Dari hasil swab yang dilansir Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), ada 8 warga yang dinyatakan positif dari total 15 warga yang diswab hasil tracing kontak erat sebelumnya.

“Hasil swab sudah keluar. Ada 8 lagi yang positif. Sekarang sudah diisolasi mandiri di Technopark,” papar Kepala DKK Sragen, Hargiyanto, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (8/6/2021).

Ia menjelaskan sebelumnya ada 15 warga yang terlacak kontak erat dari meninggalnya Ny S (55) akhir pekan lalu.

Dari hasil tracing, ada 15 warga yang sempat kontak erat dengan almarhumah baik saat menjemput, maupun memandikan jenazah.

“Nanti akan kita lakukan swab lanjutan pada 8 orang,” jelasnya.

Sebelumnya sebanyak 15 warga diswab menyusul aksi nekat mereka menjemput dan memandikan jenazah pasien covid-19 asal Desa Brangkal, Kecamatan Gemolong.

Belasan warga itu akan diswab Jumat (4/6/2021) lantaran terlacak sempat kontak erat dengan jenazah perempuan berusia 55 tahun asal Brangkal yang meninggal Rabu (3/6/2021) malam.

“Yang mau diswab besok itu ada 15 orang. Datanya ada di Bu Bidan,” papar Kades Brangkal, Suratmin kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (3/6/2021).

Baca Juga :  Tak Terima Dituding Resahkan Warga, Keluarga Positif Covid-19 Asal Boyolali Akhirnya Buka Suara. Isolasi Mandiri di Gabugan Agar Tidak Nulari Cucu, Sebut Sudah Diijinkan Kelurahan dan Kecamatan

Kades menguraikan dari 15 warga yang terlacak kontak erat itu mayoritas adalah keluarga dan warga. Mereka kontak erat dengan jenazah karena menjemput dan ikut memandikan jenazah.

Namun untuk prosesi pemakaman, menurutnya dilakukan oleh petugas relawan dan dimakamkan secara protokol kesehatan.

“Memang dimandikan sendiri tapi yang memandikan pakai APD juga. Kalau yang memakamkan relawan dan secara prokes,” terangnya.

Kasus penolakan pemulasaraan jenazah positif covid-19 di Desa Brangkal, Kecamatan Gemolong, Sragen itu mencuat setelah sempat beredar kabar pihak keluarga menolak jenazah almarhumah diantar pakai ambulans RS Kasih Ibu Solo.

Ternyata, pihak keluarga jenazah perempuan tersebut memang sempat menolak untuk ditangani secara protokol kesehatan.

Pihak keluarga bahkan ngotot menjemput sendiri jenazah dari rumah sakit dengan ambulans yang dibawa sendiri. Mereka menolak jenazah diantar oleh ambulans dari rumah sakit dan petugas.

Manajer Humas RS Kasih Ibu, Solo, dr. Divan Fernandes melalui pesan whatsapp membenarkan perihal kasus tersebut.

“Semalam memang ada penolakan pemakaman dengan protokol Covid-19. Namun info yang kami punya tidak menggunakan ambulance,” kata Divan, Kamis (3/6/2021).

Divan memaparkan, jenazah asal Gemolong itu memang terkonfirmasi positif Covid-19. Sehingga harus dimakamkan menggunakan protokol yang telah diatur.

Baca Juga :  Solo Berduka, MC Kondang Annas Habibi Meninggal Dunia. Dimakamkan di Samping Pusara Ibunda Tercintanya di Makam SI Sragen

“(Jenazah) dibawa keluarga, memang terkonfirmasi (Covid-19). Saat ini sudah ditindaklanjuti sesuai dengan SOP,” tegasnya.

Terpisah, Kades Brangkal, Suratmin menyampaikan jenazah almarhumah memang tidak diantar ambulans rumah sakit. Hal itu karena keluarga memang sempat menghendaki menjemput sendiri jenazah.

“Iya memang dijemput ambulans dari SH (PSHT). Tidak diantar ambulans rumah sakit. Dari keluarga memang maunya dijemput sendiri,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Kamis (3/6/2021).

Kades menyampaikan setiba di rumah, jenazah memang dimandikan sendiri oleh keluarga. Namun ia menyebut orang yang memandikan memakai pakaian APD.

Setelah itu, menurutnya, jenazah kemudian tetap dimakamkan secara prokes. Pemakaman dilakukan oleh relawan.

“Iya, memang dimandikan sendiri tapi yang mandikan pakai APD. Tapi terus langsung dimakamkan pakai prokes. Yang memakamkan relawan,” tuturnya.

Kades menyampaikan jenazah yang positif covid-19 itu berjenis kelamin perempuan. Berusia sekitar 55 tahun dan profesinya petani.

Sebelum dirujuk ke RS Kasih Ibu Solo, almarhumah sempat dirawat ke RSUD Gemolong. Karena kondisinya memburuk, oleh rumah sakit dirujuk ke RS Kasih Ibu Solo.

“Hari Minggu dirawat, kemudian dirujuk ke RS Kasih Ibu Solo,” tegasnya.

Pemakaman dilakukan dinihari dan baru selesai jam 04.00 WIB. Pemakaman agak molor karena lokasi tanah agak keras dan butuh waktu untuk menggali. Wardoyo