JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Anak Usia 12-17 Sudah Bisa Vaksin. Perhatikan Kemungkinan Efek Sampingnya

ilustrasi vaksin anak / pixabay


Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra
Institut Sains Teknologi Kra

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Vaksin covid-19 tidak hanya diberikan kepada orang dewasa dan orang tua saja. Namun, program vaksinasi diperluas untuk anak berusia 12-17 tahun.

Pemerintah juga terus menggencarkan program vaksinasi tersebut. Seluruh warga, termasuk anak berusia 12-17 tahun, kini dapat diberikan vaksin.

Indonesia memulai program vaksinasi covid-19 anak-anak berusia 12-17 tahun guna mencegah semakin maraknya anak-anak yang terkena virus covid-19.

Karena, jika melihat fenomena sekarang banyak sekali anak kecil yang sudah terinfeksi virus tersebut sehingga memerlukan perawatan yang serius. Vaksin untuk anak sudah dijamin aman.

Sesuai dengan penelitian yang sudah ada, efektivitas, keamanan dan dosisnya, vaksin ini bisa diberikan kepada anak yang tubuhnya sehat.

Namun, jika orang tua merasa ragu akan efek samping dari vaksin, dapat melakukan beberapa cara ini.

“Sebelum vaksin, pastikan anak dalam keadaan sehat, tidak demam. Lalu, edukasi dulu anaknya. Buat apa dia harus vaksin untuk mencegah Covid-19, disuntik di bagian lengan, rasanya kayak ditusuk jarum. Kasitahu anak kalau nyeri sedikit nggak apa-apa. Jadi dia tau apa yang dia hadapi,” kata dr Ellen Wijaya, SpA dalam Media Discussion RSPI – Serba-serbi Vaksinasi Anak, Kunci Jitu Menjaga Imun Tubuh si Kecil dikutip dari liputan6.com, Jumat (16/7/2021).

Jika keesokan harinya anak vaksin, pastikan malam harinya istirahat yang cukup. Jangan biarkan anak begadang ketika akan vaksin.

Baca Juga :  Menko Airlangga Hartarto: Konsumsi Domestik Jadi  Penggerak Utama Perekonomian Tanah Air

Setelah vaksin, efek dari suntikan itu akan terasa pegal beberapa jam setelah vaksin. Namun jangan khawatir, anak tetap bisa beraktivitas seperti biasa.

Perlahan-lahan rasa nyeri bekas suntikan akan hilang. Selanjutnya, jika si anak demam jangan panic. Pastikan cek suhu anak terlebih dahulu.

Karena efek demam setelah vaksin dapat dikatakan bahwa anak itu sehat. Karena di dalam tubuh si anak sedang membentuk antibodi yang baru.

“Jika anak demam setelah divaksinasi namun masih bisa beraktivitas bisa jadi bukan demam berbahaya. Namun jika suhu anak di atas 38 derajat Celsius dan membuat anak jadi rewel dan gelisah boleh diberikan paracetamol dan kompres,” ujar Ellen.

Yang perlu diperhatikan adalah kesiapan anak sendiri. Apakah anak tersebut sudah berani untuk disuntik atau belum. Karena jika dari mental anak belum siap dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Sejauh ini, menurut Ellen belum ada kejadian parah pada anak setelah vaksinasi Covid-19. Vaksinasi ini justru bisa memberikan kekebalan yang melindungi anak sendiri tapi juga orang lain di sekitarnya.

Pelaksanaan suntik vaksin Covid-19 anak berusia 12-17 tahun dilaksanakan setelah keluarnya izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan rekomendasi dari Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional atau Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

Pemerintah telah menargetkan sebanyak 32,6 juta dosis vaksin diberikan kepada anak usia 12-17 tahun. Dalam program ini, anak usia 12-17 tahun mendapatkan vaksin Sinopharm. Jarak pemberian vaksin kepada anak adalah minimal 28 hari dari vaksin pertama.

Baca Juga :  Permintaan Domestik Meningkat, Kinerja Emiten Membaik

Sementara itu, dilansir dari situs resmi Kemenkes, vaksin anak usia 12-17 tahun didapatkan melalui sekolah/madrasah/pesantren dan bekerjasama dengan dinas pendidikan wilayah masing-masing.

Syarat yang diperlukan untuk mendapatkan vaksin adalah membawa Kartu Keluarga (KK) atau dokumen lainnya yang terdapat Nomor Induk Kependudukan anak, anak dalam keadaan sehat, mendapat izin orang tua, dan lolos screening kesehatan yang dilakukan sebelum vaksin.

Pemerintah tentunya berharap dengan adanya vaksin yang dilakukan untuk anak usia 12-17 tahun dapat mengurangi laju penyebaran covid-19. Inasya Salma Nabila