JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Gara-gara Salah Paham, 250 Tabung Oksigen di RS PKU Yogyakarta Ditarik Pihak Vendor Ki

ilustrasi tabung oksigen / tribunnews

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebanyak 250 tabung oksigen medis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta ditarik lantaran terjadi kesalahpahaman.

Dirut RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Komaruddin menjelaskan, ihwal penarikan tabung tersebut bermula ketika rumah sakitnya kalang kabut mencari persediaan oksigen yang mulai menipis sejak 4 Juli 2021 lalu.

RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta kemudian mencoba meminta pasokan tambahan dari distributor tersebut.

Menurut Komaruddin, distributor itu  memang selama ini rutin mengirimkan suplai oksigen untuk cadangan kebutuhan rumah sakitnya.

Sementara suplai oksigen sentral sejauh ini pengelolaannya masih satu pintu melalui Satgas Oksigen Pemda DIY.

“Penarikannya itu 10 dan 11 Juli. Beberapa minggu itu dia (distributor) rutin, sangat membantu sekali. Karena dengan 250 tabung itu biasanya antar 100 (tabung), ambil 100, antar lagi 125. Bisa untuk backup kalau oksigen yang cair (sentral) habis,” katanya, saat dikonfirmasi Rabu (14/7/2021).

Persoalannya, pada tanggal 4 Juli itu ketersediaan oksigen milik distributor tersebut kebetulan sedang asat.

Mengingat kondisi darurat, Komaruddin mencari vendor dari perusahaan lain sampai ke Tuban, Jawa Timur.

“Kemudian (tabung) saya pakai untuk isi oksigen dari perusahaan lain,” ucapnya.

Pihak distributor langganan RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta yang mengetahui hal ini merasa keberatan tabungnya diisi oksigen dari perusahaan lain.

Baca Juga :  Ketua Satgas Covid-19 Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi Terpapar Virus Corona

Komaruddin menegaskan pangkal permasalahan itu adalah murni ketidaktahuannya akan etika bisnis.

Pasalnya, selama ini tidak ada hitam di atas putih atau kontrak antara rumah sakit dan distributor tersebut.

“Nggak ada kontrak, administrasi juga nggak ada. Sehingga, saya juga nggak paham kalau ada etika yang harus saya patuhi. Saya pikir karena kondisi kritis saya harus menyelamatkan (pasien),” sebutnya.

Komaruddin menyadari semua itu adalah kesalahan pihaknya. Ia sudah meminta maaf secara langsung kepada distributor langganannya tadi. Dia juga meminta agar perkara ini tak diulur-ulur.

 

“Sudah kami anggap selesai. Silahkan diambil tidak apa-apa. Memang berpengaruh, tapi InsyaAllah bisa kita atasi,” ucapnya.

Sejak saat itu, kerja sama antara rumah sakit dan distributor tersebut pun resmi berakhir.

RS PKU Muhammadiyah kini harus mencari tabung-tabung lagi untuk cadangan kebutuhan oksigen.

“Sekarang tabung beli sendiri, kita isi sendiri. Muter-muter cari. Karena kita butuh banyak (cadangan),” urainya.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY Huda Tri Yudiana menegaskan apa yang terjadi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta bisa menjadi pelajaran di daerah lain.

Menurutnya, saat ini memang kebutuhan oksigen di mana-mana sulit. Pihaknya pun meminta kepada Polda DIY untuk memberi perlindungan bilamana kesalah pahaman itu bergulir sampai ke meja hukum.

Baca Juga :  Kasus Covid-19 di DIY Masih Tinggi, Sehari Muncul 1.431 Kasus Baru dengan Meninggal 97 Orang

“Itu kan sudah beredar kabarnya. Saya harap ya ada perlindungan dari Polda. Karena ini urusannya keselamatan seseorang,” ungkapnya.

Kepada Pemda DIY, dirinya mendesak supaya sesegera mungkin eksekutif mengupayakan tabung oksigen induk yang digunakan untuk memenuhi pasokan oksigen di rumah sakit rujukan.

“Entah mau dikasih satu persatu rumah sakit, atau ditaruh di mana tapi oksigen penting untuk sekarang ini. Karena tidak ada perhitungan yang lebih penting selain hitungan nyawa untuk saat ini,” pungkasnya.

www.tribunnews.com