JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Film

Film “Yuni” Raih Penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival

Instagram

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kabar gembira datang dari dunia perfilman Indonesia. Film Yuni, garapan Kamila Andini mendapat penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival beberapa waktu lalu.

Ini terjadi setelah sebelumnya film adaptasi Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas meraih Golden Leopard di Locarno International Film Festival.

Penghargaan itu diumumkan Minggu (19/9/2021) yang lalu. Seperti dilansir dari Tempo.com, sang sutradara, Kamila Andini mengungkapkan bahwa ia tidak percaya dapat membawa pulang penghargaan  itu.

“Dan ini telah menjadi kali ketiganya saya membawa karya baru di sinema dan TIFF, jadi ini sangat tidak bisa dipercaya, saya tidak bisa percaya ini,” ungkap Kamila Andini dalam acara penghargaan tersebut.

Kamila juga menambahkan bahwa film ini adalah harapan baru, persembahan untuk perempuan-perempuan Indonesia yang suaranya belum didengar atau bahkan sedang dibungkam.

“Dan ini untuk setiap perempuan di Indonesia dan dunia yang berjuang, berusaha selama bertahun-tahun, mencari, berusaha menemukan kebebasan mereka sendiri. Ini bukan hanya untuk Indonesia, ini kemenangan untuk Asia Tenggara,” tambah Kamila lagi.

Toronto International Film Festival (TIFF) sendiri merupakan festival film yang berlangsung setiap September di Toronto, Ontario, Kanada.

Salah satu juri dalam festival ini Riz Ahmed menyebutkan bahwa penghargaan itu diberikan kepada film yang memiliki nilai artistik yang tinggi dan menunjukkan visi penyutradaraan yang kuat.

“Para juri merasa tergerak dengan film yang membawa kesegaran, perspektif intim ke cerita yang maju, ditandai struktur yang kuat, framing yang halus dan sinematografi yang kuat,” ungkap Ahmed terhadap film Yuni.

Mengangkat isu perempuan di Indonesia dengan nilai seni yang tinggi, tidak mengherankan film Yuni menyabet penghargaan tersebut.

Yuni diperankan oleh Arawinda Kirana. Meskipun tergolong aktor baru dalam dunia perfilman, perannya menjadi Yuni begitu menarik perhatian.

Mengambil judul dari nama tokohnya, Yuni bercerita tentang gadis muda yang dikekang tradisi dan adat nenek moyangnya.

Yuni (Arawinda Kirana) adalah gadis berprestasi di sekolahnya. Membawa jati diri sebagai gadis yang menginginkan kebebasan untuk dirinya.

Ia berpotensi mendapat beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Sayang lingkungan Yuni bukan lingkungan yang memberikan dukungan bagi perempuan untuk mewujudkan cita-citanya.

Ia dilamar dua orang pria dan keduanya ia tolak. Penolakan itu membawanya pada gejolak mitos yang beredar di masyarakat bahwa perempuan yang menolak tiga lamaran tidak akan menikah di kemudian hari. Yuni seolah terkekang dalam rantai budaya ini.

Dikutip dari akun Instagram @movreview dalam ulasannya mengenai film Yuni, film ini menampilkan konflik utama berupa pernikahan dini dengan dampak psikologi dan fisiologi dalam jangka panjang.

Film ini menyinggung budaya-budaya yang masih mengekang perempuan sebagai sosok perempuan yang kerap kali dipinggirkan.

Dalam trailer resminya, Kamila menyisipkan narasi dari puisi Hujan Bulan Juni milik Sapardi Djoko Damono. Kamila berhasil mengemas Yuni dalam kisah puitik yang menyedihkan. Sri Rejeki

Bagi Halaman