JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kasus OTT Rp 20 Juta Ketua LSM Formas Sragen, Mengapa Kades Hanya Jadi Saksi. Begini Penjelasan Tim Saber Pungli!

Kasi Intel Kejari Sragen, Dipto Brahmono. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tim Satgas Saber Pungli Kabupaten Sragen memastikan Kades Kecik, SS, hanya sebagai saksi dan korban dalam kasus operasi tangkap tangan (OTT) Ketua dan Anggota LSM Formas Sragen, Senin (8/11/2021).

Meski bertindak sebagai pemberi uang, posisi Kades dalam kasus OTT itu dinilai hanya sebagai korban pemerasan yang dilakukan oleh Ketua dan anggota LSM tersebut.

“Kenapa Kades hanya jadi saksi, ya karena dia korban. Karena posisinya diancam. Jadi dalam OTT ini, bukan suap tapi pemerasan. Itulah bedanya dengan OTT KPK. Kalau suap itu pemberi dan penerima kena semua, tapi kalau pemerasan, hanya penerima saja,” papar Wakil Ketua Tim Satgas Saber Pungli Kabupaten Sragen, Dipto Brahmono kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Rabu (9/11/2021).

Baca Juga :  Sertifikat 3 Peserta Dicoret, Pemenang Seleksi Perangkat Desa di Padas Tanon Akhirnya Berubah. Mursyid Naik, Pemenang Awal Terjungkal

Dipto yang juga Kasi Intel Kejari Sragen itu menjelaskan kasus itu masuk pemerasan karena uang diberikan lantaran posisi Kades merasa terancam dan dalam tekanan.

Lantas, yang diuntungkan dalam kasus ini, hanya satu pihak yaitu LSM tersebut.
Kemudian, yang diberi uang adalah LSM, bukan orang yang punya power atau ejawantah dari negara.

Sehingga kasus itu tidak memang termasuk ranah tindak pidana korupsi atau suap, melainkan lebih ke pemerasan atau pidana umum.

“Kalau orang merasa terancam itu kan secara psikis dia tidak bisa berfikir logis. Ada orang merasa diancam we ngko nek ra menehi duwik tak laporkan ke hukum entah ke polres atau kejaksaan, itu bukan suap menyuap. Karena yang diuntungkan cuma satu pihak,” jelasnya.

Baca Juga :  Disdikbud Sragen Akhirnya Terjun Cek SD Rusak Mirip Kandang Ayam di Kebonromo Ngrampal. Kabid Akui Rusak Berat, Dijanjikan Rehab Pakai DAK

Perihal kemungkinan ada pihak lain yang terlibat, Dipto menyebut masih menunggu perkembangan penyidikan di Polres.

Sebab saat ini kasus itu sedang ditangani oleh Polres. Meski demikian, ia menyampaikan sejak awal memang oknum LSM atau terduga pelaku pemerasan itu memang sudah menyebut nominal uang Rp 100 juta ke Kades.

Uang itu bahkan sempat ditulis di secarik kertas dan disampaikan ke Kades.

“Nggak nyebut (angka) tapi menulis di secarik kertas. Mintanya Rp 100 juta, Rp 20 juta itu DP-nya (uang muka),” terang Dipto.

Halaman selanjutnya

Halaman :  1 2 Tampilkan semua