JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisruh PT Glory Sragen, Puluhan Warga Bener Ngrampal Kompak Tolak Negosiasi dengan 3 Orang. Salah Satunya yang Paling Berpengaruh di Perusahaan

Warga Desa Bener, Ngrampal, Sragen saat membentangkan spanduk berisi tuntutan kompensasi pembangunan pabrik PT Glory sebelum demo ke balai desa, Senin (26/7/2021). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Puluhan warga di Desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Sragen terdampak pembangunan PT Glory Industrial menyatakan menutup pintu negosiasi dengan tiga orang yang terkait perusahaan itu.

Mereka menolak bernegosiasi lantaran sudah tidak percaya dengan tiga pihak tersebut. Pernyataan penolakan itu disampaikan melalui deklarasi tertutup dihadiri sekitar 20an warga.

Ketua Forum Bener Bersatu (Forbes), Iskandar mengatakan pernyataan penolakan negosiasi itu disampaikan saat pertemuan warga di sekitar pabrik yang merasa terdampak.

“Jadi kemarin ada 20 warga terdampak spontan berkumpul dan mengikrarkan tidak masalah kalau ingin berdamai. Tapi warga tidak mau berurusan dan bernegosiasi dengan 3 orang yang ada di pabrik dan terkait dengan pabrik,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , kemarin.

Tiga orang itu adalah pengacara, HRD dan general manajernya atau GM. Iskandar menyampaikan ketiga orang itu ditolak karena sudah bermasalah dengan warga dan membuat warga sudah kehilangan kepercayaan.

Mereka juga dinilai sudah melaporkan dirinya dan beberapa tokoh ke kepolisian. Sehingga tawaran mediasi dan negosiasi yang ditawarkan pihak pabrik tidak akan dilayani apabila melibatkan ketiganya.

Baca Juga :  Soto Warga Rp 3.000 di Sragen yang Mendadak Jadi Buruan. Harga Merakyat, Rasa Khasnya Bikin Ketagihan

“Kemarin kami dapat info ada perwakilan dari pabrik melalui seseorang katanya pingin semua segera selesai dan damai. Tapi istilahnya wis kadung pingget. Makanya kalau mau negosiasi nggak apa-apa tapi jangan dengan 3 orang itu. Warga sudah nggak percaya,” tukasnya.

Menurutnya, penolakan negosiasi itu memang ada benang merah dan kelanjutan dari laporan perwakilan warga yang melaporkan Bupati dan Pimpinan PT Glory ke Polres beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan secara prinsip warga tidak ingin mempersulit atau menghambat jalannya perusahaan.

Namun yang dikehendaki adalah perusahaan bisa memperhatikan kewajiban terhadap hak warga terdampak.

“Saya sendiri sudah dua kali dipanggil Polres untuk di-BAP. Harapan warga kalau tidak ada negosiasi, nanti tetap proses hukum jalan terus. Kami berharap aparat juga bisa cepat menangani kasus ini,” tandasnya.

Sebelumnya 18 advokat atau pengacara Sragen yang tergabung dalam Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Sragen melaporkan salah satu Ketua RT di Desa Bener, Kades Bener, pimpinan PT Glory Industrial dan Bupati Sragen terkait penutupan akses jalan warga untuk kepentingan pembangunan PT Glory ke Polres dua bulan lalu.

Baca Juga :  PKBS Klaim Punya 8 Juta Anggota Tersebar di Berbagai Penjuru Dunia. Ketua Umum, Tedy Sujarwanto: Wong Sragen Harus Punya Posisi yang Tinggi!

Belasan advokat itu melapor setelah mendapat surat kuasa dari sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di dua RT yakni RT 26 dan 27 di sekitar pabrik, yang terdampak oleh penutupan jalan.

Ketua PBH Peradi Sragen, Amriza Khoirul Fachri mengatakan kedatangannya bersama 17 advokat ke Polres itu untuk melaporkan dugaan pelanggaran yang dilakukan sejumlah pihak terkait penutupan jalan desa antara RT 26 dan 27 Benersari, oleh pihak pabrik PT Glory.

Ia menyebut ada 4 pihak yang dilaporkan. Masing-masing Ketua RT, Kades Bener, pimpinan pabrik dan Bupati Sragen.

Keempat pihak itu diduga turut andil terhadap penutupan jalan sepanjang 150-200 meter untuk kepentingan pabrik tanpa melalui prosedur yang benar.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua