JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tak Hanya Diancam, Orangtua Siswi Korban Perkosaan Massal di Sragen Mengaku Sempat Ditawari Uang Rp 500.000 untuk Bungkam

Ilustrasi / tribunnews

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus perkosaan siswi SD berusia 9 tahun asal Sukodono, Sragen berinisial W, oleh beberapa remaja SMP dan oknum guru silat terus menyisakan cerita memilukan.

Tidak hanya mendapat ancaman dari berbagai pihak, orangtua korban juga mengaku sempat dipaksa tidak meneruskan laporannya ke polisi dan ditawari uang bungkam Rp 500.000.

Meski demikian, D (39) orang tua siswi malang itu mengaku tidak akan tinggal diam dan akan terus berjuang mencari keadilan atas kasus yang menimpa putri semata wayangnya itu.

“Iya, saya pernah ditawari uang oleh oknum untuk menutup kasus dengan diberikan uang dengan nominal Rp 500.000. Tapi nggak saya terima, saya tetap akan mencari keadilan sampai di mana pun,” papar D kepada wartawan, Sabtu (20/5/2022).

Baca Juga :  Cegah Petugas Nakal, SKKH untuk Hewan Kurban Akan Diterbitkan H-2 Idul Adha. Ini Teknis Pemberiannya!

Orangtua yang bekerja serabutan di Solo itu hanya berharap hukum bisa ditegakkan. Para pelaku yang tega merusak putrinya bisa segera diproses dan dihukum setimpal dengan perbuatan mereka.

Sebab selain merenggut kesucian putrinya, para pelaku juga memberikan tekanan psikis karena sempat mengancam putrinya saat melakukan perbuatan bejat mereka.

Bahkan akibat kejadian itu, putrinya sempat syok berat, trauma ketemu orang dan sempat tak mau keluar.

Bahkan saking stresnya ditekan, D (39) orang tua korban sempat mengajak sekeluarga ngungsi ke hutan demi mendapat ketenangan.

Hal itu disampaikan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron Solo, Andar Beniala Lumbanraja yang mendampingi korban melaporkan kasus itu ke Polres Sragen.

Ia menyayangkan lambannya respon dan penanganan di Polres Sragen yang hampir dua tahun tak kunjung menetapkan tersangka.

Baca Juga :  MUI Bolehkan Ternak Gejala PMK Ringan untuk Kurban. Ini Syarat Hewan yang Dibolehkan!

Hal itu akhirnya berimbas buruk terhadap kondisi psikis korban dan keluarganya di nata masyarakat.

Kasus yang tak kunjung jelas akhirnya membuat korban dan orangtuanya menjadi sasaran ancaman dan bullying.

Bahkan, sang bapak dan korban yang tak tahan diintimidasi agar tidak meneruskan kasusnya, sempat memilih mengungsi ke hutan lantaran ketakutan sering diancam.

“Korban yang masih anak itu sempat diancam, bapak dan anak ini sampai masuk ke dalam hutan. Mereka ketakutan dan itu juga tidak diperhatikan Polres Sragen,” paparnya kepada wartawan kemarin.

Andar menjelaskan fakta ancaman dan keluarga korban sampai mengungsi itu juga sempat disampaikan ke kepolisian.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua