JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Indonesia Dorong Negara-negara untuk Capai Net Zero Emission di 2060

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airllangga Hartarto / Istimewa

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Presidensi G20 Indonesia memiliki fokus pada tiga prioritas utama yang akan menjadi panduan bagi para Pemimpin Negara G20 untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret, pro rakyat dan dapat diimplementasikan.

Ketiga prioritas utama tersebut adalah: Pertama, menata kembali arsitektur kesehatan dunia yang lebih inklusif dengan menjamin ketersediaan vaksin yang lebih merata dan sistem kesehatan yang tangguh dan inklusif.

Kedua, mendorong transformasi ekonomi berbasis digital untuk mendorong UMKM dan menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Ketiga, mempercepat transisi energi yang lebih ramah lingkungan. Transisi energi bukan sekadar harus adil antara kepentingan negara berkembang dan negara maju, tetapi juga harus terjangkau, baik dari sisi teknologi maupun pembiayaannya.

Melalui tiga prioritas utama tersebut, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, diharapkan Presidensi G20 Indonesia mampu menghasilkan proyek dan kerja sama ekonomi yang implementatif, sehingga dapat mendukung pemulihan ekonomi global.

Baca Juga :  29 Hari Dinanti, Begini Penampilan Istri Ferdy Sambo Saat Muncul ke Publik. Rambut Kusut dan Mata Sembab

“Harapan ini sesuai dengan arahan dari Bapak Presiden Joko Widodo,” ujar Menko Airlangga, seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews.

Lebih lanjut, Menko Airlangga menjelaskan, mengenai persoalan transisi energi, Presidensi G20 Indonesia salah satunya digunakan untuk mengenalkan skenario Indonesia dalam mencapai Net Zero Emission di tahun 2060.

Negara anggota G20 juga harus berfokus pada sumber pendanaan untuk investasi pada transisi energi ke energi terbarukan.

“Ada semacam model yang sedang dibahas dengan ADB dan lembaga keuangan lain yakni model yang akan optimal secara ekonomi untuk mempercepat transisi, terutama energi yang berbasis fosil, khususnya PLTU,” tutur Menko Airlangga.

Baca Juga :  Fakta Kebenaran Mulai Terbongkar, Tim Pengacara Bharada E Langsung Putuskan Mengundurkan Diri. Benarkah Ada Tekanan?

Dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis energi akibat perang antara Rusia dan Ukraina, setiap negara termasuk di Eropa mengutamakan energy security, karena mereka akan mengalami musim dingin sehingga membutuhkan diversifikasi suplai energi dari Rusia, misalnya dalam bentuk LNG dan batu bara.

“Dalam jangka menengah, energi terbarukan tetap penting. Indonesia tetap mendorongnya dengan berbagai kegiatan. Pemerintah juga akan memberikan insentif seperti insentif fiskal, sehingga proses transisi menuju energi terbarukan akan tercapai dalam waktu tak terlalu lama,” ucap Menko Airlangga.

Di sisi lain, demikian Menko Airlangga, dengan situasi seperti saat ini, dunia membutuhkan sumber pertumbuhan baru, dan salah satu yang paling memungkinkan adalah melalui digitalisasi yang akan makin pesat pasca pandemi Covid-19 ini.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com