JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Miris, 300 Lebih Anak di Sragen Terpaksa Menikah di Bawah Umur. Ada Juga yang Dipaksa

Ilustrasi pernikahan dini

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyoroti masih tingginya angka perkawinan anak di bawah umur atau anak usia dini di Bumi Sukowati.

Hingga Oktober 2022, tercatat lebih dari 300 anak di Sragen menikah dalam kondisi di bawah umur atau terpaksa menggunakan dispensasi pernikahan.

Pemicunya beragam, ada yang dipaksa menikah ada pula yang terpaksa harus menikah karena keadaan meski belum cukup umur.

Hal itu terungkap saat digelar penandatanganan komitmen pencegahan perkawinan anak dengan menyelenggarakan Rakor Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak (KLA) dan Penandatanganan Deklarasi Pencegahan Perkawinan Anak yang dilaksanakan di Ruang Sukowati Setda Sragen, Selasa (22/11/2022).

Baca Juga :  Breaking News: Kecelakaan Maut di Sambungmacan Malam Ini, Satu Korban Tewas di Lokasi Kejadian

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati dalam sambutannya yang dibacakan Wabup Suroto menyampaikan apresiasi Bupati atas perolehan penghargaan KLA tingkat Nindya, yang merupakan penghargaan dari Kementrian PPPA.

Penghargaan itu dinilai merupakan kerja keras dari seluruh pihak mulai dari stakeholder yang tergabung dalam Gugus Tugas KLA Kabupaten Sragen.

“Kami mengucapkan terimakasih khususnya Tim Gugus Tugas KLA yang sudah bekerja keras dalam rangka mendukung pemenuhan hak dan perlindungan anak di Kabupaten Sragen,” papar Bupati.

Walaupun telah memperoleh penghargaan Nindya masih banyak tugas yang harus diselesaikan oleh Gugus Tugas KLA.

Pertama, masih adanya tindak kekerasan yang terjadi pada anak, baik di sekolah, rumah dan masyarakat.

Baca Juga :  Urusan Belum Beres, Siap-Siap 57 Kades di Sragen dan Camatnya Bulan Depan Dibriefing Bupati!

Hal ini menunjukkan masih perlunya peningkatan layanan dalam bidang perlindungan anak serta regulasi tentang perlindungan anak.

Kedua, tingginya angka perkawinan anak yang menurut data dispensasi perkawinan per Oktober 2022 di atas angka 300. Angka ini merupakan angka yang tinggi di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Perkawinan anak merupakan salah satu bentuk tindak kekerasan terhadap anak. Anak yang dipaksa atau karena kondisi tertentu harus menikah dibawah usia 18 tahun akan memiliki kerentanan kehilangan hak-haknya.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com