JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Cuma Menjabat 8 Bulan Saja, AHY Pegang Rekor Menteri Tersingkat di Kabinet Jokowi

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tengah bercengkerama dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) / tempo.co
   

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM –  Jika tidak ada reshuffle lagi, maka Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan menjadi menteri di Kajinet Jokowi yang paling singkat, yakni hanya 8 bulan saja.

Diketahui,  putra sulung presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu resmi menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (Menteri ATR/BPN).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantiknya di Istana Negara pada Rabu (21/2/2024). Sebagai informasi,  AHY menggantikan Hadi Tjahjono yang kini berganti jabatan menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, menggantikan Mahfud Md yang mundur pada 31 Januari 2024.

Di hari pertama menjabat, AHY menyatakan  ingin menghadirkan ATR yang humanis.

“Yang benar-benar menyentuh masyarakat,” kata AHY ketika ditemui di Kantor Kementerian ATR/BPN pada Rabu (21/2/2024) sore.

Dengan begitu, AHY akan menjadi menteri tersingkat sepanjang rezim Jokowi, karena maksimal sampai 20 Oktober 2024 telah berganti pemerintahan dan dibentuknya kabinet baru. Artinya, AHY hanya akan menjabat 8 bulan saja.

Tedjo Edhy Purdijatno yang pernah menjabat Menko Polhukam pada masa pemerintahan Jokowi, sebelumnya tercatat sebagai menteri tersingkat, karena hanya menjabat 10 bulan.

Profil AHY

Pada 1997, AHY meraih penghargaan sebagai lulusan terbaik dari SMA Taruna Nusantara dan mendapat Garuda Trisakti Tarunatama Emas. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer (Akmil), di mana ia meraih prestasi yang gemilang.

Baca Juga :  Presiden PKS Kunjungi NasDem Tower, Paloh: NasDem dan PKS Siap Gabung Pemerintah Maupun Oposisi

AHY berhasil meraih berbagai penghargaan sejak tahun pertama menjadi taruna Akmil. Pada tahun 1999, ia meraih medali Tri Sakti Wiratama atas prestasi kolektif dalam bidang akademik, kebugaran fisik, dan kepribadian. Hal ini membawanya terpilih sebagai Komandan Resimen Korps Taruna. Pada tahun 2000, AHY lulus dari AKMIL dengan predikat terbaik dan meraih Bintang Adhi Makayasa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di AKMIL, AHY mengikuti Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri dan Kursus Combat Intel. Pada tahun 2008, ia mengikuti kursus Scuba Divers TNI AL di Kepulauan Seribu.

Tidak hanya pendidikan militer, AHY juga mengejar pendidikan tinggi formal. Ia meraih tiga gelar pendidikan master: gelar Master of Science in Strategic Studies dari Nanyang Technological University, Singapura pada tahun 2006, gelar Master in Public Administration dari Harvard University, Amerika Serikat pada tahun 2010, dan gelar Master of Arts in Leadership and Management dari Webster University Amerika Serikat pada tahun 2015, dengan predikat Summa Cum Laude.

Setelah lulus dari AKMIL, AHY bergabung dengan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD) dan kemudian menjabat dalam berbagai posisi di TNI. Namun, pada September 2016, ia memutuskan untuk mundur dari TNI dan memasuki dunia politik.

AHY memasuki dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pemilihan Umum Gubernur DKI Jakarta 2017. Namun, ia harus menerima kekalahan dan kemudian terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat untuk periode 2020-2025.

Baca Juga :  Tak Terkejut Putusan MK, Cak Imin: Bukti Bahwa MK Tak Cukup Kuat untuk Hambat Pelemahan Demokrasi

Pada 15 Maret 2020, AHY dipilih dan berhasil menduduki posisi Ketua Umum Partai Demokrat untuk periode 2020-2025. Ia mendapat dukungan dari 34 provinsi dan 514 Kabupaten serta Kota di seluruh Indonesia.

Angin segar bagi Partai Demokrat

Dalam buku Harga Sebuah Pilihan: Strategi PKS dan Partai Demokrat Menata Raut Wajah yang diterbitkan pada tahun 2018, diungkapkan bahwa Partai Demokrat dibentuk dengan strategi membangun organisasi dari atas, yang difokuskan pada popularitas tokoh karismatiknya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tujuan utama pembentukan partai ini tanpa diragukan lagi adalah untuk mendukung SBY sebagai calon presiden pada pemilihan umum 2004. Keberadaan SBY yang sudah dikenal luas di masyarakat lebih dulu menjadi daya tarik daripada kepopuleran Partai Demokrat itu sendiri. Proses pembentukan partai ini dilakukan dengan cepat, dengan mengandalkan jaringan dari pendirinya yang terdiri dari kalangan akademisi dan pengusaha.

Walaupun berhasil memperoleh suara yang signifikan pada Pemilu 2004 dan bahkan menjadi partai pemenang pada Pemilu 2009, Partai Demokrat tak mampu mempertahankan elektabilitasnya sebagai partai yang mengandalkan tokoh. Dengan terpilihnya AHY sebagai menteri, Partai Demokrat pun turut menerima angin segar.

www.tempo.co

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com