
SOLO, JOGLOSEMMARNEWS.COM — Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, membeberkan alasan di balik penetapan Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi sebagai penerus kepemimpinan adat Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Menurut Gusti Moeng, proses penetapan tersebut tidak dilakukan secara sederhana, melainkan melalui berbagai pertimbangan adat yang melibatkan keluarga besar Karaton Surakarta dan trah Mataram Islam Surakarta.
Selain memperhatikan garis keturunan atau nasab, keluarga besar karaton juga mempertimbangkan aspek kepemimpinan, tanggung jawab, pemahaman adat, serta kemampuan mengayomi keluarga besar karaton.
Saat ditanya mengenai alasan memilih KGPH Hangabehi sebagai penerus takhta, Gusti Moeng memberikan jawaban singkat namun tegas.
“Saya hanya ingin meluruskan sesuai garis nasabnya,” ujar Gusti Moeng.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa aspek garis keturunan menjadi salah satu dasar penting dalam proses penetapan penerus kepemimpinan adat Karaton Surakarta.
Putra Tertua Paku Buwono XIII
Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi lahir dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Soerjo Soeharto pada 5 Februari 1985. Ia merupakan putra tertua almarhum SISKS Paku Buwono XIII dari istrinya, KRAy Winari Sri Haryani.
Sebelum menyandang gelar Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi, ia terlebih dahulu bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi, salah satu posisi penting dalam struktur Karaton Surakarta. Gelar tersebut kemudian berubah menjadi KGPH Hangabehi pada 24 Desember 2022.
Tidak Hanya Nasab, Kepemimpinan Juga Menjadi Pertimbangan
Narasumber Karaton Surakarta, KRMH Saptono Djati, menjelaskan bahwa proses penetapan KGPH Hangabehi sebagai penerus kepemimpinan adat tidak hanya mempertimbangkan faktor keturunan semata.
Menurutnya, keluarga besar Karaton Surakarta juga memperhatikan karakter pribadi, pemahaman adat, kemampuan mengayomi keluarga besar karaton, sentana dalem, dan abdi dalem, serta komitmen menjaga keberlangsungan budaya warisan leluhur.
“Pemilihan beliau bukan keputusan yang diambil secara tergesa-gesa. Banyak pertimbangan yang menjadi dasar keluarga besar Karaton Surakarta dan trah Mataram Islam Surakarta dalam memberikan kepercayaan kepada KGPH Hangabehi,” kata KRMH Saptono Djati.
Ia menjelaskan bahwa sosok KGPH Hangabehi selama ini dikenal aktif dalam kehidupan karaton dan memiliki pemahaman yang baik terhadap tata adat yang berlaku.
“Beliau dikenal santun, bertanggung jawab, memahami tata adat, serta memiliki kemampuan mengayomi keluarga besar karaton, sentana dalem, maupun abdi dalem. Pertimbangan itulah yang menjadi salah satu dasar keluarga memberikan kepercayaan kepada beliau,” ujarnya.
Menurut Saptono Djati, keluarga besar Karaton Surakarta menghendaki figur yang mampu menjadi pengayom sekaligus pemersatu dalam menjaga keberlangsungan adat dan budaya.
“Karaton membutuhkan figur yang mampu menjadi pengayom, pemersatu, dan teladan. Seorang pemimpin harus hadir untuk menjalankan tanggung jawabnya terhadap keluarga besar karaton, adat istiadat, serta warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur,” katanya.
Ditetapkan Melalui Mekanisme Adat Keluarga Besar Karaton
Saptono Djati menjelaskan bahwa setelah wafatnya Paku Buwono XIII, proses penentuan penerus kepemimpinan adat dibahas di lingkungan keluarga besar Karaton Surakarta melalui mekanisme adat yang berlaku.
Dalam proses tersebut, keluarga besar Karaton Surakarta kemudian menetapkan KGPH Hangabehi sebagai penerus kepemimpinan adat Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Prosesi penetapan dan penobatan berlangsung di Sasana Handrawina pada 13 November 2025.
Menurut Saptono Djati, dalam proses tersebut berbagai aspek menjadi bahan pertimbangan, mulai dari nasab, keteladanan pribadi, kemampuan mengayomi keluarga besar karaton, hingga komitmen terhadap pelestarian adat dan budaya Jawa.
Dukungan Sentana Dinilai Menguat
Pandangan serupa disampaikan BRM Nugroho Imam Santoso, putra almarhum GPH Notopuro sekaligus cucu Paku Buwono XI.
Ia mengaku berkesempatan mengikuti prosesi Grebeg Besar Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 28 Mei 2026 dan menyaksikan langsung jalannya upacara adat tersebut.
“Alhamdulillah, Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi memimpin langsung jalannya upacara tersebut dengan khidmat dan penuh wibawa,” ujar BRM Nugroho Imam Santoso
Menurutnya, Grebeg Besar tahun ini menunjukkan semangat kebersamaan yang kuat di lingkungan keluarga besar Kasunanan Surakarta.
“Pelaksanaan upacara kali ini sangat luar biasa karena mendapatkan dukungan dari seluruh sentana. Tidak hanya dari lingkungan keluarga Paku Buwono XIII, tetapi juga para sentana sepuh turut hadir dan memberikan dukungan kepada Sinuhun,” katanya.
Ia menilai kehadiran sentana dari berbagai generasi menjadi gambaran kuatnya semangat persatuan dalam menjaga keberlangsungan Karaton Surakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa.
“Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan dan persatuan di lingkungan Kasunanan Surakarta. Semoga ke depan dukungan yang semakin kuat ini dapat semakin memantapkan posisi Sinuhun dalam memimpin dan mengayomi Kasunanan Surakarta demi kelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur,” ujarnya.
Menurut para narasumber, keberlanjutan kepemimpinan adat di Karaton Surakarta tidak hanya berkaitan dengan suksesi, tetapi juga menyangkut upaya menjaga tradisi, tata nilai, dan warisan budaya yang telah menjadi bagian penting dari sejarah Mataram Islam Surakarta. Ando
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














