Beranda Umum Nasional Bahlil Klarifikasi Soal Stok BBM 21–25 Hari: Itu Kapasitas Tampung, Bukannya Mau...

Bahlil Klarifikasi Soal Stok BBM 21–25 Hari: Itu Kapasitas Tampung, Bukannya Mau Habis

Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia | Instagram

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Setelah pernyataannya sempat memicu panic buying di sejumlah daerah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya sibuk memberikan klarifikasi terkait ucapannya mengenai stok bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang disebut hanya cukup untuk 21 hingga 25 hari.

Bahlil menegaskan bahwa angka tersebut bukan berarti cadangan BBM nasional akan habis dalam kurun waktu tersebut. Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kapasitas penyimpanan atau daya tampung cadangan BBM di dalam negeri.

Menurutnya, sistem penyimpanan BBM bekerja secara dinamis karena pasokan terus masuk dan keluar seiring produksi maupun distribusi.

“Yang saya sampaikan itu adalah kapasitas tampung kita, kapasitas tampung kita itu tidak lebih dari 25 hari dan minyak kita yang waktu saya sampaikan itu, ada kapasitasnya 23 hari,” jelasnya, Rabu (11/3/2026), dikutip dari YouTube Kementerian ESDM.

Ia menambahkan bahwa angka tersebut bukan berarti cadangan akan langsung habis tanpa pengisian kembali.

“Tetapi bukan berarti 23 hari ini habis, bukan itu maksudnya, itu daya tampungnya. Hari ini 23 hari, ada yang keluar lagi contoh 1 juta kilo liter, ada masuk lagi karena produksi kita kan jalan terus,” tambahnya.

Bahlil juga menegaskan bahwa sebagian pasokan BBM Indonesia tidak bergantung pada kawasan Timur Tengah. Karena itu, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut tidak langsung memengaruhi pasokan bahan bakar dalam negeri.

“Kita ambil dari mana? Asia Tenggara, di mana Asia Tenggara itu? Malaysia dan sebagian dari Singapura, tidak ada urusannya sama Selat Hormuz,” tegasnya.

Ia juga meminta agar pernyataannya tidak dipelintir sehingga menimbulkan kepanikan di masyarakat.

“Kalau yang mengatakan bahwa habis 21 hari, sorry ye, jadi maksudnya jangan dipelintir. Jadi contoh hari ini 3 hari keluar, produksi kita, di kilang kita keluar, masuk lagi, isi lagi. Dia itu semacam bak. Tahu enggak ada bak? Kalau saya di kampung dulu enggak ada air PAM, ada air bak.”

“Bak itu menampung hujan, kapasitas mungkin cuma 3 ton. Begitu hujannya tidak ada, airnya ditampung di situ. Kami pakai mandi habis mungkin setengah, begitu setengah habis, hujan turun, isi lagi,” kata Bahlil menjelaskan.

Baca Juga :  Praperadilan Gus Yaqut Ditolak, KPK Siap Tancap Gas Lanjutkan Penyidikan Kasus Kuota Haji

Dengan analogi tersebut, ia berharap masyarakat memahami bahwa cadangan energi nasional tidak akan langsung habis dalam hitungan hari.

“Jadi jangan dipikir bodoh satu hari itu minyak kita habis, bukan itu maksudnya. Kasihan rakyat kita, kasihlah edukasi yang baik, sayang, agar kita tidak ini tidak gagal paham.”

“Pakailah kecerdasan kita ini untuk menyampaikan hal yang benar, informasi yang benar. Boleh pegang medsos, tapi jangan jadi medsos yang merugikan rakyat kita, kasihan,” tegas Bahlil.

Ia juga menegaskan bahwa data yang disampaikannya merupakan kondisi riil terkait kemampuan penyimpanan energi nasional.

“Makanya dengan kejadian storage kita yang cuma 21 hari-25 hari, perintah Bapak Presiden Prabowo harus kita bangun minimal storage kita 3 bulan, itulah standar nasional,” ujarnya.

Sebelumnya, Bahlil juga telah meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan karena pasokan nasional masih dalam kondisi aman.

“Saya menyarankan dan meminta tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Di sisi lain, pemerintah disebut telah menyiapkan langkah antisipasi jangka panjang terkait pasokan minyak mentah, bahkan sebelum konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara lain.

Langkah ini juga menjadi respons terhadap penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.

Indonesia sendiri diketahui masih mengimpor sekitar 20 hingga 25 persen kebutuhan minyak mentah dari kawasan tersebut.

Namun Bahlil memastikan pemerintah telah menyiapkan sumber pasokan alternatif dari negara lain, termasuk Amerika Serikat dan sejumlah negara di Afrika serta Amerika Latin.

“Kan ada yang pertanyakan, kapal kita ditahan, terus gimana pemerintah? Makanya jauh-jauh hari sebelum perang ini terjadi, atas perintah Bapak Presiden Prabowo, kami itu sudah menjajaki peluang untuk melahirkan order di negara lain.”

“Di mana saja itu? Yaitu di Amerika, di Angola, apalagi di beberapa negara di Afrika itu, Amerika Latin di Afrika itu, sebagian punya Pertamina. Jadi itu yang kita geser,” jelas Bahlil.

Baca Juga :  Belanja Negara Melonjak, APBN 2026 Defisit Rp135,7 Triliun hingga Februari

Dengan langkah tersebut, ia menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz tidak akan secara langsung mengganggu pasokan minyak mentah Indonesia.

“Untuk kita punya 20 sampai 25 persen itu sudah kita alihkan ke negara lain,” ucapnya.

Bahlil juga menjelaskan bahwa kontrak jangka panjang dengan negara pemasok baru sudah disiapkan untuk memastikan stabilitas pasokan energi nasional.

“Kenapa harus Amerika? Karena mereka yang mempunyai volume minyak yang lebih yang bisa kita lakukan. Pasti ada banyak pertanyaan, loh di Amerika kan 40 hari, di Middle East kan hanya 2 sampai 3 minggu, benar, jaraknya itu benar, (distribusi) akan lebih lama,” katanya.

“Tetapi kita melakukan pesan jangka panjang secara di awal, supaya metode penyaluran logistiknya bisa kita atur,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa pola serupa sebelumnya juga telah diterapkan pemerintah dalam pengadaan LPG yang kini sebagian besar diimpor dari Amerika Serikat.

“Yang tadinya kan Middle East mayoritas, sekarang kita alihkan impor LPG kita 70 persen dari Amerika, bisa logistiknya,” ucapnya.

Bahlil menegaskan bahwa pemerintah terus bekerja untuk memastikan ketersediaan energi nasional tetap terjaga.

“Jadi enggak perlu harus ada rasa cemas, enggak perlu. Pemerintah itu, mohon maaf atas perintah Bapak Presiden Prabowo, kami itu enggak tidur, mencari akses terus, mencari jalan terus.”

“Ya, di samping kita puasa, kita enggak tidur, badan turun nih, karena memikirkan BBM nasional itu bukan cara berpikir Abu Leke, bukan asbun (asal bunyi, red),” ujar Bahlil. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.