
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Prospect Institute menerima kunjungan Tim Center for Environmental Social and Governance Studies Universitas Airlangga (CESGS Unair). CESGS Unair merupakan pusat kajian berfokus pada keberlanjutan, strategi ESG, dan dampak sosial-lingkungan perusahaan.
Berkolaborasi bersama, pertemuan tersebut menjadi langkah awal penjajakan kolaborasi dalam penguatan praktik Environmental, Social, and Governance (ESG), riset keberlanjutan, serta pengukuran dampak sosial di Indonesia. Pasalnya, CESGS Unair selaras dengan Prospect Institute yang bergerak di bidang keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat yang berkomitmen untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan melalui riset, penyusunan strategi, hingga aksi sosial.
Pertemuan dihadiri pimpinan CESGS Unair Prof Iman Harymawan, Managing Director of Sustainability Consulting and Capacity Building Aditya Aji Prabhawa, serta tim CESGS lainnya. CESGS memaparkan berbagai inisiatif di bidang riset, konsultasi, dan capacity building terkait ESG.
Sementara itu, Prospect Institute memperkenalkan sejumlah kegiatan dan pengalaman pendampingan yang telah dilakukan bersama berbagai perusahaan di Indonesia. Sejak 2018, Prospect Institute telah terlibat dalam penyusunan laporan keberlanjutan, pengembangan komunikasi ESG, dan riset strategis.
Salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan adalah peluang kerja sama dalam penyusunan feasibility study report di bidang impact assessment, termasuk pendekatan Social Return on Investment (SROI). Pendekatan ini semakin dibutuhkan untuk membantu organisasi melihat manfaat sosial dari program yang dijalankan secara lebih terukur.
“Harapannya, pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menemukan titik temu kolaborasi yang relevan antara CESGS Universitas Airlangga dan Prospect Institute, khususnya dalam pengembangan kajian ESG yang lebih aplikatif dan kontekstual,” ujar Presiden Direktur Prospect Institute Miftah Faridl Widhagdha, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, perusahaan tidak hanya membutuhkan dukungan pada aspek pelaporan, tetapi juga membutuhkan strategi komunikasi yang tepat, penguatan tata kelola, serta pengukuran dampak program secara lebih jelas.
Dalam diskusi, kedua pihak juga membahas tren sustainability reporting ke depan, termasuk meningkatnya perhatian terhadap penerapan standar IFRS S2 yang berfokus pada pengungkapan risiko dan peluang terkait iklim. Standar ini dinilai akan semakin mendorong perusahaan untuk memperkuat kualitas data, transparansi, dan kesiapan tata kelola keberlanjutan.
“Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menemukan ruang kolaborasi yang sesuai antara CESGS UNAIR dan Prospect Institute. Ke depan, kedua pihak akan melanjutkan komunikasi dalam bentuk program guna mendorong kerja sama yang dapat memberi kontribusi positif bagi pengembangan praktik ESG di Indonesia,” ungkap Miftah.
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














