JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wacana penggabungan partai politik kembali mencuat dan langsung memantik spekulasi politik. Namun, Partai NasDem memastikan isu tersebut tidak lebih dari tafsir yang terlalu jauh dari realitas.
Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menegaskan tidak ada rencana meleburkan partainya dengan Partai Gerindra yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan itu disampaikannya usai menghadiri acara halalbihalal Forum Pemimpin Redaksi di NasDem Tower, Jakarta.
“Sudah pastilah tidak ada, itu istilahnya barangkali terlalu cepat menyimpulkan itu saya pikir wajar,” kata Surya, dikutip Ahad (19/4/2026).
Ia mengakui memang sempat bertemu dengan Prabowo di kediamannya di Hambalang, Bogor, pada pertengahan Februari 2026. Namun, menurut Surya, pertemuan tersebut lebih banyak membahas tantangan kebangsaan ke depan serta dinamika koalisi pemerintahan, bukan soal penggabungan partai.
“Tapi bukan hanya masalah itu. Ada masalah-masalah lain, ada pikiran-pikiran kita bagaimana tantangan ke depan yang dihadapi oleh semua partai-partai koalisi. NasDem kan ada pada posisi yang ada di dalam koalisi, itu juga sudah jelas,” tuturnya.
Di tengah polemik tersebut, Surya juga menyinggung pentingnya menjaga kualitas kritik dalam kehidupan demokrasi. Ia menilai kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari proses perbaikan, namun tidak boleh melampaui batas hingga melemahkan sendi bernegara.
Sebelumnya, majalah Tempo melaporkan adanya usulan dari Prabowo kepada Surya Paloh terkait kemungkinan penggabungan Partai NasDem dan Gerindra. Jika terealisasi, dua partai ini disebut berpotensi menguasai sekitar 23 persen suara nasional berdasarkan hasil Pemilu 2024.
Meski demikian, wacana tersebut tidak serta-merta mendapat respons positif di internal NasDem. Sejumlah elite partai disebut masih mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk manfaat konkret bagi partai.
Wakil Ketua Umum Partai NasDem, Saan Mustopa, bahkan mengaku terkejut dengan kabar tersebut. Ia menyebut istilah yang lebih tepat bukan merger atau akuisisi, melainkan fusi, meski tetap menilai ide itu tidak mudah diwujudkan.
Menurutnya, penggabungan partai bukan hal baru dalam sejarah politik Indonesia, namun kondisi saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Perbedaan ideologi, identitas, serta latar belakang pendirian partai menjadi tantangan utama.
“Misalnya terkait dengan konteks ideologi, konteks identitas, eksistensi partai, karena membangun atau mendirikan partai itu para pendiri partai masing-masing tentu punya idealisme dan gagasan dalam konteks yang berbeda-beda,” tuturnya di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, wacana penggabungan NasDem dan Gerindra untuk saat ini tampaknya masih jauh dari realisasi, dan lebih banyak berada di ranah spekulasi politik. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














