JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Tekanan terhadap rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi domestik, mata uang Garuda kembali terperosok hingga menyentuh Rp 17.870 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (28/5/2026). Kondisi ini membuat level psikologis Rp 18.000 per dolar AS semakin dekat.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen luar negeri dan persoalan internal yang dinilai belum mampu diredam pemerintah.
Dari faktor eksternal, situasi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas disebut menjadi pemicu utama penguatan dolar AS. Selain itu, ekspektasi pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun membuat arus modal global lebih memilih bertahan di aset berbasis dolar.
“Secara internal pelemahan mata uang rupiah itu didukung harga minyak yang naik cukup tinggi, kebutuhan dolar yang tinggi akibat impor minyak yang cukup besar, pembayaran dividen, masyarakat yang memindahkan tabungannya ke valas, kemudian utang jatuh tempo yang bunganya mencapai Rp 600 triliun,” ucap Ibrahim dalam keterangannya pada Kamis (28/5/2026).
Tak hanya itu, Ibrahim juga menyinggung persoalan tata kelola sejumlah program prioritas pemerintah yang dinilai mulai memengaruhi kepercayaan investor. Ia menyebut polemik dalam pengelolaan Koperasi Merah Putih maupun program Makan Bergizi Gratis ikut memicu kekhawatiran pelaku pasar sehingga mendorong keluarnya modal asing dari dalam negeri.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Bahkan, ia memperkirakan kurs rupiah bisa semakin mendekati Rp 18.000 per dolar AS apabila kondisi pasar belum membaik.
“Dalam perdagangan hari ini, kemungkinan besar rupiah akan melemah 100 poin di level Rp 17.900 per dolar AS,” katanya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah kali ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.
“Sebetulnya enggak masuk akal. Biasa melemah itu kalau ada gangguan fundamental ekonomi,” ujar Purbaya usai melaksanakan salat Iduladha di kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Meski rupiah sudah menembus level Rp 17.800 per dolar AS, Purbaya memastikan pemerintah belum melihat perlunya mengubah asumsi nilai tukar dalam APBN 2026. Ia juga menegaskan pemerintah masih memandang kondisi fiskal tetap terkendali. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















