Beranda Umum Opini Bangku Kosong SD Negeri, Peringatan bagi Pendidikan Keluarga

Bangku Kosong SD Negeri, Peringatan bagi Pendidikan Keluarga

Ilustrasi kelas yang kosong tanpa siswa | Kreasi AI
Yuliantoro | Istimewa

SERIBU bangku kosong di Sekolah Dasar Negeri Kota Yogyakarta bukan sekadar angka dalam laporan penerimaan murid baru. Fenomena tersebut menjadi cermin bergesernya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri sekaligus pengingat bahwa kualitas pendidikan tidak pernah ditentukan oleh mahal atau murahnya biaya sekolah.

Kebijakan tersebut dapat dipahami sebagai upaya menyelamatkan eksistensi SD Negeri. Persoalan sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar kemampuan kepala sekolah mencari murid. Keputusan orang tua memilih sekolah lahir dari persepsi mengenai mutu pendidikan, kualitas guru, lingkungan belajar, hingga harapan terhadap masa depan anak.

Kesalahan terbesar masyarakat selama ini terletak pada anggapan bahwa sekolah mahal identik dengan pendidikan bermutu. Paradigma tersebut tidak selalu benar. Banyak penelitian justru menunjukkan bahwa keberhasilan belajar anak lebih banyak dipengaruhi lingkungan keluarga daripada fasilitas pendidikan.

Psikolog perkembangan Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory menjelaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling menentukan dalam membentuk perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Sekolah hanya menjadi salah satu bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas. Anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kasih sayang, komunikasi yang sehat, dan keteladanan akan memiliki peluang lebih besar berkembang optimal dibandingkan anak yang hanya mengandalkan sekolah.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama. Pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, melainkan menuntun tumbuhnya budi pekerti, kecerdasan, dan karakter manusia secara utuh (Ki Hadjar Dewantara, 1977).

Pendidikan anak bahkan dimulai jauh sebelum memasuki ruang kelas. Kesadaran pasangan suami istri membangun keluarga, menjaga kesehatan selama kehamilan, memenuhi kebutuhan gizi ibu dan janin, serta menghadirkan suasana batin yang tenang menjadi investasi awal bagi kualitas generasi berikutnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa masa seribu hari pertama kehidupan sangat menentukan perkembangan otak, kemampuan belajar, serta kesehatan anak hingga dewasa. Temuan tersebut diperkuat berbagai kajian perkembangan anak usia dini yang menempatkan nutrisi, kesehatan, dan stimulasi sebagai fondasi utama pembentukan kualitas sumber daya manusia.

Tahap berikutnya berlangsung di rumah. Anak belajar melalui contoh, bukan sekadar nasihat. Kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kebiasaan membaca, serta cara orang tua memperlakukan sesama akan terekam dalam memori anak sejak usia dini. Thomas Lickona menyebut keteladanan dan pembiasaan sebagai inti pendidikan karakter yang menentukan kualitas moral seseorang pada masa dewasa (Lickona, 1991).

Sekolah kemudian mengambil peran melanjutkan fondasi tersebut. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, melainkan pendidik yang membentuk cara berpikir, sikap hidup, dan nilai kemanusiaan. Orang tua semestinya menjadikan integritas, keteladanan, dan kompetensi guru sebagai pertimbangan utama ketika memilih sekolah. Gedung megah, fasilitas modern, maupun biaya pendidikan yang tinggi tidak akan mampu menggantikan kehadiran guru yang memiliki dedikasi dan karakter kuat.

Fenomena bangku kosong juga menjadi momentum introspeksi bagi SD Negeri. Kepercayaan masyarakat tidak cukup dibangun melalui slogan atau promosi. Mutu pembelajaran harus terus ditingkatkan. Budaya literasi perlu diperkuat. Inovasi pembelajaran harus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Komunikasi dengan orang tua wajib dibangun secara terbuka sehingga sekolah benar-benar menjadi mitra dalam mendidik anak.

Perubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan dasar juga memerlukan perhatian semua pihak. Pemerintah perlu memastikan pemerataan mutu guru, kepemimpinan sekolah, serta fasilitas pendidikan. Sekolah perlu terus menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Orang tua perlu menempatkan kebutuhan tumbuh kembang anak sebagai pertimbangan utama dalam memilih sekolah, bukan sekadar mengikuti tren, gengsi sosial, atau citra sebuah lembaga. Sekolah negeri maupun swasta memiliki peluang yang sama untuk melahirkan generasi yang cerdas apabila proses pendidikan berlangsung melalui sinergi yang kuat antara keluarga, guru, sekolah, dan lingkungan masyarakat. [*]

Penulis adalah

Alumnus Sosiologi Fisipol UGM

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.