Beranda Daerah Solo Ekonomi Solo Raya Masih Kuat, OJK Catat Dana Masyarakat dan Investor Terus...

Ekonomi Solo Raya Masih Kuat, OJK Catat Dana Masyarakat dan Investor Terus Bertambah

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo menilai kondisi sektor jasa keuangan di wilayah Solo Raya masih berada dalam kondisi stabil dan terjaga hingga April 2026. Sejumlah indikator utama menunjukkan pertumbuhan positif, terutama pada aset perbankan, dana pihak ketiga (DPK), serta jumlah investor pasar modal yang terus meningkat.

Kepala OJK Solo, Mohammad Mufid, dalam siaran pers yang diterima Kamis (11/6/2026), menyampaikan bahwa aset perbankan di Solo Raya tumbuh 2,79 persen secara tahunan (year on year/yoy), dari Rp 119,22 triliun menjadi Rp 122,55 triliun. Dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan juga meningkat 5,31 persen menjadi Rp 104,29 triliun.

Di sisi lain, demikian Mufid seperti dikutip dalam rilisnya ke Joglosemarnews, penyaluran kredit dan pembiayaan mengalami penurunan 1,70 persen atau berkurang sekitar Rp 1,78 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kendati demikian, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) masih berada pada level yang dinilai sehat, yakni 98,63 persen.

Penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran. Untuk industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS), nilai kredit pada sektor tersebut mencapai Rp 2,52 triliun. Sementara pada bank umum, sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi kendaraan bermotor, mendominasi dengan nilai kredit mencapai Rp 24 triliun.

Pertumbuhan juga terlihat pada sektor pasar modal. Berdasarkan data posisi Maret 2026, jumlah Single Investor Identification (SID) di wilayah Solo Raya mencapai 747.125 investor. Jumlah tersebut meningkat 44,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 517.693 investor.

Baca Juga :  Viral Aksi "Macak Pocong" Resahkan Warga Belakang UNS, Respati: Ganggu Ketertiban Kita Sikat, Mending Makan Mie Ayam!

Nilai transaksi saham juga menunjukkan tren positif secara tahunan. Pada Maret 2026, total transaksi saham di Solo Raya mencapai Rp 4,43 triliun atau meningkat 103,15 persen dibanding Maret 2025 yang sebesar Rp 2,18 triliun. Kota Surakarta menjadi daerah dengan nilai transaksi tertinggi mencapai Rp 1,71 triliun, disusul Kabupaten Sukoharjo sebesar Rp 843,85 miliar dan Kabupaten Klaten sebesar Rp 564,86 miliar.

Di sektor industri keuangan non-bank, kinerja dana pensiun masih menunjukkan pertumbuhan positif. Total aset dana pensiun di Solo Raya meningkat 5,25 persen menjadi Rp 598,55 miliar. Nilai investasi dana pensiun juga naik menjadi Rp 562,60 miliar.

Sementara itu, sektor perasuransian mencatat penurunan premi secara keseluruhan. Hingga Maret 2026, total premi asuransi turun 6,62 persen menjadi Rp366,11 miliar. Penurunan terutama berasal dari premi asuransi jiwa, meski premi asuransi umum justru mengalami peningkatan.

Untuk perusahaan pembiayaan, OJK mencatat total piutang pembiayaan berada di angka Rp5,53 triliun. Adapun rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) masih tergolong tinggi, yakni 6,21 persen.

Selain melakukan pengawasan sektor jasa keuangan, OJK Solo juga terus memperkuat literasi dan edukasi keuangan masyarakat. Hingga akhir Mei 2026, OJK Solo telah menyelenggarakan 24 kegiatan edukasi yang diikuti lebih dari 10.200 peserta dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, karyawan, perempuan hingga penyandang disabilitas.

Baca Juga :  Resmi Berdiri, Imanda Sarva Indonesia Usung Toleransi sebagai Gerakan Sosial

Dari sisi perlindungan konsumen, OJK Solo menerima 174 pengaduan resmi hingga Mei 2026. Sebagian besar berkaitan dengan kredit, yakni mencapai hampir 70 persen dari total pengaduan. Selain itu, terdapat 897 layanan pengaduan langsung atau walk in, yang didominasi kasus dugaan penipuan dan persoalan perbankan. OJK juga melayani 6.325 permintaan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), OJK bersama pemerintah daerah juga terus mendorong berbagai program inklusi keuangan. Salah satunya program Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir yang hingga Mei 2026 telah menjangkau 5.391 debitur di Kota Surakarta dan Kabupaten Wonogiri dengan total penyaluran pembiayaan mencapai Rp 25,7 miliar.

Menurut OJK, program tersebut menjadi salah satu upaya untuk memberikan akses pembiayaan yang lebih mudah dan aman bagi masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap praktik rentenir yang masih ditemukan di sejumlah daerah. [*]

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.