Beranda Nasional Jogja Sudah Dihantam Kenaikan Pertamax, Harga Pupuk Non-subsidi di Kulonprogo Meroket

Sudah Dihantam Kenaikan Pertamax, Harga Pupuk Non-subsidi di Kulonprogo Meroket

Ilustrasi petani | freepik

KULONPROGO, JOGLOSEMARNEWS.COM Kenaikan harga Pertamax yang melonjak hampir Rp 4.000 per liter sejak pekan ini ternyata bukan satu-satunya beban yang harus ditanggung masyarakat.

Di sektor pertanian, petani di Kulonprogo kini juga menghadapi lonjakan harga pupuk non-subsidi yang mencapai hampir 100 persen. Kondisi itu membuat biaya produksi pertanian membengkak dan semakin menekan margin keuntungan petani di tengah musim tanam.

Lonjakan harga pupuk tersebut diungkapkan Tholib Burhan, penanggung jawab Toko Bahan Pertanian Sumber Makmur di Kalurahan Bumirejo, Kapanewon Lendah. Menurutnya, kenaikan paling mencolok terjadi pada pupuk Nitrea dan ZA.

“Terutama untuk pupuk Nitrea dan ZA, dari harga Rp 200.000 sekarang menembus Rp 365.000 per karung isi 50 kilogram (kg),” kata Tholib saat ditemui, Jumat (12/6/2026).

Tak hanya itu, harga pupuk NPK non-subsidi juga mengalami kenaikan signifikan. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp 600.000 per karung isi 50 kilogram, kini harganya sudah menyentuh sekitar Rp 800.000 per karung.

Menurut Tholib, tren kenaikan mulai terasa setelah Hari Raya Idulfitri lalu dan terus berlangsung hingga saat ini. Ia menduga kenaikan dipicu sejumlah faktor, mulai dari kondisi geopolitik global hingga kenaikan harga energi.

“Katanya sih naik karena konflik di Timur Tengah, lalu juga karena harga BBM (Bahan Bakar Minyak) naik,” ujarnya.

Baca Juga :  Maling Kok Sambil Mabuk, Baru Menuntun Motor Curian Langsung Dibekuk

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah serta tingginya harga bahan baku juga disebut ikut memengaruhi harga pupuk. Pasalnya, sebagian besar pupuk non-subsidi yang beredar di pasaran merupakan produk impor atau menggunakan bahan baku dari luar negeri.

Meski harga terus merangkak naik, kebutuhan pupuk tidak bisa ditunda. Terlebih saat ini banyak petani tengah memasuki musim tanam hortikultura yang membutuhkan pasokan pupuk secara rutin.

Akibatnya, sebagian petani terpaksa mengurangi volume pembelian untuk menyesuaikan kemampuan modal.

“Mungkin porsi pembeliannya yang dikurangi, dari yang biasanya 100 kg sekarang jadi 70 kg,” jelas Tholib.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh para petani. Salah satunya Maryoto, petani asal Bumirejo yang mengaku biaya operasional pertaniannya melonjak tajam akibat kenaikan harga pupuk.

Menurutnya, pengeluaran untuk budidaya tanaman saat ini bisa meningkat hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya. Ia memilih menggunakan pupuk non-subsidi karena dinilai lebih cocok untuk tanaman bawang merah yang sedang dibudidayakannya.

Untuk menyiasati tingginya harga pupuk, Maryoto tidak lagi membeli dalam jumlah besar. Ia memilih membeli secara eceran agar pengeluaran dapat disesuaikan dengan kemampuan keuangan.

Baca Juga :  Tengah Mendorong Gerobak di Jalur Pantai Glagah, Lansia 66 Tahun  Dihantam Sepeda Motor dari Belakang

“Saya beli eceran agar bisa menekan biaya, apalagi masih harus membeli pestisida hingga membayar tenaga,” katanya.

Tak hanya mengurangi jumlah pembelian, cara pemupukan juga mulai diubah demi menghemat penggunaan pupuk. Jika sebelumnya pupuk ditebar langsung ke lahan, kini pupuk lebih sering dicampur air dan disiramkan ke tanaman atau dikenal dengan metode kocor.

Meski berbagai upaya efisiensi dilakukan, Maryoto mengaku tetap merasakan tekanan berat akibat kenaikan biaya produksi yang terus terjadi.

“Harapannya harga pupuk bisa ditekan agar modal operasional bisa ditekan juga dan petani bisa mendapat keuntungan,” ujar petani yang mengelola lahan di Bumirejo, Lendah dan Srikayangan, Sentolo tersebut. [*] Disarikand dari sumber berita media daring

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.