Beranda Edukasi Pendidikan AI Makin Pintar, Tapi Tak Akan Pernah Gantikan Guru! Kesepakatan Pakar Dunia...

AI Makin Pintar, Tapi Tak Akan Pernah Gantikan Guru! Kesepakatan Pakar Dunia di Solo Ini Bikin Cara Pandang Pendidikan Islam Berubah

AI
International Conference of Islamic Education (ICIE) 2026 yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Institut Islam Mamba'ul 'Ulum (IIM) Surakarta secara hybrid pada Kamis (9/7/2026). Istimewa

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang melaju sangat cepat mulai mengubah wajah dunia pendidikan. Dari membantu menyusun materi pelajaran, menerjemahkan bahasa, hingga menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik, AI kini menjadi bagian dari kehidupan akademik. Namun, di tengah pesatnya kemajuan teknologi tersebut, para pakar pendidikan Islam dari berbagai negara justru menyampaikan satu pesan yang sama: secanggih apa pun AI berkembang, peran guru tetap tidak akan bisa digantikan.

Pandangan itu menjadi benang merah dalam International Conference of Islamic Education (ICIE) 2026 yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta secara hybrid pada Kamis (9/7/2026). Mengangkat tema “Transforming Islamic Education in the Age of Artificial Intelligence: Innovation, Ethics, and Global Competitiveness”, konferensi internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, dosen, praktisi pendidikan, hingga mahasiswa dari berbagai negara untuk membahas masa depan pendidikan Islam di era kecerdasan buatan.

Forum ilmiah tersebut tidak hanya membicarakan bagaimana AI dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar, tetapi juga membahas sisi etika, moral, hingga nilai-nilai keislaman agar transformasi digital tetap berjalan seimbang dan tidak menghilangkan esensi pendidikan sebagai proses membentuk karakter manusia.

Wakil Rektor I IIM Surakarta, Dr. Joko Subando, M.Pd., menjelaskan bahwa konferensi internasional ini dirancang sebagai ruang bertemunya berbagai gagasan baru yang mampu melahirkan kolaborasi riset lintas negara.

“We hope to generate innovative ideas that contribute meaningfully to the future of Islamic education. Let this conference become a space where ideas are exchanged openly, partnerships are established, and new research collaborations begin,” ungkapnya.

Menurutnya, pendidikan Islam membutuhkan inovasi yang mampu mengikuti perkembangan zaman, namun tetap berpijak pada nilai-nilai syariat dan tujuan utama pendidikan, yaitu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki daya saing global.

Sementara itu, Rektor IIM Surakarta sekaligus Keynote Speaker, Dr. Edy Muslimin, M.S.I., menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan bagaimana lembaga pendidikan mampu melahirkan pemimpin yang bijak dalam memanfaatkan teknologi.

Baca Juga :  Desa di Wonogiri ini Berhasil Ubah Tahun Baru Islam Jadi Panggung Prestasi, 164 Santri Ramaikan Festival Muharram Tambakmerang

“Transformasi pendidikan Islam di era kecerdasan artifisial menuntut lahirnya pemimpin yang tidak hanya cakap dalam pemanfaatan teknologi, tetapi harus mampu menjaga orientasi pendidikan Islam sebagai proses pembentukan insan yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan tentu berdaya saing global,” tegas Dr. Edy.

Salah satu pernyataan yang paling menyita perhatian datang dari Prof. Dr. Abdul Karim dari Hallym University, Korea Selatan. Ia menilai masih banyak masyarakat yang salah memahami posisi AI dalam dunia pendidikan. Menurutnya, AI memang mampu membantu berbagai aktivitas belajar mengajar, tetapi tidak akan pernah menggantikan sentuhan manusia dalam membimbing karakter, akhlak, maupun spiritual peserta didik.

“AI is a tool, not a teacher. It can assist, but it cannot replace human guidance of spiritual wisdom or moral example. The teacher-student relationship is still one of the most powerful parts of education,” jelas Prof. Abdul Karim.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian besar karena menegaskan bahwa hubungan antara guru dan murid tetap menjadi fondasi utama pendidikan. Teknologi dapat mempercepat akses informasi, tetapi tidak mampu menghadirkan keteladanan, empati, kasih sayang, maupun pembinaan moral yang menjadi tugas seorang pendidik.

Perspektif internasional juga diperkaya oleh Qasem Muhammadi, Ph.D. dari University of Qom, Iran, yang mengulas batasan pemanfaatan AI berdasarkan kajian yurisprudensi Islam. Ia menyoroti pentingnya etika dalam penggunaan teknologi agar perkembangan kecerdasan buatan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.

Sementara itu, Lorna M. Yaco, Ph.D., Education Program Specialist II asal Filipina, mengajak seluruh institusi pendidikan memperluas kerja sama lintas negara. Menurutnya, kemitraan internasional menjadi salah satu kunci agar pendidikan Islam mampu berkembang lebih cepat melalui pertukaran ilmu pengetahuan, penelitian bersama, dan inovasi pendidikan.

Selain menghadirkan para pembicara internasional, ICIE 2026 juga menjadi panggung bagi puluhan peneliti untuk mempresentasikan hasil riset terbaru mereka. Sebanyak 75 karya ilmiah berhasil lolos seleksi dan dipresentasikan dalam enam panel diskusi yang berlangsung secara paralel.

Baca Juga :  UNS Terjunkan 2.914 Mahasiswa KKN ke 28 Kabupaten, Perkuat Pembangunan Desa Berbasis SDGs

Topik yang dibahas sangat beragam, di antaranya:

✓ Kurikulum Pendidikan Islam di era AI
Teknologi Pendidikan dan digitalisasi pembelajaran
✓ Psikologi Pendidikan
✓ Inovasi metode pembelajaran
✓ Etika pemanfaatan Artificial Intelligence
✓ Kolaborasi pendidikan internasional

Seluruh hasil penelitian tersebut saat ini dipersiapkan untuk diterbitkan dalam prosiding ilmiah terindeks sehingga dapat menjadi referensi akademik bagi pengembangan pendidikan Islam di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui konferensi ini, IIM Surakarta menunjukkan kesiapannya menjadi bagian dari pusat pengembangan pendidikan Islam modern yang adaptif terhadap kemajuan teknologi. Pemanfaatan AI dipandang sebagai peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat daya saing lulusan di tingkat global.

Namun, satu pesan yang paling kuat dari forum internasional ini tetap sama. AI boleh berkembang semakin canggih setiap hari, tetapi nilai-nilai kemanusiaan, keteladanan, akhlak, dan bimbingan seorang guru tetap menjadi fondasi yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. Masa depan pendidikan Islam bukan memilih antara guru atau AI, melainkan bagaimana keduanya berjalan berdampingan agar lahir generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan dunia yang terus berubah. Aris Arianto

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.