Beranda Umum Ketidakpastian di Bank Indonesia Bayangi IHSG, Investor Pilih Wait and See ...

Ketidakpastian di Bank Indonesia Bayangi IHSG, Investor Pilih Wait and See  

Ilustrasi index harga saham gabungan | pixabay

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ketidakpastian mengenai arah kepemimpinan Bank Indonesia (BI) mulai memengaruhi sentimen pelaku pasar. Di tengah belum adanya gubernur definitif setelah pengunduran diri Perry Warjiyo, investor memilih menahan langkah sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (27/7/2026) di zona negatif.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 10,65 poin atau 0,17 persen ke level 6.185,78. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga ikut terkoreksi 2,23 poin atau 0,36 persen menjadi 612,56.

Sejak dibuka pada awal perdagangan, IHSG bergerak di wilayah negatif. Tekanan jual berlanjut hingga sesi kedua sehingga indeks gagal bangkit menjelang penutupan pasar.

Salah satu perhatian utama investor datang dari perkembangan di Bank Indonesia. Setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri, pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI sembari menunggu penetapan gubernur definitif.

Meski langkah tersebut dipandang sebagai upaya menjaga kesinambungan tugas bank sentral dan meredam gejolak pasar, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter ke depan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai pergantian kepemimpinan di BI memunculkan kekhawatiran baru bagi investor.

“Meskipun pergantian itu sebagai upaya menjaga kepercayaan pasar terhadap peran keberlangsungan dan berkesinambungan tugas BI untuk meredam volatilitas pasar keuangan dalam negeri, namun pelaku pasar khawatir hal itu akan menyebabkan ketidakpastian arah kebijakan moneter, independensi BI, serta stabilitas rupiah,” ujarnya dalam kajian di Jakarta, Senin.

Baca Juga :  Samsung Innovation Campus Batch 8 Resmi Dibuka: Bekali Generasi Muda dengan Pembelajaran AI, Coding, dan IoT

Dari sisi sektoral, hanya dua sektor yang berhasil mencatatkan penguatan. Sektor industri memimpin kenaikan sebesar 0,72 persen, disusul sektor teknologi yang menguat 0,33 persen.

Sebaliknya, delapan sektor lainnya mengalami tekanan. Penurunan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur yang terkoreksi 1,29 persen. Sektor properti dan energi masing-masing melemah 0,75 persen dan 0,66 persen.

Pada perdagangan hari itu, saham DMMX, BAJA, ZONE, TAMA, dan MCAS menjadi lima emiten dengan kenaikan tertinggi. Sementara KDTN, ARKO, MLPT, OMRE, dan OILS mencatat pelemahan paling dalam.

Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan frekuensi mencapai sekitar 1,79 juta transaksi. Sebanyak 26 miliar lembar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi sekitar Rp12,12 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 318 saham menguat, 360 saham melemah, sedangkan 287 saham bergerak stagnan.

Selain faktor domestik, pelaku pasar juga menanti sejumlah agenda penting dari luar negeri. Fokus investor tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pada 28–29 Juli 2026 untuk menentukan arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat.

Menurut Nico, sentimen global sempat membaik setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mereda.

“Sentimen terangkat oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) menghentikan serangan terhadap Iran pada akhir pekan, dan Iran mengatakan bahwa mereka telah menghentikan serangan balasan terhadap sekutu AS di kawasan itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, meredanya konflik tersebut turut mendorong penurunan harga minyak mentah dunia sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dan lonjakan inflasi.

Baca Juga :  7 Kriteria Developer PLTS yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memulai Proyek PLTS

Sepanjang pekan ini, selain keputusan The Fed, investor juga akan mencermati kebijakan Bank of Japan (BoJ), Bank of England (BoE), data inflasi PCE Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi AS kuartal II 2026, data durable goods orders, rapat Politbiro China, hingga data PMI manufaktur Negeri Tirai Bambu.

Dari China, National Bureau of Statistics (NBS) melaporkan laba sektor industri masih tumbuh 18,7 persen, meski sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 18,8 persen. Pasar juga menunggu hasil pertemuan Politbiro yang diperkirakan akan memaparkan arah kebijakan ekonomi China pada paruh kedua tahun ini.

Di kawasan Asia, mayoritas bursa saham justru ditutup menguat. Indeks Nikkei naik 0,66 persen, Shanghai menguat 1,15 persen, Hang Seng bertambah 0,98 persen, Kospi menguat 0,97 persen, dan Strait Times naik 0,55 persen. [*] Disarikan dari sumber berita media daring

 

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.