
SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Alun-alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta berubah menjadi panggung besar bagi musik keroncong pada Sabtu (18/7/2026) malam. Ribuan masyarakat memadati kawasan bersejarah tersebut untuk menyaksikan pembukaan Solo Keroncong Festival (SKF) 2026, sebuah perhelatan tahunan yang kembali menegaskan posisi Solo sebagai salah satu pusat perkembangan musik keroncong di Indonesia.
Mengusung tema “Keroncong Pusaka Nusantara”, festival yang berlangsung selama dua hari, 18-19 Juli 2026, menghadirkan kolaborasi seniman lintas generasi, lintas daerah, bahkan mancanegara.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan laporan Ketua Pelaksana SKF 2026 Bangkit Sanjaya serta sambutan dari sejumlah pihak, mulai dari perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta, Pemerintah Kota Surakarta hingga Kementerian Pariwisata RI.

Momen pembukaan ditandai secara simbolis melalui permainan alat musik keroncong cak dan cuk, kemudian dilanjutkan pertunjukan tari Mahottama Suara dari Sanggar Tari Brahmastra yang memadukan unsur tari dan musik tradisi dalam balutan pertunjukan modern.
Perwakilan Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, keroncong telah menjadi bagian penting identitas budaya Solo.
Ia menyinggung lagu legendaris Bengawan Solo sebagai bukti bahwa musik keroncong mampu menembus panggung internasional dan mengharumkan nama Indonesia.

Rangkaian pertunjukan kemudian menghadirkan berbagai orkes keroncong dari sejumlah wilayah. Penampilan dibuka oleh Orkes Keroncong Kecamatan Pasar Kliwon yang berkolaborasi dengan KGPH Madu Kusumo melalui aransemen yang memadukan nuansa tradisional dan modern.
Selanjutnya giliran Orkes Keroncong Kecamatan Laweyan yang menyuguhkan lagu-lagu bernuansa klasik. Atmosfer festival semakin semarak ketika grup OK Tunjok Langit dari Malaysia tampil membawakan sejumlah lagu dengan komposisi instrumen keroncong yang lengkap.

Warna musikal yang berbeda hadir melalui OK Lapis Legit asal Bandung. Kelompok ini memadukan instrumen keroncong dengan sentuhan saxophone, trumpet hingga gamelan sehingga menghadirkan karakter musik yang segar di hadapan penonton.
Penampilan berikutnya dilanjutkan OK Impresif Riang Gembira bersama Tuti Maryati sebelum puncak acara ditutup oleh OK De Java Keroncong yang berkolaborasi dengan penyanyi senior Iga Mawarni.
Penampilan Iga menjadi salah satu yang paling dinantikan. Ia membawakan lagu karya Samsidi berjudul Kota Solo, yang mengajak penonton bernostalgia dengan suasana Solo tempo dulu. Tepuk tangan penonton kembali bergema saat Iga menutup aksinya lewat lagu populer Kasmaran, yang sempat berjaya pada era 1990-an.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, mengatakan Solo Keroncong Festival tidak sekadar menjadi panggung hiburan, tetapi juga wahana pelestarian budaya sekaligus ruang kolaborasi bagi para pelaku seni.
Menurutnya, sejak pertama kali digelar pada 2009, SKF terus konsisten menjadi media pengembangan musik keroncong agar tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Melalui Solo Keroncong Festival 2026, kami ingin menjaga keroncong sebagai warisan budaya yang terus berkembang, sekaligus memberikan kontribusi bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Surakarta,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat yang bertahan hingga penghujung acara menjadi bukti bahwa musik keroncong masih memiliki tempat di hati publik. Kehadiran peserta dari berbagai daerah hingga Malaysia pun memperlihatkan bahwa festival ini telah berkembang menjadi ruang diplomasi budaya sekaligus memperkuat citra Solo sebagai kota yang konsisten merawat warisan seni tradisional. [Prihatsari]
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














