
SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sejumlah warga Sragen kota sekitar pabrik Gula (PG) Mojo Sragen mengeluhkan aktivitas giling tebu yang mengakibatkan langes beterbangan ke rumah rumah warga sekitar, proses giling tebu yang dilakukan saat musim kemarau ini rupanya berdampak cukup serius.
Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM terlihat aktivitas giling tebu dengan penampakan antrian panjang puluhan truk membawa tebu dari sejumlah daerah di Sragen dan sekitarnya.
Terlihat juga jelaga hitam atau yang akrab disebut langes sisa pembuangan cerobong asap pabrik ikut beterbangan saat tertiup angin.
Pada JOGLOSOMARNEWS.COM Rizky Hafid Yusa Pratama yang kebetulan tinggal di Jalan KH Ahmad Dahlan no 20, Cantel Wetan Rt 01, Rw 13 Sragen kota mengatakan sudah beberapa hari ini banyak debu atau langes sisa pembakaran giling tebu PG Mojo beterbangan ke sekitar lingkungan dirinya.
“Langes yang berwarna hitam dari PG Mojo itu sampai masuk ke dalam rumah, halaman depan bahkan satu jam sekali harus membersihkan menggunakan air,” kata Rizky Kamis (2/7/2026).
Tak hanya itu, keluhan senada juga disampaikan oleh Rahmat Samsono, salah satu warga Sragen Kulon, mengeluhkan kondisi tersebut. Menurutnya, sisa limbah padat berwarna hitam itu mengotori teras dan halaman rumah warga setiap hari sejak musim giling dimulai. Kondisi ini juga banyak dikeluhkan di media sosial.
“Sudah beberapa hari terakhir, tepatnya sejak waktu giling tebu dimulai,” bebernya.
Dia berharap pihak manajemen segera melakukan perbaikan sistem pembuangan asap karena banyaknya warga yang terdampak polusi visual dan udara tersebut.
Menanggapi keluhan tersebut, manajemen PG Mojo tidak menampik adanya rembesan jelaga yang sampai ke pemukiman. Karyawan PG Mojo, Samuel Mahendra, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan pembenahan parsial pada sistem mesin boiler pembuangan. Namun, merawat pabrik peninggalan era kolonial diakuinya bukan perkara mudah.
“Alatnya sudah tua dan kami harus rapikan, beberapa bagian sudahdiperbaiki. Tetapi itu tidak mudah,” jelasnya.
Ia menambahkan, urusan suku cadang mesin tua juga membutuhkan penyesuaian khusus. “Kalaupun ada spare part yang didatangkan, istilahnya ditempel agar bisa dipakai, tapi tidak bisa langsung pas begitu saja. Perlu banyak modifikasi dan penyesuaian di lapangan,” imbuhnya.
Selain faktor mekanis, Samuel menyebut faktor cuaca tahun ini memperparah sebaran debu. Berbeda dengan musim giling tahun lalu yang masih sering diguyur hujan atau kemarau basah, tahun ini wilayah Sragen memasuki musim kemarau yang sangat kering.
“Namanya pabrik gula, sesepuh dulu sering bilang kalau musim giling itu pasti pas ketigo. Nah, tahun ini kemaraunya tegas. Angin kencang saat siang dan udara panas membuat debu dari dapur boiler kami menyebar lebih luas karena tidak tereduksi oleh air hujan seperti tahun lalu,” bebernya.
Pihak manajemen menegaskan tidak tinggal diam. Berdasarkan pemantauan, volume debu diklaim sudah mulai menurun dalam tiga hari terakhir jika dibandingkan dengan kondisi sepuluh hari yang lalu. Huri Yanto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














