
WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM — Siapa sangka agenda arisan rutin yang biasanya identik dengan kumpul, ngobrol, dan bersilaturahmi, Jumat malam, 7 Agustus 2026, justru berubah menjadi ruang belajar bisnis kreatif bagi para pemuda Dusun Waru, Desa Waru, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri.
Di sela kegiatan rutin Karang Taruna Dusun Waru, mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 07 Desa Waru dari STAIMAS Wonogiri membawa sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar materi penyuluhan, mereka mengajak para pemuda langsung membuat buket dan kerajinan dari kawat bulu.
Tangan yang semula sibuk mengikuti kegiatan arisan malam itu mulai bergerak merangkai bahan, membentuk kawat bulu, menyusun bunga, hingga menghasilkan kerajinan yang memiliki nilai estetika sekaligus peluang untuk dijual.
Pelatihan tersebut mengusung tema “Mengubah Ide Menjadi Karya: Pelatihan Buket dan Kawat Bulu sebagai Bekal Kreativitas dan Kemandirian Remaja.”
Konsepnya sederhana, tetapi pesan yang dibawa cukup kuat. Para pemuda diajak melihat bahwa peluang usaha tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Bahan sederhana yang diolah dengan kreativitas pun bisa berubah menjadi produk bernilai ekonomi.
Bagi mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri, pemilihan kegiatan bersamaan dengan arisan Karang Taruna bukan tanpa alasan. Forum tersebut dinilai menjadi ruang yang lebih cair untuk berinteraksi dengan pemuda sekaligus memahami potensi masyarakat Dusun Waru.
Suasana pelatihan pun berlangsung akrab. Tidak ada jarak kaku antara mahasiswa dan peserta. Proses membuat buket dan kawat bulu menjadi pintu masuk untuk berdiskusi lebih jauh mengenai kreativitas, peluang pasar, hingga kemungkinan menjadikannya sebagai usaha kecil.
Kepala Dusun Waru, Yulis Kurniawati, turut menyambut kehadiran mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri. Ia menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus memberikan apresiasi atas kegiatan yang dilakukan mahasiswa bersama para pemuda Karang Taruna.
Kehadiran mahasiswa KPM di tengah masyarakat memang tidak berhenti pada kegiatan formal. Interaksi langsung seperti pelatihan keterampilan menjadi salah satu cara untuk membangun kedekatan sekaligus menggali potensi yang ada di lingkungan desa.
Di balik aktivitas membuat buket, ada peluang ekonomi yang coba diperkenalkan kepada para peserta.
Penanggung Jawab (PJ) kegiatan, Vivia Sholimatu Shahadah, mengatakan kerajinan buket dan kawat bulu dapat dikembangkan menjadi ide usaha apabila dikelola dengan serius.
“Membuat buket dan kawat bulu ini bisa menjadi sebuah ide usaha yang menarik. Jika kita bisa membuatnya sendiri, harganya bisa lebih murah dibandingkan membeli pada penjual buket. Jika bisa memaksimalkan peluang dengan baik, kita juga bisa meraup keuntungan yang besar melalui usaha buket dan kawat bulu ini karena bahan bakunya tergolong murah,” ujar Vivia.
Pernyataan tersebut menggambarkan sisi lain dari kegiatan yang mungkin terlihat sederhana. Peserta tidak hanya diajak mengetahui cara membuat kerajinan, tetapi juga diperkenalkan pada cara berpikir bahwa sebuah keterampilan dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Buket bunga sendiri memiliki pasar yang cukup luas karena dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Produk tersebut bisa menjadi pilihan hadiah ulang tahun, wisuda, pernikahan, hari kasih sayang, maupun berbagai momen perayaan lainnya.
Peluangnya semakin terbuka ketika produk dibuat dengan konsep yang berbeda. Bentuk rangkaian, kombinasi warna, ukuran, kemasan, hingga personalisasi nama atau pesan dapat menjadi nilai tambah yang membuat produk lebih menarik bagi calon pembeli.
Begitu pula dengan kawat bulu. Material yang relatif sederhana tersebut dapat dikreasikan menjadi berbagai bentuk, mulai dari bunga, karakter, hiasan, hingga ornamen dekorasi.
Artinya, peluangnya tidak hanya bergantung pada satu jenis produk. Kreativitas peserta justru menjadi faktor utama untuk menentukan sejauh mana bahan sederhana tersebut dapat dikembangkan.
Di titik inilah pelatihan KPM 07 Desa Waru menjadi menarik. Mahasiswa tidak hanya memperkenalkan keterampilan tangan, tetapi mencoba menanamkan cara pandang baru kepada para pemuda.
Sebuah produk tidak harus mahal untuk memiliki nilai jual.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan melihat peluang, kreativitas mengolah bahan, kemauan belajar, serta keberanian untuk mencoba memasarkannya.
Bagi pemuda Karang Taruna, keterampilan semacam ini juga bisa menjadi alternatif kegiatan produktif. Apalagi jika hasil karya nantinya dikembangkan secara bersama-sama, bukan tidak mungkin muncul usaha kecil berbasis kreativitas yang dikelola oleh pemuda desa.
Mulai dari menerima pesanan buket untuk wisuda, ulang tahun, hingga membuat dekorasi custom, semuanya dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan dan permintaan pasar.
Bahkan, pemasaran produk saat ini tidak harus menunggu memiliki toko fisik. Media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan hasil karya, menerima pesanan, sekaligus membangun identitas usaha.
Namun, tentu saja, keterampilan membuat produk hanyalah langkah awal. Jika benar-benar ingin dikembangkan menjadi bisnis, para pemuda perlu memikirkan kualitas produk, penghitungan modal, harga jual, kemasan, promosi, pelayanan pelanggan, serta konsistensi produksi.
Hal tersebut menjadi pekerjaan lanjutan yang justru menarik apabila kegiatan pelatihan tidak berhenti pada satu malam.
Di sisi lain, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana program KPM dapat dikemas lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Mahasiswa hadir bukan hanya memberikan materi kemudian selesai, tetapi ikut masuk ke ruang sosial yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Arisan Karang Taruna yang menjadi tempat berkumpul para pemuda akhirnya memiliki warna berbeda malam itu. Dari forum sederhana tersebut, muncul percakapan mengenai keterampilan, kreativitas, dan peluang ekonomi.
Ada proses belajar yang berlangsung secara informal. Ada pula interaksi antara mahasiswa dan masyarakat yang membuat kegiatan pengabdian terasa lebih membumi.
Bagi KPM Kelompok 07 Desa Waru, pengalaman tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk belajar dari masyarakat. Mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana potensi pemuda desa dapat dikembangkan melalui kegiatan yang sederhana, praktis, dan dekat dengan keseharian.
Sebab, pengembangan potensi desa tidak selalu harus dimulai dengan program yang besar.
Kadang, sebuah peluang justru muncul dari benda-benda kecil yang ada di sekitar.
Sehelai kawat bulu, beberapa rangkaian bunga, tangan yang mau belajar, dan ide kreatif bisa menjadi awal lahirnya sebuah karya. Jika ditekuni, karya tersebut bahkan dapat berkembang menjadi produk yang menghasilkan uang.
Itulah yang coba ditanamkan melalui pelatihan buket dan kawat bulu di Dusun Waru.
Kegiatan yang berlangsung di sela arisan Karang Taruna tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana membuat buket terlihat cantik. Ada pelajaran yang lebih panjang tentang keberanian mengubah kreativitas menjadi peluang.
Mahasiswa KPM berharap keterampilan yang diberikan tidak berhenti ketika mereka meninggalkan Desa Waru. Para pemuda diharapkan dapat mencoba kembali membuat produk secara mandiri, mengembangkan variasi kerajinan, dan jika memungkinkan mulai memasarkannya.
Dari sebuah kegiatan sederhana pada Jumat malam, 7 Agustus 2026, para pemuda Dusun Waru mendapatkan pengalaman baru: bahwa ide tidak harus menunggu sempurna untuk dimulai.
Bisa jadi, sesuatu yang awalnya hanya dibuat untuk latihan justru menjadi produk pertama dari sebuah usaha.
Dan semuanya bermula dari meja arisan, ketika kawat bulu mulai dibentuk menjadi karya. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.














