JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi persoalan serius. Sebanyak 105 siswa dan delapan guru di Rembang, Jawa Tengah, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG. Badan Gizi Nasional (BGN) merespons kasus tersebut dengan mencopot kepala dapur yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan.
Langkah itu menjadi tindakan awal BGN sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para penerima manfaat.
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Magersari 2, Rembang, telah diganti.
“Kepala dapur sudah kami copot dan diganti dengan yang baru,” kata dia ketika dihubungi pada Ahad, 27 September 2026.
Tidak hanya mengganti pimpinan dapur, BGN juga menghentikan sementara seluruh operasional SPPG tersebut. Penghentian dilakukan sebagai bagian dari tindakan penanganan setelah munculnya kasus gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat.
“Kami sudah suspen berat selama 30 hari,” ucapnya.
Kasus tersebut bermula setelah para penerima manfaat menyantap menu MBG berupa nasi, bakwan jagung dan pentol bumbu Bali pada 24 September 2026. Setelah mengonsumsi makanan tersebut, puluhan siswa dan guru mengalami diare serta mual.
Namun, BGN belum menetapkan makanan maupun tahapan pengolahan tertentu sebagai penyebab kejadian tersebut. Pemeriksaan masih berlangsung dengan melibatkan dinas kesehatan setempat.
“Hasil laboratorium belum keluar,” ujar Ketut.
Sembari menunggu kepastian hasil pemeriksaan, BGN menyatakan fokus utama saat ini adalah memastikan kondisi kesehatan para korban hingga benar-benar pulih.
“Kami tetap mengawal pemulihan dan kesehatan, sampai dinyatakan sehat dan pulang ke rumah,” ucapnya.
Kasus di Rembang menambah daftar persoalan gangguan kesehatan yang terjadi dalam pelaksanaan program MBG di Jawa Tengah. Pada periode yang sama, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Batang.
Hingga Kamis, 24 September 2026 pukul 03.00 WIB, tercatat sebanyak 219 orang mengalami gangguan kesehatan dalam kasus yang berkaitan dengan layanan MBG di wilayah tersebut.
Di Batang, BGN juga menjatuhkan tindakan terhadap dapur MBG yang menjadi lokasi pelayanan. Keputusan itu diambil setelah pemeriksaan awal menemukan adanya dugaan ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP).
Salah satu temuan berkaitan dengan pengolahan telur. Menurut Ketut, telur telah diolah lebih awal sebelum kemudian dipanaskan kembali beberapa jam setelahnya.
“Berdasarkan pemeriksaan awal, ditemukan adanya sejumlah ketidakpatuhan terhadap SOP termasuk waktu pengolahan telur yang dilakukan lebih awal pukul 19.30 WIB sebelum kemudian dipanaskan kembali pada pukul 02.30 WIB,” ujar Ketut.
Selain persoalan waktu pengolahan, pemeriksaan di SPPG Batang Bawang juga menemukan sejumlah bagian fasilitas yang kondisi kebersihannya perlu mendapat perhatian.
Meski demikian, BGN menegaskan temuan tersebut belum dapat serta-merta dinyatakan sebagai penyebab gangguan kesehatan yang dialami penerima manfaat.
“Kami sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi,” kata dia.
BGN juga menemukan adanya makanan yang dibawa pulang oleh sebagian penerima manfaat. Menurut Ketut, praktik tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam pelaksanaan program MBG.
Karena itu, investigasi tidak hanya diarahkan pada makanan yang dikonsumsi, tetapi juga keseluruhan rantai pengelolaan pangan. Pemeriksaan mencakup sejak bahan baku diterima hingga makanan didistribusikan dan dikonsumsi penerima manfaat.
BGN menyatakan belum akan menarik kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan sebelum seluruh proses pemeriksaan selesai. Hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan faktor yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut.
Rangkaian kasus di Rembang dan Batang sekaligus menempatkan aspek pengawasan dan kepatuhan terhadap SOP sebagai perhatian penting dalam penyelenggaraan MBG, terutama karena program tersebut menyangkut makanan yang dikonsumsi dalam jumlah besar oleh siswa dan penerima manfaat lainnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















