Beranda Nasional Jogja Malioboro Coffee Night #6 Hadirkan 24 Kelompok Tani, Petani Kopi Bisa Transaksi...

Malioboro Coffee Night #6 Hadirkan 24 Kelompok Tani, Petani Kopi Bisa Transaksi Langsung

Dua orang menunjukkan kaus bertuliskan tagline Malioboro Coffee Night #6 yang akan berlangsung pada 29–31 Oktober 2026 di kawasan Malioboro, Yogyakarta | Foto: Istimewa

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Malioboro Coffee Night #6 akan kembali digelar pada 29–31 Oktober 2026 di kawasan Gedung DPRD DIY dan pedestrian Malioboro, Yogyakarta. Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, ajang ini akan lebih menitikberatkan pada transaksi langsung antara petani kopi dan pembeli.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani sekaligus mempertemukan mereka dengan pelaku usaha yang membutuhkan bahan baku kopi berkualitas.

Ketua Komunitas Kopi Nusantara, Wisnu Birowo, mengatakan, selama ini masih banyak petani yang menyimpan hasil panen karena kesulitan menjangkau pembeli. Di sisi lain, pelaku usaha kopi justru menghadapi kendala dalam memperoleh bahan baku.

“Banyak petani masih menyimpan kopi, sementara pelaku usaha kesulitan mendapatkan bahan baku. Kami ingin mempertemukan langsung penjual dan pembeli,” kata Wisnu dalam konferensi pers di Sellie Coffee Malioboro, Selasa (20/10/2026) seperti dikutip dalam rilis ke Joglosemarnews.

Menurut Wisnu, pertemuan langsung antara petani dan pembeli diharapkan dapat memperpendek rantai perdagangan kopi. Dengan demikian, petani memiliki kesempatan lebih besar untuk memasarkan hasil panen sekaligus meningkatkan posisi tawar dalam menentukan harga.

Malioboro Coffee Night tahun ini merupakan penyelenggaraan keenam. Setelah terakhir digelar pada 2023 di Kopi Menara, kegiatan tersebut tidak berlangsung pada 2024 dan 2025.

Ketua Panitia Malioboro Coffee Night #6, Andri, mengatakan, penyelenggaraan tahun ini mengusung format berbeda dengan lebih mengutamakan fungsi perdagangan. Langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya menggembirakan.

Baca Juga :  Geger Penemuan Mayat Perempuan di Pantai Krakal, Identitas Terungkap dari KTP di Jok Motor  

Sebanyak 24 kelompok tani dari berbagai daerah dijadwalkan berpartisipasi. Mereka berasal dari Aceh, Gayo, Lampung, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua. Petani dari Timor-Leste juga disebut akan turut ambil bagian.

Dalam kegiatan tersebut, kopi akan dipamerkan dalam karung-karung yang dilengkapi meja transaksi dan fasilitas pencicipan. Dengan cara ini, calon pembeli dapat mengenali karakter biji kopi sebelum bernegosiasi langsung dengan petani.

Panitia juga menyiapkan mesin sangrai atau roasting untuk membantu proses pengolahan dan pemeriksaan kualitas kopi. Sementara itu, lelang kopi dijadwalkan berlangsung pada hari terakhir penyelenggaraan.

Perkuat Ekosistem Kopi

Andri mengatakan, pengembangan industri kopi tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Tata niaga, kualitas hasil panen, serta penanganan pascapanen juga menjadi faktor penting yang menentukan daya saing kopi Indonesia.

Kualitas kopi, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh proses penyangraian dan keterampilan peracik. Proses budidaya, pemetikan buah, pengeringan, hingga penyimpanan biji turut memengaruhi cita rasa kopi yang dihasilkan.

Karena itu, panitia berharap perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Stiper (Instiper), dapat berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi pascapanen.

Penguatan ekosistem kopi juga dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari petani, pelaku usaha, pemerintah, komunitas, hingga sektor pariwisata.

Panitia menyebut Malioboro Coffee Night #6 mendapat dukungan dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Selain itu, audiensi dengan Ketua DPRD DIY Nuryadi diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi dengan pemangku kepentingan di sektor pertanian dan pariwisata.

Baca Juga :  Tanam Sawit di Lahan Bekas Karhutla, Agronomis: Sama Saja Bunuh Diri

Pemilihan kawasan Malioboro sebagai lokasi kegiatan juga diharapkan mampu mempertemukan produk kopi dari berbagai daerah dengan pasar yang lebih luas. Sebagai salah satu destinasi wisata utama di Yogyakarta, kawasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk memperkenalkan kopi Nusantara kepada masyarakat dan wisatawan.

Pada penutupan acara, panitia bahkan merencanakan deklarasi Yogyakarta sebagai kota kopi.

Melalui tagline “Urip Pahit Ora Podho Karo Kopi Pait”, Malioboro Coffee Night #6 membawa semangat untuk terus bergerak menghadapi berbagai tantangan di industri kopi.

Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai ajang promosi dan pertemuan komunitas, tetapi juga mampu mendorong transaksi perdagangan yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas produk, serta memperbaiki kesejahteraan petani kopi.

Dengan demikian, petani tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga memperoleh posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai industri kopi Indonesia.  [*]

 

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.