loading...


Aksi robot dari Polres Karanganyar dan komunitas PSC saat menggalang dana peduli lansia miskin, Minggu (28/1/2018). Foto/JSnews

KARANGANYAR – Komunitas Pejuang Social Community (PSC) bersama komunitas lain se-Soloraya dan TNI/Polri menggalang aksi unik untuk membantu menyelamatkan lansia di Tohkuning, Karangpandan, Minggu (28/1/2018). Aksi itu digelar dengan menggandeng robot dari personel Polres Karanganyar di arena Car Free Day (CFD).

Hanya beberapa jam saja,  aksi galang dana dari robot itu mampu mengumpulkan Rp1.944.400. Mereka mengamen menggunakan alat musik perkusi dan angklung.

Penggalangan dana dilaksanakan untuk membantu pasangan lanjut usia (lansia) di Dukuh Tohkuning, RT 3/11, Desa Tohkuning, Karangpandan, Mulyadi (65)- Repyoh (55). Pasangan lansia itu tinggal di rumah milik kerabat dan kurang layak.

Baca Juga :  DPRD Restui Polres Karanganyar Usut Kerugian Rp 360 Juta di BUMD Aneka Usaha

“Kami tadi ngamen dibantu anak-anak SMKN 1 Ngargoyoso, komunitas se-Soloraya, TNI, dan Polri. Tadi anggota Satuan Binmas Polres Karanganyar dipimpin Kasat Binmas, AKP Suwarsi, mengeluarkan kostum robot dan lainnya untuk memeriahkan acara dan menarik pengunjung,” kata Koordinator PSC Karanganyar, Marfuah Dwi Nuryanti, Minggu (28/1/2018).

Marfuah menguraikan menurut rencana jika sudah terkumpiul, dana akan dibantukan kepada korban dalam bentuk perlengkapan rumah tangga, kasur, bantal, sembako, dan uang. Donasi akan disalurkan tiga hari mendatang.

Dia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar melalui dinas terkait dapat meneruskan upaya kami membantu salah satu warga lansia di Karanganyar.

Baca Juga :  Siap-siap Panas Dingin, Polres Karanganyar Mulai Telisik Kerugian Rp 360 Juta di Salah Satu BUMD

“Ini upaya kami. Menampilkan seni pertunjukan untuk menghibur masyarakat sembari menggalang dana. Pemkab juga lekas turun tangan menangani mbah Repyoh dan Mulyadi. Tolong pedulikan kesehatan dan kesejahteraan,” jelasnya.

Pasangan lansia yang tinggal di rumah ukuran 8 meter x 4 meter, berdinding batu bata, dan lantai dari tanah yang dipadatkan. Mereka tinggal di rumah tanpa penerangan dan lembab.

Mulyadi sakit setelah jatuh saat bekerja sebagai loper koran sedangkan Repyoh tidak dapat bekerja karena merawat Mulyadi. Mereka selama ini hidup hanya mengandalkan belas kasih warga sekitar untuk bertahan hidup. Wardoyo

Loading...