loading...
Loading...
mojok.co

 

Meme (dibaca mim) sudah tak asing lagi di telinga kita, apalagi di zaman berteknologi  pesat ini. Meme atau kata mim menurut KBBI berarti ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya. Adapun bentuk meme di antaranya gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata atau tulisan-tulisan untuk berbagai tujuan di antaranya mempengaruhi, mengkritik sampai melucu atau menghibur.

Berkaitan dengan pengertian mim, Mohammad Ali Ma’ruf seorang content creator di mojok.co mengatakan mim itu adalah suatu pola budaya yang melipatgandakan sesuatu dengan segala macam bentuk, isi, dan tujuannya. Salah kaprahnya orang-orang mengatakan bahwa mim itu sering kita lihat di media-media sosial seperti instagram, dan lainnya. Yang hanya menampilkan satu foto kemudian diberikan semacam buble text. Padahal mim memiliki banyak macam, baik dari modelnya, isinya, dan lain sebagainya. Salah satu contohnya adalah seperti fenomena yang cukup viral pada akhir tahun 2017 yaitu “sebelum 2017 berakhir, tolong beri first impression kalian terhadap aku.

“Hal ini dilakukan berlipat ganda dan tidak hanya satu orang yang melakukannya, fenomena ini juga termasuk dari mim.” terang Ali.

Baca Juga :  Maret 2020, Bandara Adisutjipto Boyongan ke Bandara YIA Kulonprogo
Mohammad Ali Ma’ruf

Seperti yang sering kita ketahui, mim dibuat berdasarkan isu-isu politik, kritikan sosial, lelucon, atau bahkan menyindir pihak-pihak tertentu. Iqbal Ramadhan seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengartikan bahwa sebenarnya mim merupakan gerakan visual sebuah perlawanan atau sindiran. Tetapi saat ini, masyarakat cenderung menggunakan mim untuk bahan bercandaan dan di sisi lain sebagai tempat untuk perpolitikan.

Konsep mim, dibuat tidak hanya mengandung hal-hal yang terkesan lucu saja dan bentuknya juga tidak selalu seperti komik. Tetapi ada juga mim yang ditujukan sebagai ajang kreativitas dan kritikan seseorang terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai.

Mohammad Ali Ma’ruf menambahkan bahwa tingkat kreativitas dalam sebuah pembuatan mim itu ditandai dengan mempunyai ruang dan waktu. Mengingat bahwa membuat mim termasuk aktivitas mendesain dengan ide-ide atau gagasan dari kita. “

“Kreatif atau tidaknya itu tergantung ruang dan kontennya seperti apa. Kemudian mim tidak melulu tentang kreativitas tetapi juga kritis dan guyonan,”ujarnya.

Baca Juga :  Mahasiswa Sastra Daerah UNS Boyong 3 Piala dalam  Imbasadi 2019 di USU 

Dampak yang dihasilkan dari mim itu sendiri tidak hanya muncul segi positif saja tetapi juga segi negatif. Positifnya, masyarakat jadi tau informasi-informasi yang sedang viral saat itu, sedangkan negatifnya  apabila mim itu disalahgunakan akan mengakibatkan target audiennya  bermasalah, bahkan bisa berujung penjara bagi pembuat mim.

Oleh karena itu, harapannya  pembuatan mim ke depannya lebih cerdas. Memperhatikan konten dengan baik, serta tidak melanggar Undang-Undang, maupun  norma dan agama yang berlaku. (Tim B Akademia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta /Arif Nur Aziz/ Fathoni AsharI/ Venty Erla Erwanda/ Fina Rudati / Faza Aulia).

 

Loading...