JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Jalani Terapi Sengatan Lebah, Wanita Ini Malah Tewas

Ilustrasi/Tribunnews

Demi mendapatkan kesembuhan, banyak orang melakukan pengobatan alternatif. Di antaranya banyak yang cocok dengan pengobatan seperti ini, namun tidak sedikit yang kurang berhasil.

Bisa terjadi, pengobatan  alternatif yang sifatnya ekstrem justru bisa berisiko tinggi, seperti kisah wanita di bawah ini. lantaran ingin sembuh dari penyakitnya, wanita 55 tahun asal Spanyol ini memilih akupunktur lewat sengatan lebah.

Bukannya sembuh, ia justru meninggal karena reaksi alergi dari akupunktur yang dilakoninya.

Tak ingin hal yang sama kembali terjadi, Paula Vazquez-Revuelta dan Ricardo Madrigal-Burgaleta periset dari Ramon y Cajal University Hospital, Spanyol, mengangkat kasus ini ke dalam sebuah penelitian.

Diharapkan laporan yang terbit di Journal of Investigational Allergology and Clinical Immunology dapat menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan memilih pengobatan alternatif.

Baca Juga :  Kabar Gembira, Arab Saudi Buka Kembali Layanan Umroh secara Bertahap. Jemaah Luar Negeri Diizinkan Datang Mulai 1 November 2020

Wanita malang ini telah menjalani teknik akupunktur sengatan lebah atau dikenal dengan apitherapy selama dua tahun setiap satu bulan sekali.

 

“Dia memutuskan menjalani apitherapy untuk memperbaiki kontraksi otot dan stres. Dia tak memiliki catatan punya penyakit lain, faktor risiko, atau reaksi dalam bentuk apa pun sebelumnya,” tulis penjelasan dalam laporan tersebut, dilansir Science Alert, Senin (19/3/2018).

“Selama sesi apitherapy, suara napasnya tidak teratur (akibat penyumbatan di saluran dada), sesak, dan tiba-tiba kehilangan kesadaran.”

Paparan berulang terhadap alergen, dalam kasus ini racun lebah, dapat menciptakan risiko reaksi alergi yang lebih besar daripada yang terjadi sebelumnya.

Saat tak sadarkan diri, perempuan ini langsung dilarikan ke rumah sakit dan diberi beberapa obat untuk menghentikan reaksi, seperti adrenalin atau hormon yang memicu reaksi terhadap tekanan dan juga antihistamin atau obat untuk alergi.

Baca Juga :  Studi Profesor di Universitas AS Klaim Ada Kemungkinan Wabah Demam Berdarah Hambat Penyebaran Covid-19

Beberapa minggu kemudian, wanita ini justru meninggal di rumah sakit karena kegagalan beberapa organ.

Para penulis penelitian menegaskan, kasus ini adalah bukti nyata dari dampak praktik apitherapy. Bahkan, penulis mengatakan ini bukan kasus yang pertama.

“Risiko menjalani apitherapy dapat melebihi manfaat yang didapatkan. Praktik pengobatan alternatif ini tidak aman dan sangat tidak disarankan,” ujar Vazquez-Revuelta dan Madrigal-Burgaleta dalam laporannya.

Saat itu peneliti melaporkan bahwa apitherapy sangat berisiko menyebabkan efek samping sampai 261 persen dibanding suntikan garam biasa.

www.tribunnews.com