JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kisah Penderitaan Warga Masaran Sragen Yang Merasa Jadi Tumbal Proyek Tol Soker..

SRAGEN- Warga 11 RT di Desa Masaran,  Kecamatan Masaran,  Sragen merasa menjadi tumbal pembangunan Protek Tol Solo-Kertosono (Soker).

Pasalnya sejak kehadiran Tol Soker,  ratusan warga di wilayah itu kini digantui kecemasan lantaran sering terjadi banjir. Sejumlah warga menuturkan kehadiran Tol Soker seolah menjadi mimpi buruk bagi warga di 11 RT di Masaran. Pasalnya saluran pembuangan air yang tertutup tanggul dan overpass Pringanom Masaran,  sebagian dimatikan tanpa penanganan sedang yang dibuat hanya saluran dengan kapasitas kecil.

Derita itu diungkapkan salah satunya oleh Didik,  Ketua RT 19, Dukuh Rejowinangun,  Masaran di sela demo blokir tol Selasa (3/4/2018). Meski ia tinggal agak jauh dari overpass Pringanom, kampungnya yang dulu adem ayem, kini ikut terdampak banjir tiap hujan deras mengguyur.

Semua itu tak lepas dari buruknya pengelolaan saluran pembuangan air yang tertutup oleh tol dan tak dibuatkan saluran sebagaimana mestinya.

“Akibatnya saluran di sini macet sehingga begitu hujan deras air menumpuk dan nggak bisa terbuang ke sungai. Sehingga menjadi banjir bandang. Karena di titik Pringanom ini yang paling rendah tersumbat,  akhirnya wilayah kami yang di atas juga ikut macet. Hujan sedikit saja,  sekarang jadi banjir, ” paparnya.

Sejak adanya Tol Soker 2016, Didik yang juga sekuriti DPRD Sragen itu mencarat sudah berulangkali banjir melanda wilayahnya. Yang terbesar adalah banhir 2016 dan terakhir di 2018 lalu.

Di mana kala itu,  air menggenangi jalan perkampungan hingga ketinggian saty meter dan masuk ke rumah warga.

Baca Juga :  Kabar Duka Sragen, Ibu Asal Bedoro Sambungmacan dan Satu Warga Ngebung Kalijambe Meninggal Dunia Terpapar Covid-19. Begini Riwayatnya!

Bahkan saat banjir 2018, ada tiga rumah yang terendam air hingga ketinggian 70 sentimeter.

“Dulu nggak pernah ada banjir. Kemarin jalan kampung sudah satu meter sampai mobil aja nggak berani lewat, ” tukasnya.

Ia memandang warga seakan hanya ibarat tumbal saja lantaran secara langsung tak menikmati proyek tol,  akan tetapi justru kebagian sengsara karena jadi langganan banjir.

Karenanya,  jika pengelola tol tak segera memenuhi kesanggupan membangun saluran dan sudetan seperti yang dijanjikan, warga pun siap untuk berjuang sampai titik penghabisan.

“Dari kami warga RT 19 juga sama dengan warga lainnya. Tuntutan kami hanya ingin kesepakatan pembangunan saluran yang disanggupi paling lambat akhir Maret itu segera direalisasi. Termasuk hari ini kami terpaksa turun ke jalan lagi biar mereka tahu keluhan masyarakat kecil yang biar didengarkan. Karena kami ini seakan-akan hanya jadi tumbal saja, ” tukasnya.

Didik menyampaikan jika tuntutan tak jua direalisasi,  warga sudah siap melakukan aksi turun ke jalan.  Bahkan sekalipun tol sudah selesai,  warga tak segan untuk turun memblokirnya.

“Apapun resikonya karena dari pengembang sepertinya nggak memperhatikan hak-hak warga kecil, ” urainya.

Senada,  perangkat Desa Masaran, Jumadi yang juga terdampak banjir menambahkan selama 19 tahun tinggal di Masaran, hampir tak pernah ada banjir sebesar 2016 dan 2018.

Hal itu karena sebelumnya gorong-gorong dan saluran memadai dan pembuangan air lancar.

“Dulu begitu hujan deras,  paling beberapa menit langsung hilang. Sekarang karena air menumpuk di sini sedangkan salurannya tertutup tol dan overpass,  akhirnya air tersumbat dan memicu banjir.  Jalan Tol ini malah seolah jadi pembendung yang membuat air menumpuk. Padahal sini jadi wilayah terendah dan air dari semua arah menumpuk. Bahkan kemarin ketinggian air waktu banjir di jalab kampung sampai 70 sentimeter,” tutur pria yang menjabat sebagai Kaur tersebut.

Baca Juga :  Berikut Daftar 5 Warga Sragen Yang Meninggal dan Positif Covid-19 Hari Ini. Ada Yang Pulang dari Papua!

Aksi demo juga dikawal anggota DPRD asal Masaran, Sugimin yang jalan kampungnya juga berubah jadi langganan banjir sejak ada Tol Soker.  Legislator asal Golkar itu meminta PT SNJ selaku pengelola Tol Soker untuk konsisten menindaklanjuti kesepakatan yang sudah dibuat terkait tuntutan warga. Sebab pada pertemuan terakhir,  PT SNJ, Waskita dan Virama Karya di hadapan warga sudah menyanggupi akan menyelesaikan pengerjaan gorong-gorong dan sudetan RCV U dengan tidak mematikan saluran yang ada tapi malah dilebarkan agar air bisa terbuang.

“Kami berharap secepatnya direalisasi karena sudah ada kesepakatan. Warga prinsipnya mendukung proyek Tol Soker karena ini juga program nasional dan untuk kepentingan masyarakat juga.  Tapi tolong hak dan aspirasi warga yang kebanjiran ini juga jangan diabaikan. Karena seumur-umur wilayah kami banjir ya baru sejak adanya Tol ini, ” tukasnya.

Sementara setelah ditunggu,  perwakilan PT SNJ,  Johan akhirnya tiba. Di hadapan warga ia berjanji akan segera mengerjakan kesepakatan dalam waktu seminggu.  Sementara Humas PT Waskita,  Budi Purnomo mengatakan pihaknya hanya sebagai pelaksana saja dan sejauh ini belum mendapat perintah dari PT SNJ. Wardoyo