JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Semarang Jadi Masa Depan Pulau Jawa, Ini Argumennya

Ilustrasi/Tribunnews

SEMARANG – Kota Semarang berpotensi menjadi masa depan perekonomian Pulau Jawa. Bukan Bandung atau Surabaya. Hal itu karena banyak potensi yang dimiliki Kota Semarang dan tidak dimiliki kota lain.

Demikian dikemukakan pengusaha muda yang juga CEO PT Laxita Paramitha Group Guntur Raditya Wardhana dalam diskusi Semarang Trending Topic-Membangun Indonesia Lebih Baik bertema “Semarang Sekarang, Dalam Fase of Doing Business”, Kamis (26/4/2018), di Patra Hotel & Convention Semarang.

Selain Raditya, dalam acara yang digelar Radio Idola Semarang bekerjasama dengan Pemkot Semarang dan Akavia Lifemark itu, hadir narasumber, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesra Pemkot Semarang Ayu Entys, dan ekonom Unika Soegijapranata Angelina Ika Rahutami.

“Masa depan Pulau Jawa bukan lagi di Jakarta atau Surabaya tapi Semarang. Sehingga, sudah waktunya pengusaha pindah ke Kota Semarang,” katanya, Kamis (26/4/2018).

Kenapa seperti itu, menurut Radit, karena ketimpangan UMK di Jakarta dan Surabaya tinggi sekali. Sehingga otomatis, industri banyak bergeser ke Semarang.

“Masalahnya, ketika industri berniat ke sini apakah pemerintahnya sudah siap untuk menangkapnya?” ujarnya.

Baca Juga :  DPRD Kudus Pacu Realisasi Pembangunan Sekolah Unggulan di Masing-masing Kecamatan

Radit mengemukakan, kalau pemerintah siap untuk menangkap, ia yakin dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, Semarang akan menyamai Jakarta dan Surabaya.

Ini potensi keuntungan luar bisa yang bisa diperoleh pengusaha tapi harus sinergi dengan pemerintah.

“Pemerintah harus menjamin kemudahan berbisnis, perizinan, dan ketersediaan infrastruktur dan lain sebagainya,” ujarnya.

Dia menyatakan, saat ini banyak kemudahan ketika mengurus bisnis di Kota Semarang. Ia mengaku, pertama berbisnis di Kota Semarang kaget. Sebelumnya biasa berbisnis di Yogyakarta dan Jakarta yang cenderung cukup panjang proses perizinannya.

“Di Semarang gampang banget,” ujarnya.

Dia mencontohkan, pengajuan IMB 6 bulan sudah selesai biasanya jika developer bisa sampai 1 hingga 2 tahun. Kemudian, urus surat-surat penebangan pohon, penyambungan jalan masuk dan sebagainya.

“KRK gak nyampai 2 minggu kelar. Komitmen Pak Wali (Hendrar Prihadi-red) luar biasa. Yang terjadi di Semarang sekarang ini kemudahan-kemudahan itu sangat terasa. Dalam ease of doing business jauh lebih mudah daripada kota-kota lain,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan, Pemkot terus mencoba menarik investasi dengan cara memperbaiki kondisi. Mulai dari percepatan perizinan hingga menjamin kepastian hukum.

Baca Juga :  Pandemi Picu Para Pemuda Karang Taruna Ini Program-program Simpatik

“Itu kita jadikan komitmen dalam melayani investor. Alhamdulillah, semakin hari semakin banyak investor yang masuk ke kota Semarang,” kata Hendi melalui sambungan telepon.

Sementara itu, Menurut Ayu Entys, Kota Semarang itu unik mulai dari tipografi hingga perilaku masyarakatnya.

Laju pertumbuhan ekonomi dalam 5 tahun terakhir memang sempat turun pada posisi terendah pada tahun 2015. Meksipun turun tapi tetap di atas Jawa Tengah dan Indonesia.

“Pertemuan hari ini semoga menjadi semangat para pengusaha di Semarang,” ujarnya.

Saat itu, capaian pada 2016 dan 2017 mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Posisi laju pertumbuhan ekonomi hari ini mencapai 5,81. Angka tersebut lebih baik dibanding Provinsi Jawa Tengah sebesar 5,21 dan nasional 5,07.

“Artinya, apa yang disampaikan pengusaha, ini sebagai indikator kami untuk mengeluarkan kebijakan,” tandasnya.

Ia menginformasikan, investasi yang masuk di Kota Semarang saat ini hampir Rp 30 triliun padahal sebelum tahun 2010 masih di bawah Rp 1 triliun. Ini membuktikan bahwa laju pertumbuhan perekonomian di Kota Semarang terus tumbuh berkembang. # Tribunnews