WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Siapa sangka di sudut selatan Kabupaten Wonogiri tersimpan sebuah dusun yang menyimpan kisah alam jutaan tahun lalu. Tak hanya menawarkan panorama perbukitan karst yang memanjakan mata, kawasan ini juga berdiri tepat di bekas aliran Bengawan Solo Purba yang menjadi salah satu jejak geologi paling menarik di Indonesia. Inilah Dusun Mendak di Desa Petirsari, Kecamatan Pracimantoro, destinasi wisata yang mulai mencuri perhatian karena keindahan alam, kehidupan masyarakatnya yang masih alami, hingga pengalaman menginap di tengah desa yang tenang.
Potensi wisata tersebut membuat Forkopimcam Pracimantoro melakukan kunjungan langsung ke Desa Wisata Dusun Mendak pada Jumat (3/7/2026). Kegiatan diawali dengan apel dan pengarahan di area parkir Gapura Museum Karst yang dipimpin Plt Camat Pracimantoro, Agustina Wulandari.
Dalam arahannya, Agustina menegaskan bahwa potensi wisata desa harus terus dijaga, dikembangkan, sekaligus dipromosikan secara berkelanjutan. Menurutnya, wisata berbasis masyarakat dapat menjadi penggerak ekonomi desa selama tetap menjaga kelestarian alam, budaya, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
“Potensi wisata yang dimiliki desa harus terus dirawat bersama. Pengembangan wisata harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa menghilangkan identitas budaya dan kelestarian lingkungan,” ujar Agustina.
Usai pengarahan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Dusun Mendak. Perjalanan menuju lokasi menjadi pengalaman tersendiri. Hamparan perbukitan kapur, lembah hijau, udara pegunungan yang sejuk, hingga suasana pedesaan yang jauh dari kebisingan kota langsung menyambut setiap pengunjung.
Setibanya di dusun, rombongan disuguhi pemandangan pedesaan yang masih sangat alami. Pepohonan rindang, udara bersih, serta suasana yang tenang menghadirkan sensasi slow living yang kini mulai banyak dicari wisatawan. Tidak sedikit pengunjung mengaku betah hanya dengan menikmati suasana tanpa harus melakukan aktivitas khusus.
Dusun Mendak sendiri masih mempertahankan kehidupan masyarakat yang sangat lekat dengan budaya gotong royong. Warga hidup berdampingan dengan alam, menjaga tradisi, serta mempertahankan nilai-nilai kebersamaan yang kini mulai jarang ditemukan di perkotaan. Dusun ini dihuni 28 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 106 jiwa.
Keunikan kawasan ini sudah terasa sejak memasuki gerbang dusun. Tepat di pintu masuk terdapat Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berdampingan dengan pohon asam purba berusia puluhan bahkan diperkirakan ratusan tahun. Pohon raksasa tersebut menjadi ikon sekaligus saksi perjalanan panjang kawasan ini hingga kini.
Tak hanya menyuguhkan panorama alam, Dusun Mendak juga telah menyediakan homestay bagi wisatawan yang ingin menikmati kehidupan masyarakat desa secara langsung. Menginap di rumah warga menjadi pengalaman berbeda karena wisatawan dapat merasakan aktivitas sehari-hari masyarakat, menikmati kuliner tradisional, hingga merasakan suasana malam pedesaan yang tenang tanpa hiruk-pikuk kendaraan.
Menariknya lagi, kawasan wisata ini berada di wilayah bekas aliran Bengawan Solo Purba yang memiliki nilai geologi sangat tinggi. Jalur purba tersebut membentang hingga kawasan Wotawati, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dahulu, Bengawan Solo mengalir ke arah selatan dan bermuara di Pantai Sadeng. Namun akibat proses pengangkatan lempeng bumi yang terjadi jutaan tahun silam di kawasan Gunungkidul, Wonogiri, hingga Pacitan, arah aliran sungai berubah total menjadi ke utara seperti yang dikenal saat ini.
Jejak sejarah alam tersebut masih dapat dikenali melalui lembah-lembah memanjang, cekungan luas, tebing karst, hingga deretan bukit yang mengelilingi kawasan seperti mangkuk raksasa. Bentang alam inilah yang menjadikan kawasan Pracimantoro memiliki daya tarik tersendiri bagi peneliti, pecinta geologi, fotografer alam, hingga wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Wonogiri.
Tak jauh dari Dusun Mendak, terdapat kawasan Dusun Bakagung yang juga berada di bekas lintasan Bengawan Solo Purba. Nama Bakagung sendiri berasal dari kata “bak” yang berarti wadah dan “agung” yang berarti besar. Nama tersebut menggambarkan kondisi geografis dusun yang berada di cekungan panjang bekas aliran sungai purba dan dikelilingi bukit-bukit hijau seperti Song Abang dan Song Mur.
Perjalanan menuju Bakagung menghadirkan panorama khas kawasan karst yang sangat memikat. Dari pusat Kecamatan Pracimantoro, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Balai Desa Sumberagung, kemudian mengikuti papan penunjuk arah menuju dusun sejauh sekitar tiga kilometer.
Tidak ada kemacetan, tidak ada kebisingan kendaraan, yang terdengar hanya suara burung, desir angin, dan aktivitas masyarakat yang berlangsung dengan sederhana.
Menurut Kepala Dusun Bakagung, Eko Arianto, wilayahnya dihuni sekitar 46 kepala keluarga atau sekitar 220 jiwa. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani tadah hujan dengan komoditas utama berupa padi, jagung, dan kacang tanah.
Karakter tanah bekas Bengawan Solo Purba juga menyimpan fenomena unik berupa banyaknya luweng atau lubang alami khas kawasan karst yang berfungsi sebagai drainase alami. Pada tahun 2017, hujan deras selama tiga hari tiga malam sempat menggerus sebagian lahan pertanian hingga membentuk sinkhole. Meski demikian, permukiman warga tetap aman dan hingga kini kawasan tersebut tidak pernah mengalami banjir.
Keindahan alam dan cerita geologi yang dimiliki kawasan ini mulai menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah. Banyak pengunjung datang karena penasaran ingin melihat langsung bekas aliran Bengawan Solo Purba. Bahkan tidak sedikit yang memilih menginap agar bisa menikmati suasana pedesaan secara lebih lama.
Sebagai bagian dari kawasan Geopark Gunung Sewu, potensi wisata Dusun Mendak dan Bakagung masih sangat terbuka untuk terus dikembangkan. Selain wisata alam dan geologi, masyarakat juga memiliki peluang mengembangkan produk ekonomi kreatif berbasis hasil bumi.
✓ Getuk singkong tradisional
✓ Utri khas pedesaan
✓ Jemblem
✓ Keripik singkong aneka rasa
✓ Olahan jagung lokal
✓ Produk berbahan kacang tanah
Dengan perpaduan bentang alam purba, kehidupan masyarakat yang masih autentik, udara sejuk, homestay, hingga kekayaan budaya lokal, Dusun Mendak dan Bakagung memiliki modal besar menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Wonogiri. Bagi pencinta wisata alam, geowisata, fotografi, maupun wisata budaya, kawasan ini menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Bukan hanya menikmati panorama, tetapi juga menyusuri jejak Bengawan Solo Purba yang telah membentuk wajah selatan Pulau Jawa sejak jutaan tahun lalu. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















